
"Hais ... dasar kamu tidak bisa aku handal kan. Laki-laki macam apa kamu ini, ha?"
Rimba hanya bisa mendengus pelan. Dia tatap wajah Ratna dengan tatapan tajam. Namun kemudian, tatapan itu segera berubah menjadi tatapan penuh cinta kembali.
Maria yang terus mengawasi layar, tahu betul apa arti dari tatapan itu. Tatapan ingin membunuh, sayangnya, waktu tidak tepat.
"Hm ... cukup menarik dari kedua makhluk licik ini. Ingin saling memanfaatkan saja rupanya. Bisa aku manfaatkan ini sepertinya," ucap Maria dengan tatapan yang terus fokus pada layar tanpa menoleh sedikitpun.
Rimba kembali menyentuh tangan Ratna.
"Tenang dulu, ya. Aku sebenarnya sudah punya cara ampuh buat menghabiskan mereka semua. Tapi, kita tidak bisa melakukan dengan terburu-buru. Harus tenang dan pelan-pelan. Jangan sampai kita terjebak dalam permainan kita sendiri. Kita harus lebih pintar dari mereka, Ratna."
"Benarkah kau punya cara ampuh? Jika iya, lakukan sekarang. Jangan buang-buang waktu lagi. Karena aku sudah tidak sabar."
"Hei ... sudah aku katakan, jangan buru-buru. Oh ya, sekarang aku tanya, bukankah kamu sudah diusir okeh Maria? Lalu, ke mana kamu akan tinggal? Apakah pulang ke rumah orang tuamu?"
"Hah? Pulang ke rumah orang tuaku? Tidak! Aku tidak akan pulang ke sana. Karena jika aku pulang, mereka pasti akan marah-marah padaku. Mereka akan caci aku dengan kata-kata kasar karena aku tidak gagal dalam menjalankan tugas dengan baik. Aku tidak bisa terima cacian itu nantinya. Aku yang kesal, pasti akan tambah kesal. Dan mungkin, aku bisa gangguan jiwa jika aku pulang ke rumah mereka dengan membawa kegagalan ini."
"Kasihan kamu."
"Lalu ... apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ratna? Kamu sudah tidak punya rumah. Mau tinggal di mana lagi kamu sekarang?"
"Ya tinggal di mana lagi kalau bukan rumah kamu?"
__ADS_1
"Apa!" Rimba terlihat sangat kaget dengan langsung berteriak dengan nada tinggi. Hal itu membuat Ratna menatap Rimba dengan tatapan heran.
"Kenapa kamu, Rim? Apa kamu tidak setuju jika aku menumpang nginap di rumah kamu?"
"Kamu yang benar saja. Jika kamu tinggal di rumahku, apa yang akan keluarga Arkan katakan, ha? Mereka akan tahu kalau kita punya hubungan."
"Maksud kamu bicara seperti itu apa, Rimba? Bukankah mereka emang sudah tahu kalau aku dan kamu memang punya hubungan. Jadi .... "
"Mm ... maksud aku bukan hubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi, hubungan halus yang ... yah, seperti yang kita bahas barusan."
"Jangan banyak tingkah dan jangan banyak alasan. Aku akan tinggal di rumah kamu untuk sementara waktu. Sekarang, ayo pulang ke rumah karena aki sudah cukup lelah seharian ini. Aku ingin segera istirahat," ucap Ratna tidak ingin mendengar bantahan juga basa basi lagi dari Rimba.
Wajah rimba terlihat meredup. Tidak punya cara untuk membantah adalah kelemahan yang sedang dia alami saat ini. Dia mendengus pelan, lalu kemudian bangun dari duduknya.
"Baiklah, kita akan pulang. Tapi setelah aku pergi ke kamar mandi. Kamu tunggu di sini sebentar," ucap Rimba sambil beranjak.
Maria tersenyum.
"Aku ingin lihat, Rimba. Apakah kau benar-benar pergi ke kamar mandi, atau ada urusan lain," ucap Maria sambil memindahkan pengaturan cctv lewat ponselnya.
Yang Maria tebak ternyata benar. Rimba bukan pergi ke kamar mandi, melainkan, pergi ke luar restoran.
