Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 21


__ADS_3

Maria tersenyum menyeringai mendengarkan ucapan Ratna barusan. Ingin dia ceburkan perempuan itu ke kolam renang supaya sadar diri dan gak terbawa mimpi terus-terusan.


"Kenapa kamu malah senyum, Maria? Apa kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan sekarang?"


"Aku tersenyum bukan karena tidak mengerti dengan apa yang kamu rasakan, Ratna. Tapi, aku tersenyum karena geli melihat kamu yang tidak bisa memahami apa yang aku katakan padamu tadi. Aku sudah bilang, bukan? Aku belanja karena aku butuh, bukan karena aku sengaja ingin belanja. Mengerti?"


"Kamu ... kamu kok gitu sih ngomongnya padaku sekarang? Kamu gak anggap aku sahabat kamu lagi, ha?"


"Aku anggap kamu sahabat, Ratna. Jika tidak, mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya."


Ratna melebarkan matanya mendengar ucapan Maria barusan.


"Apa maksud kamu, Maria?"


Maria tersenyum sambil menepuk pelan pundak Ratna.


"Tidak ada maksud. Hanya bercanda saja. Mm ... aku lelah, kamu bisa keluar dulu sekarang? Aku ingin istirahat sebelum bersiap-siap untuk ke kediaman kak Arkan."


"Oh iya, aku lupa kalau malam ini kamu ada acara makan malam pribadi dengan Arkan. Mm ... silahkan istirahat, Maria. Panggil saja aku jika kamu sudah mau bersiap-siap nanti ya."


Wajah Ratna mendadak terlihat bahagia saat tahu soal rencana makan malam yang akan Maria lakukan malam ini. Maria menaikkan satu alisnya. Dia ingat penggalan alur yang menceritakan tentang Maria yang datang ke acara makan malam dengan dandanan yang sangat menor luar biasa.


Semua itu penyebabnya adalah Ratna. Ratna mendadani Maria dengan dandanan yang begitu tebal juga baju yang sama sekali tidak cocok dengan tubuh Maria. Maria dijadikan bahan obrolan oleh semua orang karena ulah Ratna itu.


Hal itu semakin membuat Arkan merasa jengkel pada Maria. Juga semakin memperkuat pendapat yang orang katakan tentang Maria. Maria si gadis manja yang bodoh, ceroboh, juga tidak tahu aturan. Arkan semakin membenci Maria karena hal itu.


Maria tersadar saat Ratna mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Maria yang sedang melamun.


"Hei, Maria. Kok bengong sih? Ayo kita bongkar semua barang yang kamu beli ini. Kita akan pilih baju yang paling cocok untuk kamu pakai."

__ADS_1


Belum sempat Maria menjawab apa yang Ratna katakan, Ratna malah duluan bergerak. Tangannya sibuk membongkar satu persatu paper bag yang ada di atas kasur itu.


"Ya ampun, ini sama sekali gak cocok sama kamu, Maria. Sudah aku katakan, kalau belanja itu ajak aku. Jadi, aku bisa pilih yang mana yang pas buat kamu dan yang mana yang tidak."


"Nah, kalo gini kan jadi mubazir. Apa yang kamu beli ini gak ada satupun yang cocok buat kamu," ucap Ratna sambil bangun dengan menjinjing semua belanjaan Maria di tangannya.


"Tapi ... kamu tenang saja. Tidak perlu cemas soal apa yang harus kamu pakai untuk makan malam nanti. Karena aku selalu bisa kamu andalkan buat menolong kamu disaat kamu sedang kesusahan."


Maria tersenyum geli ketika mendengar ucapan Ratna barusan.


'Andalkan? Andalkan buat menghancurkan aku, iya.' Maria berucap dalam sambil terus memperhatikan tingkah Ratna.


"Tidak perlu berterima kasih, apalagi merasa berhutang budi padaku, Maria. Karena kita adalah sahabat. Itulah gunanya sahabat, bukan? Saling membantu satu sama lain."


"Mm ... kamu tunggu di sini, aku akan kembali secepatnya," ucap Ratna sambil melangkah.


