
"Kamu yakin, Ken?" tanya Maria sambil menatap Arkan dengan tatapan yang sulit untuk Arkan artikan maksud dari tatapan itu.
Tidak langsung menjawab. Arkan malah memberikan Maria tatapan balasan. Tatapan yang penuh dengan tanda tanya karena rasa penasaran akan tanggapan Maria barusan.
"Arkan, kenapa diam? Jawab apa yang aku tanyakan barusan."
"Kenapa aku harus menjawab, Ria? Karena sesungguhnya, kau paling tahu sebatas apa keyakinan yang aku miliki. Tapi sebaliknya, aku yang seharusnya bertanya soal keyakinan padamu. Kau terlihat cukup engan sekarang. Sepertinya, kau tidak yakin dengan aku dan keputusan yang sedang aku ambil. Padahal, awalnya kau sudah menyepakati sepenuhnya aku yang berkuasa atas perjodohan ini jika taruhan itu aku menangkan. Tapi sekarang .... "
"Cukup, Ken. Aku yakin. Sekarang, ayo kita masuk dan pilih gaun yang paling cocok dengan aku. Sepanjang apa jalan kisah kita nanti, hanya Tuhan yang tahu apa dan bagaimana kelanjutannya. Karena sejujurnya, aku sudah mulai suka padamu. Walau sebenarnya, itu tidak benar."
Arkan kembali menatap Maria dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya. Kata-kata yang Maria ucapkan itu memberikan dia rasa bahagia sekaligus rasa sedih.
"Kau suka padaku? Lalu kenapa rasa suka itu tidak benar? Apa yang salah dengan rasa suka itu, Maria? Apakah kamu punya seseorang yang lain dalam hatimu, Maria? Jika iya .... "
"Ken. Sudah aku katakan kalau tidak ada orang lain dalam hatiku sekarang. Hanya saja, ada sebuah rahasia yang tidak mungkin aku katakan padamu. Rahasia besar yang cepat atau lambat, pasti akan terbongkar. Dan jika rahasia itu sudah terbongkar, maka kamu dan aku pasti akan terpisahkan."
"Maria .... "
"Ken. Sejujurnya aku suka padamu. Aku sayang padamu. Meski aku tidak tahu apa yang kamu rasakan dalam hatimu untuk aku. Apakah kamu juga menyimpan rasa yang sama atau tidak, itu tidak penting. Yang jelas, aku suka padamu, Ken. Aku sayang kamu."
__ADS_1
"Jika sayang, jika suka, kenapa kamu malah tidak ingin tetap bersama aku selamanya, Ria. Hidup bersamaku, jadi istri satu-satunya yang akan menemani aku sampai ke hari tua. Jadi ibu yang terbaik dalam mengurus anak-anakku. Kenapa tidak mau?"
"Bukan tidak mau, Arkanza. Tapi aku tidak bisa. Karena jalan takdir yang akan aku tempuh ke depannya, aku juga tidak bisa mengatur sesuai dengan apa yang aku inginkan. Ingin tetap bersamamu, itu sungguh impian yang sangat besar buat aku saat ini. Tapi .... " Maria tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Karena sekarang, dia sedang menunduk sambil menahan isak tangis agar tidak pecah dan di dengar oleh semua orang.
Melihat gadis kesayangannya menangis. Arkan tidak lagi berucap. Dia langsung menarik tubuh langsing itu ke dalam pelukannya. Dia peluk erat tubuh itu dengan penuh kasih sayang. Seerat mungkin agar gadis kesayangan itu tidak bisa pergi meninggalkan dirinya.
"Aku juga sayang kamu, Ria. Kau harus tahu itu. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Jika memang harus berpisah, maka aku akan cari kamu ke manapun kamu berada. Walau sampai ke ujung dunia sekalipun. Karena Maria, hanya bisa jadi milik Arkanza. Apapun alasannya, tidak ada yang boleh mengambil Maria dari Arkanza. Kau mengerti, sayangku?"
