
Sontak saja, laki-laki itu terhuyung beberapa langkah mundur ke belakang. Dia pegang wajahnya yang baru saja mendapat pukulan dari Maria tersebut dengan satu tangan sambil melihat ke arah Maria yang ada di hadapannya dengan perasaan salut sekaligus tak percaya.
"Kau ... ternyata kau adalah inti sari master, perempuan. Luar biasa. Sungguh luar biasa sekali aku bisa berhadapan dengan inti sari master seperti kamu ini. Aku pikir, inti sari master itu sudah tua. Tapi ternyata, sangat muda dan perempuan lagi."
Maria terlihat seperti sedang mencerna apa yang laki-laki itu katakan. Dia agak bingung dengan kata inti sari master yang laki-laki dewasa itu ucapkan barusan. Karena selama ini, dia sama sekali belum pernah mendengar kata itu dalam dunia seni bela diri yang dia jalani di kehidupannya. Lah di dunia kecil ini, ada pula yang namanya inti sari master. Benar-benar bikin bingung.
Namun, tiba-tiba saja perhatian mereka terpecahkan karena bunyi sirene mobil polisi yang datang mendekat ke arah mereka. Bukan hanya mobil polisi yang datang ternyata, dua mobil hitam pun ikut mendekat mendahului mobil polisi tersebut.
Maria memusatkan perhatiannya pada mobil yang paling depan. Dia tahu siapa pemiliknya. Itu tak lain adalah milik Arkan. Yang dia tidak habis pikir adalah, kenapa bisa Arkan datang ke temat ini. Dan dari mana Arkan tahu soal keadaan dia sekarang.
"Maria!" Arkan berteriak sambil keluar dari mobil secepat yang dia bisa. Lalu, dia berjalan mendekat ke arah Maria yang sedang berhadapan dengan laki-laki dewasa tersebut.
"Arkan. Kenapa kamu bisa datang ke sini?" tanya Maria dengan wajah kaget.
Tidak langsung menjawab apa yang Maria tanyakan, Arkan malah menarik Maria ke dalam pelukannya. Pelukan yang sama sekali tidak pernah Maria bayangkan sebelumnya. Pelukan hangat yang penuh dengan kasih sayang. Tersalurkan dengan sepenuh hati karena rasa khawatir yang cukup kuat.
Maria terdiam tanpa tahu harus membalas atau malah menolak pelukan tersebut. Karena pelukan itu cukup membuat dia hilang kendali selama beberapa saat. Membuat dia lupa, kalau dia bukan berada di dunia nyata, melainkan, dunia kecil yang bukan seharusnya tempat dia hidup.
Maria menutup mata rapat-rapat.
"A--Arkan." Hanya satu nama yang mampu dia ucapkan. Karena bibirnya terasa kelu untuk melanjutkan kata-kata berikutnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi. Kenapa kau ada di sini, ha? Aku sangat mencemaskan kamu, Maria. Tolonglah ... jangan bikin aku takut."
"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kamu cemaskan."
Belum sempat Arkan menjawab apa yang Maria katakan, laki-laki itu duluan yang berucap. "Hei ... aku masih ada di sini. Kalian tidak hanya sedang berduaan saja sekarang. Masih ada orang di sini tahu gak? Kalian berpelukan dengan seenaknya. Tidak menghormati perasaan orang yang sedang sendirian. Anak muda jaman sekarang benar-benar tidak punya hati ternyata."
Sontak saja, karena kata-kata itu, Arkan langsung melepas Maria yang dia peluk. Dia tatap wajah laki-laki dewasa itu dengan tatapan tajam seperti singa yang siap menerkam. Lalu, dia tarik dasi yang masih melekat di lehernya.
Arkan ingin beranjak mendekat ke arah laki-laki dewasa yang dia anggap sudah membuat wanitanya berada dalam kesulitan. Tapi, dengan cepat Maria menangkap tangan Arkan agar tidak melakukan apa yang dia inginkan.
