Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 25


__ADS_3

Ratna tidak langsung menjawab. Dia tersenyum malu-malu sambil melihat Tantri dan Bimo secara bergantian.


"Ratna. Kenapa tidak menjawab? Kenapa malah senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya Bimo dengan nada sedikit kesal. Mereka sedang ada masalah, eh, Ratna datang bukannya bikin senang, tapi malah bikin hati gerhana.


"Paman, bibi, aku mau ke kediaman Arkan bersama, Maria. Paman tahu bukan? Keponakan paman itu tidak bisa pergi sendirian. Dia selalu ingin aku ikut ke mana dia pergi."


"Mm ... untuk malam ini, biarkan aku ikut Maria ya, Paman. Dia gak berani bilang, karena dia takut paman marah. Dia minta aku yang bujuk paman agar dia bisa ajak aku. Paman mengizinkan aku ikut bukan?"


"Izinkan ya. Izinkan. Tolong .... " Ratna bicara dengan tangan yang ditaupkan ke dada. Dia juga memasang wajah memelas agar Bimo bersedia mengizinkan dia pergi.


Mendengar kata-kata yang Ratna ucapkan barusan, Tantri dan Bimo saling pandang. Mereka sebenarnya sedang diserang oleh virus bingung yang cukup kuat. Bagaimana tidak? Ratna bicara seolah-olah, Maria benar-benar sedang menantinya untuk bisa ikut ke acara pribadi itu. Tapi padahal, Maria tidak sedikitpun menunjukkan kalau dia butuh Ratna ikut bersamanya.


"Paman, kasihan Maria jika paman tidak mengizinkan aku pergi. Dia pasti sangat sedih karena harus pergi sendiri ke kediaman Arkan yang sempat membuatnya takut."


"Ratna .... "


"Ya, paman. Apa paman mengizinkan aku pergi bersama Maria? Aku tahu paman pasti akan mengizinkan aku pergi bukan? Terima kasih banyak, paman. Aku sangat senang. Dan yang pastinya, Maria yang akan merasa paling senang sekarang." Ratna berucap terus-terusan tanpa memberikan luang untuk Bimo atau Tantri menyela.


"Ya sudah, paman, bibi. Aku pergi sekarang. Maria pasti sedang resah menunggu aku di depan sekarang," ucap Ratna sambil beranjak.


"Ratna, tunggu!"


Seketika langkah Ratna langsung terhenti. Dia kembali menoleh untuk melihat Bimo yang sudah dia lewati beberapa langkah tadi.


"Iy--iya, paman. Ada ... ada apa? Apa paman tidak mengizinkan aku pergi?"

__ADS_1


"Ini bukan masalah izin atau tidak, Ratna. Tapi malah Maria yang sudah pergi sejak lima belas menit yang lalu," ucap Tantri langsung karena sangat kesal.


Mendengar kata-kata itu, Ratna terlihat sangat kaget. Dia membulatkan matanya lebar-lebar sambil melihat Bimo dan Tantri secara bersamaan.


"Ap--apa! Maria sudah berangkat lima belas menit yang lalu?"


"Iya. Maria sudah berangkat sejak lama. Dia sudah pergi sendirian ke kediaman Arkanza calon suaminya. Dan yang paling aku tidak mengerti padamu, Ratna. Sepertinya, Maria tidak butuh kamu tuh. Dia pergi sendiri tanpa beban sedikitpun."


"Apa maksud, bibi? Bibi pikir aku yang ingin ikut Maria ke kediaman Arkan, begitu?"


"Ya sepertinya ... begitu," ucap Tantri penuh dengan nada ejekan.


Terluka dan kecewa dengan apa yang baru saja terjadi, Ratna memutuskan kembali ke kamar secepat yang dia bisa. Bahkan, dia berjalan cepat setengah berlari agar bisa masuk kamar sesegera mungkin.


Tantri yang melihat hal itu merasa senang. Dia bisa melupakan masalah anaknya yang belum juga pulang saat melihat pertunjukan yang Ratna perankan barusan.


Polisi mengabarkan, kalau Tiara anak mereka sedang berada di rumah sakit saat ini. Tentunya, dengan kondisi yang sangat memperihatinkan.


