
"Mm ... sudahlah. Ayo kita bahas soal masalah penting yang aku katakan tadi malam. Aku sudah selesai makan sekarang."
"Tapi sebelum itu, adakah yang ingin kamu katakan terlebih dahulu padaku? Diluar dari masalah hubungan kita berdua tentunya." Arkan berucap lagi dengan tatapan penuh rasa penasaran pada Maria.
Maria awalnya tak percaya dengan pertanyaan itu, tapi ... sebenarnya memang ada yang ingin dia katakan. Dan, itu memang bukan soal hubungan mereka berdua.
"Ada." Maria berucap langsung, namun hanya satu kata saja. Hal itu kembali menarik rasa penasaran dalam hati Arkan.
"Apa?"
"Aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk menjaga orang tua kamu dengan baik. Itu saja."
"Katakan padaku apa alasan dari pesan itu! Aku yakin, kamu pasti punya alasan yang kuat sebelum kamu mengatakan pesan itu padaku, Ria."
"Tidak ada alasan yang kuat. Aku hanya sedang merasa firasat tidak enak setelah aku bermimpi hal buruk terjadi pada mama dan papa kamu."
"Kamu mimpi hal buruk terjadi pada orang tuaku?"
"Iya." Maria berucap singkat sambil menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"Aneh." Arkan berucap singkat sambil memasang wajah tegang.
Hal itu membuat Maria merasa cemas pula. "Kenapa?"
"Kamu mimpi hal buruk terjadi pada orang tuaku, aku juga sama. Aku juga bermimpi buruk tentang keselamatan orang tuaku tadi malam."
"Kalau gitu, mungkin mimpi yang kita dapatkan adalah sebuah pertanda. Ya memang, mimpi hanya sebatas bunga tidur saja. Tapi, tidak ada salahnya jika kita sedikit waspada, bukan?"
__ADS_1
"Aku sarankan, kamu memberikan perlindungan yang ekstra buat kedua orang tuamu, Ken. Dan juga, hati-hati pada orang terdekat yang mungkin adalah musuh. Karena musuh yang paling berbahaya itu bukan yang menyerang secara terang-terangan. Tapi menyerang secara diam-diam dari belakang. Alias, musuh dalam selimut kata pepatah."
"Orang terdekat? Katakan padaku jika kamu punya seseorang yang sedang kamu curigai, Maria. Aku sungguh ingin tahu orang itu."
"Jangan pura-pura. Aku yakin kamu tahu siapa orang yang aku maksud. Karena sejak awal, kamu sudah tidak mempercayai dia. Jika kamu percaya, tidak mungkin dia tidak terlalu dekat dengan kamu. Sedangkan jabatan yang dia miliki adalah asisten pribadimu sendiri."
Arkan tersenyum kecil. Sementara dalam hatinya sungguh merasa salut dengan perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Cara meneliti yang sangat tajam. Tidak ingin mengatakan, tapi pada dasarnya mengatakan dengan sangat amat jelas. Benar-benar perempuan yang luar biasa.
"Kau semakin pintar saja sekarang, Ria. Sungguh-sungguh mampu membuat aku merasa kagum pada pemikiran yang kamu punya."
"Oh ya, adalah lagi yang ingin kamu katakan padaku? Tentunya masih dengan pertanyaan soal pembahasan diluar hubungan kita."
"Masih."
"Apa?"
"Kali ini soal kelanjutan masa depan juga hidupku. Aku ingin minta bantuan kamu lebih tepatnya."
"Aku harap kamu bisa bantu aku, Ken."
"Aku ingin kamu membeli semua saham yang paman ku kelola. Karena aku tidak ingin mereka menguasai hartaku lagi."
Arkan mengernyit mendengarkan apa yang Maria ucapkan barusan. Terdengar cukup membingungkan buat Arkan. Sampai-sampai, dia harus memutar ulang kata-kata itu dalam benaknya secara perlahan. Walau pada akhirnya, usaha itu tidak ada hasilnya sama sekali.