Sontak, langkah Ratna langsung terhenti karena ucapan Maria barusan. Dia langsung menoleh ke arah Maria yang sedang berdiri beberapa langkah di belakangnya.


"Iya. Ada apa, Maria? Apa yang ingin kamu katakan lagi padaku? Apa soal make-up? Atau ... soal apa? Katakanlah."


"Aku ingin bertanya soal barang-barang ku yang


ada di tangan mu sekarang. Mau kamu bawa ke mana barang-barang itu, Ratna?" Maria bertanya dengan nada yang sangat lembut. Bukan aslinya lembut, tapi dia berusaha bersikap selembut mungkin untuk memberi pelajaran pada Ratna sekarang.


"Aku akan bawa barang-barang ini ke kamarku. Aku pikir, dari pada mubazir di sini, lebih baik aku yang ambil. Iyakan?"


"Kenapa harus mubazir di sini? Siapa yang bilang kalau barang-barang itu akan mubazir di kamarku?"


"Maria. Tadi kan aku sudah bilang kalau barang-barang ini sangat tidak denganmu. Jadi, aku bawa saja. Karena aku yakin, kamu tidak akan mempermalukan dirimu dengan memakai apa yang tidak cocok kamu pakai."

__ADS_1


"Aku memang tidak akan mempermalukan diriku, Ratna. Jadi, kamu tenang saja. Kamu bisa keluar dari kamarku, tapi tidak dengan membawa semua barang-barang ku. Jikapun aku tidak cocok dengan semua barang itu, bukan berarti kamu bisa mengambil semuanya begitu saja, bukan?"


Selesai berucap, Maria langsung mengambil kembali semua paper bag yang ada di tangan Ratna. Tanpa bisa berucap, apalagi membantah dengan apa yang Maria lakukan, Ratna hanya bisa diam dengan menahan rasa malu.


Malu? Entah malu atau tidak percaya. Yang jelas, Ratna sepertinya sudah tidak punya rasa malu. Jadi, dia tidak akan merasakan malu sedikitpun.


"Maria. Kamu kok jadi perhitungan gini sih sama aku sekarang? Kasi aku saja barang-barang yang tidak kamu pakai. Kan lebih baik dari pada mubazir padamu. Toh, padamu gak akan kepakai juga, kan?"


"Sebagai teman baikmu, aku tidak akan pernah merasa direndahkan jika aku menerima barang-barang yang tidak terpakai dari kamu. Aku malahan merasa sangat senang lho, Maria."


Maria tersenyum sangat geli mendengar ucapan itu. Tiba-tiba, satu ide muncul di benak Maria saat ini.


"Ah, benarkah apa yang kamu katakan, Ratna? Kamu suka barang-barang bekas ku yang tidak terpakai?"


Ratna mengangguk dengan wajah yang bahagia. Sangat bahagia juga penuh harap.


"Tentu saja, iya."


"Bagus deh kalo gitu, aku jadi gak harus pusing mikir di mana aku mau buang sampah. Kamu tunggu di sini, aku akan ambil barang-barang yang tidak aku pakai lagi."


Tidak menunggu jawaban dari Ratna lagi, Maria langsung beranjak pergi. Tentunya, dengan membawa semua paper bag belanjaannya untuk dia simpan.


Setelah menyimpan barang-barang yang baru dia beli. Maria lalu mengeluarkan semau baju bekas yang sudah sangat lusuh dari laci bawah lemarinya. Dia kemas semua baju bekas itu dan dia masukkan ke dalam kantong. Lalu, dia bawa kantong itu kembali menuju Ratna.


"Nah .... Ini lho, Rat. Aku punya barang-barang bekas yang tidak aku pakai lagi. Kamu suka bukan?" Maria berucap sambil menyodorkan kantong tersebut pada Ratna.


Ratna menerima kantong tersebut dengan wajah penasaran. Lalu, dia buka kantong itu dengan rasa tak sabaran. Sontak, mata Ratna membulat ketika melihat isi dari kantong itu.


"Apa ini, Maria? Apa maksudnya semua ini, ha? Kenapa kamu beri aku baju bekas yang sudah buruk dan sangat lusuh ini? Kamu pikir aku apaan?"

__ADS_1


__ADS_2