Maria tidak menjawab. Karena sekarang, air mata yang dia tumpahkan semakin deras saja ketika mendengarkan kata-kata yang baru saja Arkan ucapkan.
Beberapa saat saling diam dengan posisi yang saling memeluk satu sama lain. Akhirnya, mereka memilih melepaskan pelukan itu setelah lama mengabaikan pandangan orang yang melihat mereka dengan macam-macam pendapat.
"Jangan bersedih, perempuanku yang manis. Apalagi menangis, jangan sekali. Kau punya aku ya," ucap Arkan lagi sambil menghapus air mata yang terus tumpah di pipi Maria.
"Benarkah kamu akan menemukan aku, Ken? Jika suatu saat, ada perpisahan terjadi diantara kita?" tanya Maria dengan nada penuh harap sambil menatap kedua bola mata Arkan.
"Aku janji, Ria. Aku akan menemukan kamu." Arkan berucap dengan nada penuh keyakinan sambil membalas tatapan Maria.
Sedikit merasakan ketenangan yang menghampiri jiwanya. Namun, pada akhirnya Maria sadar. Arkan bukan tokoh nyata yang ada di dunia. Mereka tidak berada di dunia yang sama. Melainkan, dari dua dunia yang berbeda.
__ADS_1
Iya jika Arkan dengannya berada di dunia yang sama. Mungkin, perpisahan yang akan terjadi, tidak akan menyulitkan Arkan untuk menemukan dirinya. Karena dengan kuasa dan kekayaan yang Arkan miliki, tidak akan sulit buat menemukan dirinya.
Tapi ... Arkan adalah tokoh fiksi yang hidup dalam dunia novel. Tidak mungkin bisa melakukan hal yang lebih selain lebih dalam dunia kecil ini.
Maria kembali menangis karena tidak bisa menahan rasa sedih akan apa yang baru saja dia pikirkan. Dengan cepat, Maria segera menghambur ke dalam pelukan Arkan lagi.
Dia peluk Arkan dengan pelukan yang sangat erat. Terasa begitu engan untuk melepaskan orang yang kini sudah mengisi hatinya.
'Aku tahu kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan, Ria. Tapi ... aku berjanji akan menepati apa yang aku katakan padamu barusan.' Arkan berucap dalam hati sambil mengelus pelan rambut Maria dengan penuh kasih sayang.
"Ria sayang. Jangan menangis lagi. Kau adalah gadis tangguh yang pernah aku temui. Orang kuat saja bisa kamu hadapi, tapi kenapa kali ini kamu terlihat lemah, Ria. Aku tidak suka ini. Kembalilah kuat seperti perempuan tangguh yang pernah aku lihat sebelumnya. Karena kau sungguh tidak cocok memasang tampan sedih."
"Yah ... meskipun saat sedih kamu masih terlihat sangat cantik," ucap Arkan dengan nada menggoda buat menghibur Maria.
"Seperti yang pernah kamu katakan sebelumnya, Ken. Aku hanya manusia biasa. Sedih, bahkan menangis itu adalah hal yang paling wajar bagi aku. Kau yang bilang gitu, bukan?"
"Iya. Memang aku yang bilang. Tapi ... coba lihat aku sekarang. Masa iya kamu mau terus menangis padahal aku dan kamu masih bersama di sini. Ayo! Lupakan soal perpisahan yang mungkin akan atau tidak akan terjadi itu. Sekarang, kita harus bahagia. Manfaatkan waktu yang kita miliki sekarang, buat kita bahagia bersama. Setidaknya, kita punya kenangan yang indah jika memang takdir meminta kita berpisah."
"Aku tidak suka kenangan. Karena kenangan akan menyakitkan jika aku dan kamu sudah tidak bersama lagi."
__ADS_1
"Jangan begitu, Ria. Cobalah berpikir positif. Ayo! Manfaatkan waktu bersama sekarang juga."