
Bab. 28
Naka benar-benar melakukan step by step yang Gibran arahkan kepada dirinya. Tidak satu momen pun Naka skip, hingga di bagian puncak dari pemanasan yang dua lakukan, Naka menyeret tubuh Gina yang sudah terbebas dari penghalang dan juga hasrat gadis itu juga sama-sama berada di puncak, Naka menyeretnya hingga berada di pinggiran ranjang. Sedangkan dirinya memilih berdiri di sana.
"Kita sudah saja, Mas. Ini terlalu jauh," ujar Gina dengan suara gemetar ketika mendapat kesadarannya dan otaknya bisa berpikir normal.
Berulang kali Gina merutuki apa yang dilakukan oleh Naka juga menyesal mengenai keputusannya yang ingin membantu Naka sembuh dari penyakit kelainan nya.
Akan tetapi Gina mendapatkan sesuatu yang sangat mengejutkan hari ini. Rupanya Naka tidak benar-benar impoten. Lihat saja sekarang, Naka begitu lihai memainkan tangan serta mulut pria itu di atas permukaan kulitnya. Entah di bagian mana saja. Yang jelas mampu membuat Gina tidak bisa menghentikan desahannya dan selalu bergerak gelisah ketika sesuatu di dalam dirinya ingin keluar.
Ini pertama kalinya Gina merasakan sentuhan juga sensasi yang sangat menggelikan, tetapi di sisi lain dia juga menginginkan sentuhan lebih dari ini. Sialan memang tubuhnya. Lain di nalar, lain juga dengan reaksi yang diberikan oleh tubuhnya. Bisa dibilang tubuhnya berkhianat dari nalarnya.
Apa kalian pikir Naka mendengarkan ucapan Gina? Sedangkan pria itu berada di paling ujung anunya? Oh, tentu saja tidak, Esmeralda! Naka semakin mendekatkan intinya, dan bahkan mengusapkan kepala helm kenyal itu tepat di atas permukaan mulut Gina yang tampak tidak jauh berbeda indahnya dari yang atas. Ah ... merah merona dan sangat bersih. Jelas semakin mematik kobaran hasrat dalam diri Naka.
Ingin kembali memainkannya dengan lidah, namun ia harus segera menuntaskan ini. Sebelum ada gangguan dan membatalkan ritual pelepasan keperjakaannya serta perayaan untuk barangnya yang bisa bangun kembali.
"Tenang aja, kata Gibran dengan gaya ini nggak bikin sakit dan cepet nembusnya," ujar Naka seraya menaikkan kedua kaki Gina dan menyandarkan kedua kaki itu di bahunya.
Sedangkan Gina berusaha memberontak dari rasa nikmat itu. Padahal masih luarannya saja yang di usap, namun rasanya ... Gina tidak bisa mendeskripsikan dengan sebuah kata.
"Ck! Ranjangnya kurang tinggian dikit. Besok biar Irham beli yang baru. Sekarang diganjal dulu makai bantal, biar aman." dumel Naka ketika ia merasa kurang nyaman posisi Gina yang terlalu rendah untuknya.
__ADS_1
Dan ketika Naka mengambil bantal buat ditaruh di belakang Gina, terdengar suara dering dari ponselnya. Hal itu Gina manfaatkan untuk kabur dari pria ini. Meskipun tidak memungkiri ia juga sangat menginginkannya, akan tetapi hatinya masih merasa berat menyerahkan sesuatu yang paling ia jaga selama ini kepada Naka.
Naka tahu itu dan segera memegang pinggul Gina kuat kuat, mengabaikan ponselnya yang masih berdering.
"Angkat dulu, Mas," ujar Gina mencoba keberuntungan.
Naka menggelengkan kepala tegas. "Nggak. Kamu jangan memanipulatif situasi."
Gina memejamkan matanya begitu erat ketika kepala helm kenyal itu menyentuh bagian privasinya lagi. Mengusap lembut lalu sedikit ditekan. Membuat pinggulnya tergerak naik secara refleks.
Pria yang berada dalam kabut hasrat yang begitu membara, juga memejamkan matanya. Menikmati sensasi yang baru pertama ia rasakan. Ingin merasakan lebih, Naka pun semakin menekannya.
Mungkin karena ini baru pertama bagi mereka, sehingga sedikit susah dan kaku. Meskipun sudah diberi arahan serta teori dari Gibran, namun ternyata pada saat prakteknya secara langsung, lumayan susah juga. Harus mengatur napas dan juga memperhatikan kondisi lawan mainnya.
"Udah, nggak ada gangguan lagi," ucapnya penuh percaya diri.
Pria yang sudah kebelet banget buat ngetes miliknya tangguh apa tidak, kembali memposisikan posisi tubuhnya seperti tadi.
Gina yang benar-benar sudah bisa berpikir normal pun sedikit memberi perlawanan. Mendorong tubuh Naka ketika pria itu kembali memaksa masuk, sedang dirinya sudah tidak berselera lagi.
"Jangan kasar kayak gitu! Sakit!" cegah Gina menjauhkan miliknya.
__ADS_1
"Ya makanya kamu diem. Jangan ikutan gerak-gerak."
Dan ketika terjadi perdebatan di antara mereka, terdengar sebuah ketukan di pintu yang sangat berisik. Membuat keduanya sontak menoleh ke arah pintu apartemen Naka.
Gina langsung mencari selimut atau baju yang berada di dekatnya, lalu menutupi sebagian tubuhnya dengan posisi kaki masih berada di bahu Naka.
"Kamu undang teman-teman kamu?" tuduh Gina dengan tatapan tajam ke arah Naka. Tidak menyangka jika pria ini akan melakukan ramai-rsmai dengan temanya.
Naka menggeleng cepat. "Nggak!" jawab Naka. "Mana mungkin aku ajak mereka kalau aku sendiri belum pernah lakuin ini. Sedangkan mereka udah kenyang banget sama beginian." lirihnya di akhir kalimat.
"Lalu itu siapa?" Gina mulai panik.
Naka menghembuskan napas kasar. Karena tidak mungkin mereka melanjutkan kegiatan yang tertunda ini, lantas pria itu menjauh dari Gina dan melangkah menuju lemari nya. Mengambil kaos serta celana yang baru, lalu juga mengambilkan kaso miliknya dan ia berikan kepada Gina.
"Jangan keluar kamar, tanpa perintah dariku." tekan Naka ketika selesai membantu Gina mengenakan kaos miliknya. Ya, hanya kaos saja tanpa memberi pakaian dal4m gadis itu. Kemudian Naka melangkah keluar setelah mengecup kening Gina.
Gina menurut tanpa membantah. Gadis itu memilih menaikkan selimut yang dia pakai. Mau memakai celana pun, miliknya sudah tidak berbentuk, korban dari kebringasan Naka yang kesetanan tadi. Sementara dirinya sekarang berada di kamar Naka.
"Aku bakal membunuh orang yang sudah berani mengganggu ritual pentingku." geram Naka sambil menuju ke arah pintu dan membukanya.
Klek.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Naka ketika melihat seseorang yang berada di depan pintu apartemennya. Hingga dengan refleks pria itu menutup pintunya lagi dengan gerakan yang begitu kencang.
"Gawat!"