"Ken, apa yang ingin kamu lakukan? Jangan maju. Dia bukan tandingan kamu," ucap Maria dengan tatapan khawatir.
Belum sempat Arkan menyelesaikan kata-kata yang ingin dia ucapkan, polisi pun angkat bicara. Polisi yang baru datang itu langsung membentuk tim siaga dengan mengacungkan senjata mereka.
"Jangan bergerak! Angkat tangan dan segera ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan."
"Pak polisi. Tidak usah ikut campur soal urusan pribadi aku. Kalian selalu saja bikin aku kesal," ucap laki-laki dewasa itu dengan sangat berani.
"Jangan melawan polisi atau anda akan kami kenakan hukuman yang berlipat ganda. Ikuti apa yang kami katakan, kemudian, kita akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Aku tidak takut dengan kalian semua. Tidak ingin ikut kalian, kalian ingin apa? Menghukum aku? Cih ... aku juga tahu soal hukum pak polisi. Jadi, tidak perlu bicara soal hukum di depan aku."
__ADS_1
"Jangan membantah, atau kami akan bertindak keras pada anda!"
"Huh ... bisanya cuma mengancam saja. Sekarang gini aja deh. Aku akan ikuti kalian ke kantor polisi, tapi dengan satu syarat. Biarkan aku bertarung dengan perempuan itu terlebih dahulu. Karena kami masih belum menyelesaikan pertarungan kami tadi." Laki-laki itu berucap sambil mengarahkan telunjuknya pada Maria.
Sontak saja, Arkan langsung membusungkan dada buat melindungi Maria. Dia tidak ingin wanitanya kenapa-napa, walau dia tahu, Maria bukan wanita biasa seperti pada umumnya.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kau bertarung dengannya lagi. Selagi aku ada di sini, jangan harap kau bisa menyentuh sedikitpun kulit kekasihku. Jika kau tetap ingin melakukannya, maka langkahi dulu mayat ku." Arkan berucap berapi-api dengan nada tegas.
"Kau laki-laki yang tidak punya rasa malu sama sekali. Beraninya bertarung dengan wanita. Jika kau memang punya nyali, sini, lawan aku. Mungkin kita akan impas jika bertarung," ucap Arkan lagi dengan nada penuh tantangan buat laki-laki dewasa tersebut.
"Heh ... anak muda. Jangan banyak bicara. Aku tidak ada urusan dengan kamu, kau tahu? Aku hanya ada urusan dengan perempuan itu. Jadi, tolong jangan ikut campur urusanku dengan perempuan itu. Jika kau ingin bertarung melawan aku, maka tunggu giliran kamu nanti."
"Kau bilang tidak ada urusan dengan aku? Selagi yang berurusan itu adalah tunangan ku, maka itu juga adalah urusan aku. Karena dia adalah bagian dari hidupku, jadi, setiap urusannya juga urusanku. Kau mengerti?"
"Ah! Banyak omong kau anak muda. Sudah aku katakan sejak tadi, aku punya urusan hanya dengan perempuan itu. Aku ini adalah master yang cukup menghargai lawan, jika tidak, mungkin aku ... ah, tidak tahu apa yang akan terjadi pada kamu yang keras kepala ini."
"Untuk kamu perempuan. Aku tidak ingin bicara banyak lagi sekarang. Aku yakin kamu tahu seperti apa hukum dalam dunia seni bela diri bukan? Dan aku yakin, kau tidak akan jadi pecundang. Ayo mulai! Kita lanjutkan pertarungan kita."
Maria tidak menjawab. Sejujurnya, dia sedang berada dalam dilema sekarang. Dilema melanjutkan pertarungan atau tidak. Karena ada dua pilihan yang cukup sulit buat Maria saat ini. Menyelesaikan urusannya dengan laki-laki dewasa itu, atau malah menghargai Arkan.
Soalnya, Arkan kelihatan begitu cemas sekarang. Dia tidak ingin menambah rasa cemas lagi, tapi ... di sisi lain, dia juga sedang menahan hati yang begitu bahagia sih sebenarnya.
__ADS_1