
Sementara itu, Lila yang berada dalam pelukan Kenza juga melakukan hal yang sama. Membiarkan Kenza memeluk tubuhnya, karena dia juga menginginkan pelukan itu sebagai bentuk penenangan jiwanya yang berantakan.
"Ken ... aku rindu padamu. Jika aku bangun nanti, aku pasti akan lebih merindukanmu, Ken."
"Bangun? Kenapa harus bangun, wanitaku? Kamu kan gak sedang tidur sekarang."
"Lagipula, ini bukan dunia mimpi, Sayang. Ini dunia nyata. Kau, aku, dan semuanya ini itu sungguh nyata. Bukan mimpi. Jadi .... "
Belum sempat Kenza menyelesaikan ucapannya. Lila yang tak percaya dengan apa yang Kenza katakan, tentu saja mendadak melepas dirinya dari pelukan Ken.
"Ap--apa? Kau bilang apa barusan? Ini semua ... nyata? Sungguh nyata?" tanya Lila benar-benar merasa tak percaya. Kebingungan tingkat tinggi sedang menyelimuti hati dan pikirannya sekarang.
"Sayangku ... aku Rakenza. Aku manusia nyata, bukan fiksi atau khayalan seperti yang terus kamu ucapkan barusan itu."
"Tidak mungkin, Ken. Kau tidak nyata."
"Ya Tuhan ... aku nyata lho, Ria. Bukan mimpi."
"Ria?" Lila berucap kembali merasa dia sedang berada dalam dunia khayalan.
"Iya. Ria. Lalila Mariana bukan?"
"Kau tahu nama panjang ku? Maksudku, nama asliku di dunia nyata," ucap Lila lagi-lagi berada dalam dilema akut.
__ADS_1
"Tentu saja aku tahu, Ria. Karena kita memang berada di dunia nyata. Dan kamu, aku sudah tahu semua tentang kamu."
Lila semakin menatap Rakenza dengan tatapan tak percaya. Tatapan yang penuh tanda tanya, juga tatapan yang meminta penjelasan atas apa yang sedang dia alami saat ini.
Mengerti dengan kebingungan yang Lila alami saat ini, Kenza langsung menjelaskan semuanya. Dia jelaskan secara perlahan agar perempuan yang ada di sampingnya sekarang bisa memahami segala hal yang telah terjadi.
Ternyata, Kenza juga mengalami hal yang sama dengan apa yang Lila alami dalam dunia kecil tersebut. Awalnya, dia di perlihatkan foto Lila oleh sang mama dua hari yang lalu. Tapi, dia bersikeras tidak ingin menerima gadis yang tidak dia cintai masuk ke dalam kehidupannya.
Nah, sehari kemudian, si mama kembali memberikan dia buku. Sebuah novel lebih tepatnya. Mamanya meminta Kenza untuk membacakan novel itu saat si mama ingin tidur di kamar pada malam sebelum mereka mengalami hal luar biasa yang bikin mereka tak percaya dengan apa yang sedang mereka alami.
Selesai baca novel tersebut, Kenza memilih tidur karena sudah lelah. Kebetulan, dia tidak suka membaca. Apalagi yang dia baca adalah novel. Hal-hal yang paling membosankan buat seseorang yang bernama Rakenza, ya adalah membaca novel.
Akhirnya, kejadian itu terjadi. Dia masuk ke dalam novel yang dia baca. Menjadi laki-laki pemeran utama yang bernama Arkan. Namun, ketika masuk, dia sedikit dibuat bingung dengan pemeran utama wanita yang berubah menjadi tangguh. Bukan wanita lemah yang seperti dia baca sebelumnya.
Selanjutnya, dia pikir karena kehadiran dirinya, mungkin semua alur dari novel itu berubah. Tapi, saat dia bangun, dia tanpa sengaja melihat foto Lila yang mamanya pajang di atas nakas samping ranjang. Lalu, dia juga menemukan cincin yang terpasang di jari manisnya.