Mendengar kabar itu, Tantri dan Bimo segera berangkat menuju rumah sakit. Sampai di sana, mereka menemukan Tiara yang sedang duduk di atas ranjang salah satu kamar sambil memeluk tubuhnya dengan erat.


Tiara sepertinya sedang sangat ketakutan. Dengan selang infus yang masih terpasang di tangannya, dia begitu erat memeluk tubuhnya. Begitu erat sampai tak ada ruang sedikitpun.


"Tiara!" Tantri berteriak keras dengan nada sangat sedih saat melihat anak yang sepertinya sangat menderita.


Dengan penuh kasih sayang, Tantri segera memeluk tubuh Tiara. Namun, gadis itu masih saja tidak membuka tangan yang memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Tiara ... apa yang terjadi, Nak? Ada apa dengan kamu sayang? Lihat mama, Tiara! Kamu aman sekarang, Nak. Tidak perlu takut." Tantri berucap sambil menangisi si anak yang malang.


Sementara itu, Bimo sedang bicara dengan salah satu polisi yang ada di sana. Polisi mengatakan, Tiara ditemukan oleh salah satu anak jalanan yang sedang lewat di tepi gudang kosong.


Karena merasa kasihan juga prihatin akan keadaan gadis yang tergeletak di pinggir jalan dengan baju yang robek-robek. Anak jalanan itu langsung memanggil warna sekitar yang bisa dia temui. Dengan bantuan para warga lah, Tiara bisa sampai ke rumah sakit ini.


Setelah diperiksa, Tiara mengalami pelecahan seksual dalam jangka waktu yang cukup lama. Dia dipakai terus menerus selama beberapa jam. Tapi sayangnya, tidak bisa diketahui berapa orang yang sudah melakukan kejahatan bejat itu. Karena hanya satu yang bisa di teliti. Laki-laki itu adalah pasien dari rumah sakit jiwa yang lepas beberapa hari yang lalu.


Mendengar kata-kata itu, Bimo kaget bukan kepalang. Meski tidak masuk akal kalau anaknya dipakai selama beberapa jam secara terus menerus, tapi ya mungkin saja. Karena yang melakukan pelecehan itu adalah orang gila.


"Hanya itu yang bisa kami sampaikan, pak. Kami mohon maaf karena tidak bisa membantu lebih banyak lagi."


"Tapi, pak polisi. Saya mohon kepada bapak. Tolong tegakkan keadilan untuk anak saya. Saya ingin pelakunya dihukum seberat mungkin, pak."


"Maafkan kami, pak Bimo. Sepertinya, keadilan untuk anak bapak itu sedikit sulit. Karena pelaku kejahatan itu adalah orang gila. Tidak ada hukum untuk orang gila, pak. Karena dia tidak akan tahu, apa yang kita lakukan padanya."


Bimo terdiam. Sungguh, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Karena dia juga tahu, kalau orang gila memang tidak akan menerima hukuman apapun selain penjara di rumah sakit jiwa. Mau minta pertanggung jawaban dengan cara apa? Toh orang gila tidak akan mengerti dengan apa yang orang lain katakan.


Sementara itu, Maria sudah berada di depan kediaman megah milik keluarga Arkanza. Dia di sambut hangat oleh calon mertuanya ketika memasuki ruang tamu kediaman dengan tiga lantai tersebut.


"Selamat datang, menantuku sayang. Gimana? Apa ada kendala saat kamu melakukan perjalan ke sini?" tanya papa Arkan dengan sangat ramah.


Belum sempat Maria menjawab pertanyaan itu, mama Arkan duluan yang angkat bicara.


"Tentunya, gak akan ada halangan dong. Mana ada yang berani menjadi penghalang buat dia. Bukankah dia calon menantu kita?"

__ADS_1


Maria hanya bisa tersenyum kecil menangapi perkataan mama Arkan. Sedikit merasa geli dengan ucapan yang sangat percaya diri itu.


Karena ... jangankan orang kaya. Raja saja ada halangan saat berjalan. Karena makin kaya dan makin berkuasa, maka yang iri akan semakin banyak.


__ADS_2