"Huh ... untung saja restoran ini full cctv. Jadi, aku bisa memantau mereka selagi berada di area restoran tanpa terlewatkan sedikitpun. Tapi sayangnya, aku harus mengubah rekaman cctv yang tanpa suara ini jadi bersuara terlebih dahulu agar bisa mendengarkan percakapan antara rimba dengan orang yang dia hubungi sekarang."
__ADS_1
Sedikit kendala yang Maria dapatkan membuat dia harus bersabar jika ingin mengetahui obrolan Rimba dengan seseorang yang dia hubungi lewat ponselnya. Setelah beberapa lama mengolah layar ponselnya, Maria akhirnya dapat mendengarkan pembicaraan tersebut.
Dari rekaman yang berdurasi kurang dari tiga menit tersebut, Maria mengetahui kalau Rimba menyimpan seorang perempuan di rumahnya. Rimba menghubungi perempuan itu untuk meminta si perempuan segera pergi karena dia akan pulang membawa Ratna. Tapi sayangnya, perempuan itu tidak bersedia keluar, dia lebih memilih menetap menjadi pembantu di rumah tersebut.
Maria kembali tersenyum mendengarkan apa yang baru saja dia dapatkan. Kini, dia punya senjata untuk menghancurkan keduanya dengan cara saling memusuhi satu sama lain. Dengan begitu, dia hanya akan menjadi dalang di belakang panggung tanpa terlihat saja.
Maria segera mengolah vidio itu secepat yang dia bisa. Lalu, dia kirim vidio obrolan tersebut pada Ratna. Tentunya, dengan akun orang lain yang sudah dia retas terlebih dahulu.
Vidio sukses terkirim dengan cepat. Maria memang pintar menjadi dalang yang tidak terlihat. Tidak perlu mengotori namanya, dia bisa melakukan semua yang dia mau untuk membalas pada musuh.
Tepat saat Ratna dan Rimba ingin beranjak meninggalkan ruangan VIP tersebut, Ratna menerima pesan itu. Karena rasa penasaran yang ada dalam hatinya, dia segera membuka pesan itu.
"Segera pergi sekarang juga. Aku akan membawa dia pulang ke rumah."
Itulah kata-kata pertama yang Ratna dengan saat dia memutar rekaman vidio yang baru saja dia terima. Rekaman itu hanya bisa mendengarkan suara Rimba saja, karena Rimba sedang bicara lewat udara dengan seseorang melalui ponsel. Jadi, Ratna tidak tahu apa yang orang di seberang sana katakan. Tapi, kata-kata yang dia dengar selanjutnya sukses buat matanya membulat.
"Aku mohon padamu, sayang. Pergilah untuk sementara waktu. Jangan buat rencana yang aku miliki gagal begitu saja. Aku perlu dia, jadi ... tolong pengertiannya."
"Tidak ... aku tidak akan khilaf sedikitpun sama dia. Aku hanya menjadikan dia sebagai alat untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Kau tahu, aku butuh dia agar bisa menguasai seluruh harta mereka semua. Dengan begitu, aku akan jadi orang yang paling kaya. Dan nyonya nya ... nyonya nya adalah kamu sayang. Kamu," ucap Rimba dengan nada bicara yang paling manis dan terkesan sangat manja.
Mendidih darah Ratna mendengarkan perkataan itu. Tidak menunggu selesai mendengar ucapan antara Rimba dengan yang dia hubungi lagi, Ratna segera memberikan sebuah tamparan keras ke pipi Rimba.
Sontak saja, Rimba yang tidak tahu apa-apa itu, langsung menoleh tak percaya pada Ratna yang berada di hadapannya. Sambil terus menegang pipi yang terasa cukup hangat tentunya.
__ADS_1
"Kau gila, Ratna! Kenapa kamu menampar aku begitu saja? Apa pikiran sehatmu sudah hilang, hah!"
Bukan rasa sakit yang Rimba rasakan sebenarnya sekarang. Tapi rasa malu akan perlakuan Ratna yang tiba-tiba saja menamparnya di tempat umum. Dilihat oleh puluhan pasang mata yang tentu saja tidak ingin membiarkan mereka bertengkar dengan begitu saja.