"Begitulah ceritanya, Ria. Aku pikir, gak masalah jika wanita ku tidak ingat soal siapa aku saat kita dipertemukan di dunia nyata. Karena dengan aku saja yang mencintai kamu, aku rasa itu sudah cukup. Tapi ... ternyata aku memang sedang menemukan cintaku yang sesungguhnya. Cinta yang aku pikir hilang, butuh waktu untuk menumbuhkan nya lagi, tapi ternyata .... tidak, Ria. Aku temukan cinta yang sesungguhnya."
"Tahu dari mana kamu, kalau aku adalah wanita mu yang ada dalam dunia kecil yang kamu masuki itu? Jangan-jangan .... "
Belum sempat Lila menyelesaikan ucapannya, dia malah kembali di tarik Kenza ke dalam pelukan. Lalu, Kenza langsung menyusuri tangan Lila yang sedang Lila balut dengan plaster.
"Apa ini?" tanya Kenza sambil menunjuk jari manis yang terbalut plaster dengan cukup baik.
__ADS_1
"Itu .... "
Lagi, Kenza tidak membiarkan Lila menyelesaikan ucapannya. Karena sebelum Lila selesai menjawab, dia sudah langsung membuka plaster tersebut untuk melihat kebenaran dari apa yang Lila sembunyikan.
"Jangan!"
Terlambat. Kata jangan yang Lila ucapkan tidak terucap tepat pada waktunya. Karena cincin berlian sudah terlihat dengan seutuhnya melingkar di jari manis Lila.
"Ini ... kenapa kau sembunyikan, Ria? Apa kau tidak ingin aku menemukan kamu di dunia nyata?" Kenza berucap dengan nada lemah karena merasa sedikit kekecewaan yang menyusup ke dalam hatinya.
"Bukan aku tidak ingin kamu temukan, Ken. Hanya saja, aku pikir tidak akan ada cerita cinta dunia khayal yang benar-benar terbawa ke dunia nyata. Aku sangat mengharapkannya, tapi, semakin aku berharap, maka semakin aku merasa tidak yakin, Ken. Maka dari itu, aku tutup agar aku tidak bisa merasakan kesakitan yang semakin parah ketika aku melihat cincin itu."
"Benarkah apa yang kamu katakan ini, Ria? Jika benar, maukah kamu melupakan apa yang kamu pikirkan tentang aku ini tidak nyata? Karena sesungguhnya, aku ini sungguh manusia nyata. Hidup sama dengan kamu di dunia yang sama."
"Dan ... jika benar perasaan kita sama. Maukah kamu langsung menjadi istriku sekarang juga, Ria? Aku tidak ingin menunggu lama lagi. Tidak ingin melakukan pertunangan, atau hal-hal lain sebagainya. Karena bagi aku, sudah cukup persiapan yang sama-sama kita lakukan di dunia mimpi itu."
"Tapi ... jika kamu ingin menikah layaknya wanita pada umunya yang menikah dengan pernikahan yang mewah. Maka kita bisa lakukan persiapan setelah kamu dan aku sah menjadi suami istri, Maria. Apakah kamu setuju?"
Lila terdiam. Satu sisi, dia merasa bahagia. Sedangkan di sisi lain, dia mendadak merasa takut. Dilema yang akut kembali menghantui hati Lila sekarang.
Melihat keraguan dari wajah Lila. Kenza langsung memegang tangan Lila dengan lembut.
"Jangan ragu untuk menjawab, Ria. Turuti saja apa yang ada dalam hatimu. Jika hatimu mencintai aku, maka kamu jawab saja setuju. Tapi jika tidak, maka aku tidak akan memaksa kamu. Aku tidak suka memaksa. Karena cinta, memang tidak bisa di paksa."
__ADS_1
"Semua pilihan ada di tangan kamu, Ria. Jika setuju, aku akan langsung bertemu mamamu untuk minta restu. Jika tidak, maka aku anggap, pertemuan kita kali ini hanya sebatas salah perpisahan saja. Salah perpisahan yang tidak sempat kita ucapkan saat berpisah waktu itu."
Lila menatap wajah Kenza dengan tatapan tajam. Anak mata mereka beradu karena saling tatap satu sama lain. Bibir Lila terasa berat untuk dia gerakkan. Tapi tangannya, tidak merasakan hal yang sama.