
Sampai di depan rumah makan khas padang, Arkan meminta Maria turun setelah mobil dia berhentikan. Sekali lagi, Maria melakukan semua yang Arkan inginkan tanpa berucap sepatah katapun.
"Mm ... kenapa kau hanya diam saja sejak kita keluar dari rumah makan sampai ke sini? Apa ada yang tidak mengenakkan di hatimu saat ini? Jika iya, katakan saja langsung. Aku tidak suka menebak soalnya." Arkan berucap sambil mereka berjalan memasuki rumah makan khas padang tersebut.
"Tidak ada. Tidak ada yang tidak mengenakkan
yang aku rasakan. Hanya saja, aku merasa sedikit rasa tidak percaya dalam hatiku sekarang. Makanya aku memilih diam."
Arkan menoleh.
"Rasa tidak percaya? Tidak percaya pada apa?"
"Pada apa yang baru saja kamu lakukan buat aku di restoran tadi. Aku pikir, kamu akan membiarkan mereka menindas aku seenaknya. Tapi, kenyataannya tidak. Kau malah bela aku dari pada manajer mu itu."
"Aku bela kamu karena kamu benar. Jika kamu salah, mana mungkin aku bisa bela kamu. Lagian, tidak ada yang aneh dengan pembelaan yang aku lakukan buat kamu tadi. Semua orang juga tahu kalau yang salah itu bukan kamu melainkan Elsa."
"Tunggu! Tahu dari mana kamu kalau Elsa itu manajer aku?" tanya Arkan dengan rasa penasaran yang tinggi sambil menghentikan langkah kakinya.
"Itu ... aku dengar dari obrolan para perempuan saat manajer mu itu pertama kali masuk restoran."
"Oh, gitu?"
"Hm .... "
Setelah memesan makanan, Arkan dan Maria kembali melanjutkan obrolan mereka. Maria yang mulai duluan karena dia merasa tidak enak jika hanya diam saja.
"Ken. Apa yang ingin kamu bahas dari pertemuan kali ini?"
"Kamu sepertinya sangat tidak sabaran ya, Ria. Bisakah kita membahas soal itu setelah kita selesai makan? Aku takut kalau pembahasan kita nanti akan mempengaruhi nafsu makan mu."
"Jangan membuang-buang waktu terlalu lama, Ken. Selama kita menanti makanan datang, kita bisa gunakan waktu luang itu untuk mulai membahas apa yang ingin kamu bahas dengan aku soal hubungan kita. Soal nafsu makan ku, kamu tenang saja. Aku tidak akan kehilangan nafsu makan selagi makanan yang tersaji itu enak." Maria berucap sambil memperlihatkan senyum kecil di bibirnya.
__ADS_1
Senyum itu seketika mampu membuat Arkan membatu. Merasakan manisnya senyum itu untuk yang pertama kali menusuk masuk ke dalam hati.
"Ken." Maria memanggil Arkan sambil melambai-lambaikan tangannya karena saat ini, Arkan hanya diam mematung dengan tatapan lurus menatap dirinya.
Maria mendengus pelan karena usaha yang dia lakukan barusan itu tidak menunjukkan hasil baik. Karena Arkan bukannya sadar, eh ... tapi malah semakin melamun dengan bibir yang senyum tipis pada Maria.
"Arkanza!" Maria berteriak sedang sambil menyentuh bahu Arkan dengan sentuhan yang agak keras bagi Arkan. Sontak saja, karena sentuhan itu, Arkan langsung tersadar dari lamunannya.
"Ah! Apa yang kamu lakukan barusan, Maria? Tidak perlu berteriak keras-keras seperti barusan. Kau tahu, aku tidak tuli. Aku masih bisa mendengar apa yang kamu katakan dengan sangat baik."
"Iya jika kamu tidak melamun. Tapi kalo kamu melamun, pendengaran yang kamu miliki walaupun sebaik apapun, tetap saja tidak berfungsi."
"Apa maksud kamu?" tanya Arkan sambil memegang tangan Maria lembut.
