
Laki-laki itu lalu membungkukkan tubuhnya walau terlihat cukup sakit. Sambil terus menegang dadanya, dia memberikan penghormatan pada Maria.
"Aku mengaku kalah sekarang perempuan tangguh. Terimalah salam hormatku sebagai penghargaan buat kamu si pemenang yang luar biasa. Aku sungguh mengangumi mu perempuan tangguh. Selain kau luar biasa dalam seni bela diri, kau juga luar biasa dalam tingkah laku. Kau memang sangat luar biasa."
"Tidak perlu terlalu memujiku, Mas. Kamu juga lumayan tangguh. Bisa memberikan aku pukulan yang lumayan keras. Dan, sekarang, urusan kita sudah selesai."
"Belum. Urusan kita masih belum selesai," ucap laki-laki itu.
Ucapan itu sontak membuat Maria merasa sedikit bingung. Sementara Arkan yang mendengarkan ucapan itu, sontak memasang wajah kesal penuh dengan amarah.
"Belum berakhir kau bilang? Apa lagi yang belum selesai, hah! Kau ingin cari masalah lagi dengan perempuanku? Kali ini, kau cari mati, kau tahu."
"Maaf anak muda. Jangan terlalu terbawa emosi. Urusan kami memang belum berakhir. Tapi, bukan urusan untuk cari masalah. Karena aku sudah kapok melawan perempuanmu. Jika perempuan kamu saja luar biasa seperti itu, bagaimana kamu nya. Ah ... tidak-tidak. Aku tidak ingin cari gara-gara lagi."
"Kalau gitu, urusan apa lagi yang belum selesai, Mas?" tanya Maria dengan cepat karena tidak ingin mendengar Arkan dan laki-laki itu ngobrol lebih banyak lagi.
"Gadis tangguh. Apa kau lupa kalau kita punya perjanjian sebelum melakukan pertarungan barusan? Aku kalah. Sekarang, aku pasrah menerima apa yang kamu katakan. Semua yang kamu katakan, akan aku ikuti sesuai perjanjian kita tadi."
"Oh ... soal itu rupanya. Baiklah, karena kita sudah melakukan perjanjian, dan aku tahu bagaimana sikap master sejati seharusnya. Aku ingin kamu melakukan sesuatu untuk aku."
"Baik. Katakan saja apa yang kamu ingin aku lakukan. Aku pasti akan lakukan semua itu sebagai resiko kekalahan yang aku alami."
"Aku ingin kamu menyerahkan bukti yang aku aku punya pada polisi. Serahkan bukti yang ada di dalam mobilku, dan selesaikan urusan aku dengannya. Aku ingin dia dihukum sesuai kejahatan yang dia lakukan pada orang tuaku. Bagaimana? Apa kamu setuju, Mas?"
__ADS_1
"Benarkah hanya itu yang kamu inginkan dari aku?" tanya laki-laki itu dengan tatapan yang sangat tidak percaya.
"Iya. Hanya itu saja." Maria berucap sambil menganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kamu tidak bersedia? Apa permintaan aku yang utarakan terlalu berat buat kamu?"
"Tidak. Tidak berat sama sekali."
"Lalu ... kenapa kamu terlihat cukup kaget tadi, saat aku mengatakan apa yang aku inginkan dari kamu."
"Aku kaget karena aku merasa tidak percaya. Kau memberikan aku permintaan yang terlalu mudah. Hal yang tidak seharusnya kamu lakukan buat aku. Aku sudah menantang kamu, sudah memukul kamu, dan meminta kamu melakukan hal paling besar jika aku menang. Namun, saat kamu yang menang, kau malah menolong aku dengan menyelamatkan nyawaku. Dan yang paling tidak masuk akal, kau minta hal paling sepele padaku. Benar-benar membuat aku merasa tak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan."
"Aku melakukan apa yang aku butuhkan. Aku rasa, kamu juga melakukan hal yang sama. Jadi, sebaiknya tidak perlu dipermasalahkan lagi sekarang. Ya sudah, aku anggap, urusan kita sudah selesai sekarang ya."
