Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 49


__ADS_3

"Kenapa melamun? Apa yang kamu pikirkan lagi sekarang? Bukankah semua sudah selesai?"


"Selesai?" tanya Maria dengan nada yang penuh dengan keraguan. Bagaimana tidak? Dia yang melamun, tentu saja tidak akan nyambung dengan apa yang Arkan katakan barusan.


"Iya, selesai. Semua sudah selesai kamu lakukan. Sekarang, tinggal fokus dengan masalah kehidupan romantis antara aku dengan kamu."


"Hah? Masalah kehidupan romantis? Kisah cinta maksud kamu?" tanya Maria dengan nada yang sangat tak percaya.


"Hello ... aku datang ke sini bukan untuk itu," kata Maria tanpa memikirkan terlebih dahulu apa yang dia katakan.


Sontak saja, Arkan yang mendengarkan ucapan barusan, dibuat bingung tujuh keliling. Dia memasang wajah yang penuh dengan kebingungan juga meminta penjelasan yang sejelas mungkin pada orang yang baru saja melepaskan ucapan tersebut. Sementara Maria yang baru menyadari ada yang salah dari kata-kata yang dia ucapkan, segera mencari ide untuk menutupi kesalahan yang telah dia buat.


"Mm ... maksud aku ... anu .... "


"Anu apa? Apa yang ingin kamu katakan padaku, ha? Katakan saja sekarang! Jangan berbelit-belit, karena aku sangat tidak suka dengan hal yang tidak jelas."


"Aku ... masih belum ... aku masih ragu dengan kata cinta, Arkan. Bukan aku tidak percaya dengan yang namanya cinta. Hanya saja ... jika untuk kita berdua, aku belum yakin."


Sebenarnya, kata-kata itu Maria ucapkan hanya untuk menutupi salah bicara yang baru saja dia katakan. Dia tidak ingin Arkan tahu soal siapa dia sebenarnya. Dan, dia tidak ingin semua rahasia yang dia punya terkorek hanya karena salah bicara ini.


"Kenapa kamu belum yakin, Maria? Apa kamu sudah punya laki-laki lain? Jika iya, katakan saja langsung sekarang. Aku tidak akan keberatan sedikitpun."


"Oh tidak! Tidak punya. Aku mana punya laki-laki lain. Sejak kecil sampai sekarang, aku tidak pernah ingin jatuh cinta pada laki-laki. Karena aku takut, cinta akan menyakitkan jika salah tempat melabuhkan nya."

__ADS_1


"Kau tidak pernah suka pada laki-laki sejak kecil hingga sekarang? Apakah kata-kata yang baru saja aku dengar itu benar, Ria?"


Seketika, Maria terdiam. Dia baru ingat kalau Maria yang dia perankan ini sangat menyukai orang yang namanya Arkan. Dan orang itu sekarang ada di sampingnya. Yang malangnya lagi, Arkan tahu kalau Maria itu sangat menyukai dirinya sejak remaja malahan.


'Aghh ... kenapa aku jadi kacau begini sih? Apa pukulan itu mengakibatkan pikiranku tidak baik. Adakah pengaruh antara aku dipukuli dengan pikiranku yang kacau seperti sekarang? Ah ... kenapa pikiran ini begitu kacau? Sangking kacaunya, aku bahkan tidak bisa berpikir dengan baik. Tuhan ... tolonglah aku. Bantu aku,' ucap Maria dalam hati sambil memainkan tangannya sendiri.


"Ria .... "


"Hm .... " Maria sedikit terkejut dengan panggilan itu. Tapi berusaha bersikap biasa saja. agar Arkan tidak tahu apa yang sedang dia rasakan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa diam saja?"


"Aku memikirkan semua hal yang baru saja aku alami, Ken. Semua hal yang luar biasa, yang membuat aku sampai tidak bisa berpikir dengan baik."


"Tidak perlu di pikirkan lagi. Semua sudah berlalu. Karena yang berlalu tidak bisa diubah, maka lupakan saja. Sekarang, fokuslah pada pikiran yang akan datang. Karena hari yang akan datang masih bisa kamu tata dengan sebaik mungkin."


