
"Sudah. Aku sudah selesai mengobati kamu. Ini salepnya. Olesi salep ini secara rutin tiga jam sekali. Dengan begitu, memar yang ada di dada mu akan cepat membaik." Dokter tersebut berucap sambil menyerahkan botol salep pada Maria.
"Oh ya, minta bantuan pasanganmu jika kamu merasa kesulitan dalam mengoleskan salep tersebut ya."
Maria hanya memberikan senyum kecil buat dokter tersebut. Dokter itu membalas senyum Maria. Lalu, dia pamit meninggalkan Maria sendirian.
Maria terdiam sambil terus memikirkan apa yabg baru saja terjadi. Dia sedang berada dalam dilema terburuk saat ini. Dilema antara perasaan yang sudah mulai tumbuh, dengan rasa takut akan kehilangan jika dia memilih melanjutkan peran yang saat ini sedang dia jalani.
"Tuhan ... apakah yang harus aku lakukan saat ini sebenarnya? Mengikuti semua kata hati, atau malah mengikuti alurnya saja. Ke mana arah kaki melangkah, maka itulah yang harus aku jalani. Begitu kah seharusnya, Tuhan?" Maria berucap sambil memegang dadanya.
Saat itu pula, Arkan masuk. Dia yang melihat Maria sedang gelisah itupun langsung menghampiri Maria tanpa berucap lagi.
Tentu saja Maria jadi kaget karena kedatangan Arkan yang tiba-tiba itu. Dia sontak langsung memasang wajah memerah sambil berusaha memikirkan alasan, kalau-kalau nanti Arkan menanyakan apa maksud dari kata-kata yang sedang dia bicarakan barusan.
"Apa kau baik-baik saja sekarang? Jika tidak ada keluhan lagi, sebaiknya kamu langsung istirahat saja. Untuk pamanmu, jangan cemaskan dia. Aku sudah menghubungi dia dan mengatakan, kalau kamu sedang ada bersamaku."
"Aku baik-baik saja. Juga tidak ada keluhan sedikitpun."
"Baguslah kalau begitu. Aku keluar sekarang. Jika kamu butuh sesuatu, panggil saja aku. Aku ada di luar."
Selesai berucap, Arkan ingin langsung beranjak meninggalkan Maria. Namun, baru dua langkah dia berjalan, dia kembali menghentikan langkah kakinya dan langsung menoleh untuk melihat Maria kembali.
"Oh ya, soal taruhan yang sudah sama-sama kita sepakati, aku harap kamu tidak mengingkarinya nanti. Jika aku menang, maka kamu harus menuruti apa yang aku katakan. Karena semua keputusan ada di tangan aku jika aku menang, bukan?"
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan mengingkari apa yang sudah sama-sama kita sepakati, Ken. Jika kamu menang, maka aku akan tunduk pada keputusan kamu. Tapi ... semua itu masih belum pasti bukan? Kamu masih belum tahu berhasil atau tidak."
"Kamu jangan remehkan aku, Ria. Aku yakin kalau usaha yang sudah aku buat, pasti berhasil."
"Kita lihat saja nanti," ucap Maria sambil menaikkan satu alisnya.
"Sepakat. Selamat beristirahat. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi. Istirahatlah dengan nyaman," ucap Arkan sambil beranjak melangkah kembali.
Sedikit rasa gundah sebenarnya yang Maria rasakan setelah pembicaraan itu berakhir. Bagaimana tidak? Jika Arkan memang berhasil, dia tidak tahu apa yang Arkan inginkan padanya. Meminta dia menikah secepatnya, atau malah meminta dia membatalkan pernikahan itu.
Jika ia membatalkan, mungkin ceritanya tidak akan begitu rumit buat Maria. Namun, jika meminta menikah secepatnya, maka halnya akan terasa cukup rumit juga akan lebih sulit untuk Maria jalani.
****
Maria di sambut hangat oleh Bimo ketika masuk ke dalam rumah. Bukan karena kangen dengan si keponakan, melainkan, karena ingin minta Maria melakukan sesuatu.