"Dia tidak bisa. Karena aku tidak akan membiarkan dia bertemu dengan orang seperti kamu lagi. Kau telah membuat dia berada dalam masalah besar hari ini. Jadi, aku tidak ingin membuat dia mendapatkan masalah lagi. Aku harap kau paham apa yang aku rasakan," ucap Arkan menjawab cepat apa yang laki-laki dewasa itu katakan.
"Ayo Maria, kita pulang! Aku harus membawa kamu ke rumah sakit untuk memeriksa tubuhmu. Aku takut jika ada luka dalam, atau memar di bagian dalam yang harus diobati dengan segera," kata Arkan sambil merangkul mesra bahu Maria.
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas. Tubuhku cukup kuat kok, Ken. Gak akan ada luka dalam, atau memar di bagian dalam. Pukulan itu gak terlalu kuat kok."
"Jangan menyepelekan hal sekecil apapun, Maria."
"Tapi ... aku memang merasa baik-baik saja, Arkanza," ucap Maria dengan nada penuh kelembutan di bagian penyebutan nama Arkan barusan.
__ADS_1
"Huh ... baiklah. Aku tahu kau adalah perempuan tangguh. Perempuan yang paling kuat di sini. Pukulan seperti apapun mungkin tidak akan membuat kau terluka. Tapi ... setidaknya, tolong dengarkan apa yang aku katakan agar pikiran ini bisa sedikit tenang, Maria. Lakukan hanya demi untuk menenangkan pikiran aku ya." Arkan berucap dengan nada memelas penuh harap.
Tidak ingin membuat Arkan cemas lagi, Maria hanya bisa pasrah sekarang. Dia terpaksa mengikuti apa yang Arkan ingin karena tidak ingin berdebat.
"Baiklah, Ken. Aku akan ikuti apa yang kamu katakan. Tapi, aku tidak ingin ke rumah sakit. Bagaimana kalau kamu panggilkan saja dokter pribadi keluargamu datang ke rumah? Bukankan itu akan sama saja, bukan?"
Sejenak terdiam. Tapi pada akhirnya, Arkan menyetujui juga apa yang Maria katakan.
"Baiklah, aku akan ikuti apa yang kamu inginkan. Kita akan pulang dulu sekarang. Lalu, aku akan panggilkan dokter datang setelah kita sampai di rumah."
"Mm ... baiklah. Ayo pulang!"
"Oh ya. Maaf ya, Mas. Aku mungkin tidak bisa memenuhi undangan mu buat datang ke klab seni bela diri yang kamu pimpin. Karena sekarang, aku punya banyak sekali hal yang harus aku selesaikan. Terima kasih atas undangan kehormatan yang kamu berikan padaku ini. Sekali lagi maaf karena tidak bisa memenuhi undangan spesial dari mu ini ya, Mas." Maria berucap sebelum beranjak meninggalkan tempat tersebut.
"Gak papa. Aku maklum kalau kamu tidak bisa hadir. Entah kapan bisa bertemu lagi. Semoga secepatnya. Selamat jalan, gadis tangguh," ucap laki-laki itu sambil tersenyum kecil pada Maria.
Maria membalas senyum itu sesaat. Karena detik berikutnya, Arkan sudah membawa dia pergi meninggalkan laki-laki itu menuju mobil.
Samapi ke mobil, Arkan langsung membuka pintu mobil untuk Maria. Sementara pintu mobilnya, sopir dia yang membukakan.
Sesaat terdiam setelah masuk ke dalam mobil karena memikirkan apa yang baru saja dia lewati. Maria termenung tanpa menyadari kalau Arkan sudah berada di sampingnya. Arkan menyentuh pelan tangan Maria yang kebetulan berada di atas pangkuan.
"Kenapa melamun? Apa yang kamu pikirkan lagi sekarang? Bukankah semua sudah selesai?"
__ADS_1
"Selesai?"