"Oh ya, Ken. Hampir saja aku lupa menanyakan satu hal padamu. Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?"


"Tentu saja aku tahu. Karena sebelum kau dipaksa turun dari mobil mu tadi, kau sempat menghubungi aku, kan?"


"Tunggu! Jangan bilang kalau panggilan itu tidak disengaja, Ria. Aku tidak suka hal itu."


Maria memasang wajah tidak enak.

__ADS_1


"Tapi ... panggilan itu memang karena tidak disengaja. Aku tidak ingat kalau aku menghubungi kamu sebelum aku turun dari mobilku."


"Sudah aku duga kalau kamu memang tidak berniat menghubungi aku, Ria. Karena setelah aku menjawab panggilan darimu, yang aku dengar hanya suara gaduh-gaduh saja. Suara gaduh yang tidak biasa, yang membuat aku merasa cemas akan keadaan kamu."


"Kau ... benar-benar mencemaskan aku tadi, Ken?"


"Tentu saja. Kau pikir aku pura-pura," ucap Arkan dengan nada kesal.


Maria tidak menjawab. Dia hanya menatap dengan tatapan sayu saja pada laki-laki yang ada di sampingnya, tapi, laki-laki itu tidak sedang melihatnya, melainkan, melihat ke depan.


'Ken ... aku datang bukan untuk cinta. Tapi, untuk sebuah tugas yang mungkin sudah aku selesaikan semuanya dengan baik. Kita tidak bisa bersama. Karena bagaimanapun, aku dan kamu itu berbeda. Aku ingin bersama kamu selamanya, tapi itu hal yang sedikit mustahil. Karena ini bukan dunia aku. Aku yakin kalau aku akan kembali ke duniaku setelah tugas yang aku jalani selesai. Karena jika aku kembali, kita pasti akan berpisah. Aku tidak bisa menjalani cinta yang seperti ini, Ken."


Maria berucap panjang lebar dalam hatinya. Namun, ada yang tidak dia ketahui dari perasaan yang dirinya sendiri miliki. Sesungguhnya, cinta buat Arkan itu sudah tumbuh dalam hati Maria. Bahkan, cinta itu sudah berkembang bak mawar yang sudah berbunga. Bunganya pun sudah mekar dengan indah.


Akhirnya, mobil yang mereka tumpangi sampai juga di apartemen milik Arkan. Ya, Arkan memilih membawa Maria ke apartemennya untuk diobati dengan alasan, Maria bisa terhindar dari masalah untuk sementara waktu. Setidaknya, sampai Maria benar-benar membaik.


Padahal, menurut Maria, dia sama sekali tidak sakit sedikitpun. Hanya Arkan saja yang terlalu berlebihan menanggapi cedera akibat pukulan yang laki-laki itu berikan.


"Ria, apa kamu tidak keberatan kalau yang memeriksa kamu nanti adalah dokter laki-laki?" tanya Arkan saat mereka tiba di kamar apartemen mewah tersebut.


Belum sempat Maria menjawab, Arkan lagi-lagi bicara. "Sebenarnya, aku keberatan jika yang memeriksa kamu itu adalah dokter laki-laki. Karena cedera yang kamu alami itu di bagian dada soalnya. Tapi ... karena dokter kepercayaan keluargaku adalah dokter ini, yah ... harus bagaimana lagi? Terpaksa aku panggil dia juga."


"Aku tidak keberatan. Bukankah dokter itu memang sudah tugasnya memeriksa pasien dengan baik. Aku yakin, kalau dokter laki-laki atau perempuan, mereka itu sama saja. Mereka hanya menjalankan tugas mereka saja."

__ADS_1


Arkan tidak menjawab. Dia hanya menatap Maria dengan tatapan tajam seolah dia sedang mengetahui sebuah rahasia yang sedang tersimpan rapat.


Merasa risih dengan tatapan itu, Maria menatap balik dengan tujuan agar Arkan tidak lagi menatapnya. Tapi, mereka malahan jadi tatap-tapan satu sama lain. Sampai-sampai, dokter masuk pun tidak menyadarinya.


__ADS_2