"Ah, lupakan saja. Dan tolong, lepaskan tanganku. Aku ingin makan karena aku sudah sangat lapar."
"Makan? Kapan makanan ini datang? Kenapa aku tidak sadar kalau makanan sudah datang ya?"
Aneh sekali. Bukannya marah dengan nada ketus dan terdengar begitu cuek yang Maria ucapkan, Arkan malah semakin merasa gemes dengan Maria. Hatinya semakin merasakan sebuah ketertarikan pada Maria yang sekarang sangat berbeda menurutnya.
Merasa diperhatikan, Maria yang sedang makan langsung menghentikan aktifitas makannya. Dia lirik Arkan yang sedang tersenyum sambil menatap lurus ke arah dia.
"Kamu sudah kenyang kah?" tanya Maria setelah mendengus pelan.
"Hah? Apa?" Arkan terlihat gelagapan saat dia terciduk memperhatikan Maria untuk yang kesekian kalinya. Sambil berusaha bersikap setenang mungkin, dia berusaha menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Siapa bilang aku tidak lapar? Aku lapar kok. Bahkan, sangat lapar," ucap Arkan dengan makanan yang baru saja dia suap kan ke dalam mulutnya.
Arkan bicara dengan mulut yang penuh terdengar sangat lucu bagi Maria. Sekuat apapun Maria berusaha menahan bibir agar tidak tersenyum, tetap saja bibirnya tidak bisa menolak hati yang ingin mengukir senyum atas rasa geli yang matanya lihat.
Maria yang tersenyum sambil memalingkan wajahnya membuat Arkan berhenti mengunyah seketika. Dia tatap perempuan yang ada di hadapannya dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1
Tatapan saja tidak cukup, dia juga harus berucap secara langsung. Karena tatapan itu tidak membuat Maria berhenti tersenyum sambil terus memalingkan wajah.
"Kenapa kamu senyum? Apa ada yang lucu?"
"Eh, ti--tidak ada. Tidak ada yang lucu. Kenapa emangnya? Kalo orang senyum itu harus ada yang lucu dulu gitu?"
"Tidak juga. Tapi, jika tidak ada yang lucu, maka ada yang membuat hatimu bahagia. Karena itu kamu tersenyum. Dan aku ... aku ingin tahu apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Ada yang membuat hati mu merasa geli, atau ada yang membuat hatimu merasa bahagia. Katakanlah sejujurnya padaku sekarang!"
"Ih ... atas dasar apa aku harus mengatakan apa yang aku rasakan padamu? Aku rasa, kamu tidak perlu tahu apa yang aku rasakan. Karena itu tidaklah penting buat kamu."
"Tidak penting?"
"Hm ... iya," ucap Maria sambil menganggukkan kepalanya.
"Ah, ya sudah tidak perlu dibahas lagi. Sekarang, kita harus membahas hal yang paling penting. Aku sudah makan, ayo mulai!"
Maria berucap cepat agar bisa mengalihkan perhatian secepat mungkin.
"Mulai? Yang benar saja kamu, Ria. Kamu gak lihat aku masih makan sekarang? Aku baru mulai makan lho, Ria."
"Siapa suruh kamu makan lama. Aku udah selesai dari tadi, eh ... kamu mulai aja belum. Kalo gitu, aku pergi saja sekarang. Males nemani kamu makan. Lelet!"
"Eh ... enak ajak bilang aku lelet. Kamu yang makannya cepat, tapi malah nyalahin aku lelet. Dasar kamu, Maria .... "
"Apa?" Maria berucap dengan nada menantang.
Arkan yang malas memperpanjang hanya bisa mendengus pelan sambil geleng-geleng kepala. "Huh ... perempuan-perempuan. Mana mau dia kalah."
"Sudah tahu tapi masih mau nyoba. Kan gak punya kerjaan namanya," ucap Maria penuh dengan kemenangan.
"Mm ... sudahlah. Ayo kita bahas soal masalah penting yang aku katakan tadi malam. Aku sudah selesai makan sekarang."
__ADS_1