"Apa maksudmu, Maria? Katakan sekali lagi dengan jelas! Aku tidak bisa mengerti sedikitpun maksud dari apa yang kamu ucapkan. Karena yang aku tahu, harta yang paman mu kelola itu adalah harta kamu. Jika kamu tidak ingin mereka menguasai harta kamu, ya kamu tinggal minta pamanmu mengembalikan padamu saja lagi. Apa susahnya? Tidak perlu bantuan aku lagi bukan?"
Maria mendengus pelan.
__ADS_1
"Masalahnya tidak segampang itu, Arkan. Kamu tidak tahu kalau ada surat warisan yang mengatakan, aku tidak bisa mengelola harta mendiang orang tuaku sebelum menikah. Sedangkan setelah menikah, aku harus menyerahkan sebagian harta itu pada orang-orang terdekat yang selama ini hidup berdampingan dengan aku. Apakah itu tidak keterlaluan menurut kamu, Ken?"
Arkan terdiam. Kini dia mengerti sepenuhnya. Maria tidak ingin membagi harta warisan yang dia punya. Maka dari itu, dia ingin Arkan membeli semua aset berharga milik keluarganya.
"Aku paham apa yang kamu maksudkan. Sekarang, jika aku bersedia membantu kamu, lalu apa yang akan aku dapatkan?"
"Maksud kamu?"
"Kamu minta aku beli semua saham, bukan? Jika aku beli, otomatis saham itu jadi milikku, Maria. Lalu, apa yang kamu harapkan dari saham yang sudah jadi milikku? Bukankah itu lebih buruk dari pamanmu yang mengelola."
"Itu lebih baik menurut aku, Ken. Karena mereka sudah puas menikmati hasil dari kekayaan yang aku miliki selama ini. Juga ... jika dengan ada yang ingin membeli saham, maka semua yang menginginkan harta warisan itu pasti akan menampakkan taring mereka masing-masing. Dengan begitu, aku sebagai pewaris sah setidaknya masih punya tempat untuk berkuasa."
"Luar biasa, Maria. Luar biasa." Arkan berucap sambil menggelengkan kepala, juga menepuk tangan pelan.
"Sekarang aku sangat-sangat paham apa tujuan kamu yang sebenarnya. Kau bukan ingin aku sungguh-sungguh membeli saham itu. Melainkan, kau hanya ingin aku membantumu mendapatkan kembali harta warisan yang kamu miliki secara utuh tanpa ada yang mengambilnya sedikitpun."
"Sangat-sangat pintar kamu, Maria. Sungguh sangat pintar. Aku salut padamu, Maria."
"Tidak. Aku tidak cukup pintar. Jangan terlalu memuji aku, Ken. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Bukankah itu hal yang wajar?"
"Iya. Tergolong wajar buat orang yang sangat pintar seperti kamu, Maria. Mm ... sepertinya, kita ini cocok bersatu dalam ikat pernikahan, Maria. Kita bisa saling melengkapi satu sama lain."
Sontak saja. Kata-kata yang Arkan ucapkan barusan mampu membuat dada Maria terasa sesak. Bagaimana tidak? Secara terang-terangan Arkan mengatakan kalau mereka akan menikah. Bukannya membatalkan pernikahan.
"Maria. Kenapa kamu kelihatannya sangat tegang dengan ucapan yang aku lontar barusan? Apa ada yang salah?"
"Mm ... itu .... Kamu yakin ingin menikah dengan aku? Bukankah kamu tidak suka padaku, Ken? Aku pikir, kamu akan membahas soal rencana pembatalan pernikahan saat kita bertemu kali ini."
__ADS_1
"Siapa bilang aku mengajak kamu bertemu untuk bicara soal pembatal pernikahan? Malahan, aku ajak kamu bertemu hari ini untuk membahas soal rencana pernikahan kita. Karena aku pikir, jika kita bersama, maka kita akan mudah untuk melengkapi satu sama lain."
Maria terdiam memikirkan apa yang Arkan katakan. Dalam hati dia berucap, 'apakah tidak ada alasan lain yang lebih baik, Ken? Melengkapi satu sama lain. Yang benar saja.'