"Maria, kamu akhirnya pulang juga. Aku sudah lama menantikan kepulangan mu, kau tahu?"
"Ada apa, paman? Langsung katakan saja apa yang paman inginkan dari aku! Karena aku tahu, paman tidak mungkin merindukan aku, bukan?"
Kata-kata itu tentu saja langsung mengubah air wajah Bimo yang awalnya dia buat semanis mungkin agar Maria mau memenuhi permintaan dia nanti. Dia kini langsung memasang wajah serius akibat ucapan si keponakan barusan.
"Baiklah. Aku tidak akan berbasa-basi lagi dengan mu, Maria. Aku ingin kau minta Arkan memberikan tunjangan dana sekarang juga."
__ADS_1
"Apa! Paman minta aku ngomong minta uang pada Arkan? Paman yang benar saja. Arkan belum jadi suamiku, paman. Mana mungkin aku bisa minta uang padanya."
"Yang kau pinta itu bukan uang, tapi dana, Maria."
"Apa bedanya dana dengan uang, paman? Uang itu dana, dana itu ya uang."
"Bodoh. Kenapa kau tidak juga pintar sampai sekarang sih, ha? Tidak peduli uang dan dana itu sama. Yang jelas, aku ingin kamu minta Arkan memberikan aku suntikan dana agar perusahaan kita tidak bangkrut. Kau tahu, jika perusahaan itu bangkrut, maka yang susah juga kamu, kan? Bukan hanya aku saja."
"Biarkan saja perusahaan itu bangkrut. Aku sama sekali tidak peduli, paman. Karena sebentar lagi, aku juga akan masuk ke dalam keluarga Arkan. Tidak akan menghiraukan soal perusahaan keluarga ini lagi, bukan?"
"Maria! Apa kau sudah gila! Berani-beraninya kau bicara seperti itu padaku. Aku ini paman mu. Orang yang telah merawat kamu sejak belasan tahun."
"Ya, aku tahu. Paman sudah merawat aku selama belasan tahu. Tapi, semua itu hanya karena kekayaan yang aku miliki. Hanya karena warisan yang kedua orang tuaku tinggalkan. Jika tidak, mana mungkin paman bersedia merawat aku," ucap Maria dengan santai.
Mendidih lah darah Bimo mendengarkan apa yang Maria katakan. Yah, meskipun sebenarnya, apa yang Maria katakan itu benar seratus persen. Tapi, dia tetap saja merasa sangat kesal dengan ucapan Maria yang begitu terang-terangan tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Dasar kurang ajar kau, Maria! Keponakan tidak tahu di untung. Sudah bagus aku menyayangi kamu sebagai anakku selama belasan tahu. Tapi ini balasan yang kau berikan buat aku. Kalau begitu, lebih baik aku tidak membiarkan kamu menikah dengan Arkan saja sekalian. Agar kamu juga merasakan kemiskinan yang akan menimpa keluarga ini."
"Coba saja jika paman bisa," ucap Maria menantang.
Semakin naiklah emosi dalam diri Bimo. Dia yang memang sudah emosi sebelumnya, kini semakin menjadi-jadi amarah yang dia rasakan. Tidak tahan lagi untuk dia pendam, Bimo dengan mata melotot ingin memukul Maria. Tapi sayangnya, pukulan itu tentu saja tidak akan pernah mengenai orang yang bernama Maria. Karena dia yang tangguh, dengan mudah menghindar.
"Kamu!" Bimo yang tidak terima karena pukulannya Maria hindari, dengan nada tinggi langsung berteriak ke arah Maria, dengan mata yang melotot tentunya.
__ADS_1
"Dengar, paman! Aku bukan Maria yang lemah lagi sekarang. Aku tidak akan membiarkan kamu menindas aku kali ini. Kau mau perusahaan itu tetap bertahan, maka lakukan penyelamatan dengan cara kamu sendiri. Jangan manfaatkan aku sebagai alat."