
"Hei ... kenapa kau malah marah-marah padaku sih? Jangan kau lampiaskan kekesalan mu itu padaku ya. Karena yang salah bukan aku, tapi mereka."
"Kau juga salah! Aku sedih, bukannya menghibur. Kau malah tertawa terbahak-bahak. Kau menertawai aku. Kau tertawa atas derita yang aku alami. Dasar tidak punya hati. Kekasih macam apa kamu ini, ha?"
"Hei ... aku tertawa karena kau memang pantas ditertawakan, kau tahu? Maria sekarang sudah bukan Maria yang dulu. Dia cukup pintar untuk mengenali siapa temannya. Dan, apa yang dia katakan itu benar adanya lho, Rat. Dia tidak salah kok."
"Rimba! Mau ku bunuh kau hah!" Ratna berucap keras. Cukup keras sampai membuat Maria yang menguping jadi terkaget sampai harus menjauhkan gawai dari kupingnya sejauh mungkin.
"Ya ampun ... sabar-sabar. Jangan marah ya, sayang. Kita akan bahas yang lain sekarang. Mm ... di mana kamu sekarang? Biar aku jemput ya," ucap Rimba dengan nada lemah lembut untuk membujuk Ratna.
"Kenapa baru kau tanyakan sekarang soal keberadaan ku, Rimba? Dari tadi ke mana sama kamu, ha?"
"Maaf, kau tahu aku sangat kaget saat tahu kamu diusir. Jadi, aku lupa menanyakan hal yang cukup penting. Sekarang, katakan di mana kamu, aku jemput sekarang juga."
"Tidak perlu jemput aku. Kita bertemu di tempat biasa saja. Aku ingin membahas soal perubahan rencana denganmu sekarang juga."
"Perubahan rencana, lagi?" tanya Rimba sedikit tidak senang.
"Ya. Perubahan rencana lagi. Kita tidak bisa memakai rencana lama karena rencana lama terlalu lambat. Kita hanya bisa memakai rencana baru yang ada dalam pikiranku sekarang. Karena aku sudah tidak bisa menunggu lama lagi untuk membalas dendam pada keluarga yang tidak tahu balas budi itu."
"Baiklah, terserah padamu saja. Aku ikut apa yang kau inginkan. Semoga rencana kali ini emang benar-benar ampuh."
"Kamu tenang saja. Rencana kali ini aku jamin akan berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Karena aku sudah memikirkan masak-masak rencana ini. Yang jelas, aku bisa balas dendam secepat mungkin."
__ADS_1
"Hm ... baiklah. Apa katamu saja. Aku tunggu sekarang juga."
Panggilan itupun langsung berakhir. Maria terdiam sejenak setelah panggilan itu putus.
"Rencana apa lagi yang sedang mereka susun. Haruskah aku mendengarkan rencana yang akan mereka bicarakan? Tapi ... ini masih senja. Aku tidak mungkin keluar saat waktu seperti ini. Paman dan bibi akan curiga padaku jika aku keluar jam segini."
Memutar otak agar bisa menemukan jalan terbaik yang tidak akan menyulitkan dirinya, Maria berbaring dengan resah. Dan ... dia tiba-tiba ingat akan perkataan Ratna dan Rimba.
Maria segera mengambil ponsel. Membuka kode rahasia, lalu terus mengutak-atik ponsel tersebut dengan wajah serius.
"Huh ... semoga saja semoga saja," ucap Maria dengan nada penuh harap.
Hampir tiga puluh menit menunggu, akhirnya penantian itu tidak sia-sia. Cctv rumah makan padang itu akhirnya memperlihatkan orang yang dia harapkan. Itu Rimba, datang sendirian memasuki ruang VIP. Ya meskipun ruang VIP yang dia masuki berbeda dari yang kemarin, tapi tetap saja, Maria biasa melihatnya. Karena semua cctv di rumah makan itu bisa dia kuasai.
Kurang dari lima menit kemudian, Maria langsung melihat Ratna dari layar gawai yang sedari tadi dia tatap. Ratna sedang menuju ruang VIP tempat di mana Rimba sudah menunggu.
"Nah ... ini dia pasangannya. Benar-benar cocok sekali menjadi pasangan. Sama-sama rakus dan sama-sama gila harta. Sudah hidup mewah, masih ingin mewah lagi. Benar-benar rakus kek tikus," ucap Maria sambil terus memperhatikan keduanya.
Awal obrolan, tidak ada rencana yang keduanya bahas. Hal itu membuat Maria merasa bosan melihat layar ponselnya. Dia pun memilih berbaring dengan mengabaikan layar tersebut. Namun ... baru juga Maria memalingkan wajahnya, Ratna dan Rimba langsung memulai pembahasan mereka soal rencana yang sedang mereka susun.
"Rimba, aku ingin kita mengalihkan sasaran sekarang juga. Jangan pakai godaan perempuan, karena itu tidak akan berhasil buat Arkan."
"Lalu? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
__ADS_1
"Bunuh saja semuanya. Dengan begitu, kita akan bisa menguasai harta mereka semua. Gampang, bukan?"
"Hah? Apa kau sudah gila? Jika kita membunuh mereka semua, maka resiko yang
akan kita hadapi juga akan semakin besar. Yang benar saja kamu. Ingin melenyapkan dua orang saja aku mikir resiko sepuluh kali lipat. Apa lagi mereka semua. Apa aku harus mikir seribu kali lipat, Ratna?"
"Kita tidak punya cara lain lagi sekarang. Aku ingin segera membalaskan dendam ku pada Maria beserta keluarganya. Sedangkan kamu, bukankah kamu ingin segera membalaskan dendam mu pada Arkan dan keluarganya? Jika kita bunuh mereka semua, kita bukan hanya bisa membalas dendam, tapi juga bisa merebut semua harta kekayaan mereka berdua."
"Lagipula, aku rasa ... dengan membunuh mereka semua, kita akan lebih mudah mengurus resiko dari apa yang kita lakukan. Karena tidak ada yang menuntut kita nantinya, bukan?"
"Gila! Kau pikir melakukan semudah membicarakan apa? Tidak semudah itu, kau tahu? Jika kita salah langkah, atau salah jalan. Maka kita yang akan masuk penjara. Membunuh bukan pekerjaan sepele, Ratna. Camkan itu."
"Lalu apa, hah! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku ingin segera membalaskan dendam ini pada mereka. Aku tidak bisa menunggu lama lagi. Karena semakin lama, maka aku akan semakin merasa tersiksa, Rimba. Apa kau tahu bagaimana sakitnya hati ini saat mereka memperlakukan aku dengan cara tidak wajar? Kau tahu, ha?"
"Tenangkan dirimu. Kita tidak boleh melakukan semua itu secara gegabah. Pelan-pelan, tapi berhasil. Jangan turuti hawa nafsumu saja. Kita harus memikirkan semuanya dengan pikiran yang tenang."
"Aku tidak bisa tenang, kau tahu? Karena rasa sakit yang menumbuhkan dendam terbesar dalam hati ini ingin mereka mati. Agar aku bisa bersuka cita atas harta yang mereka miliki. Karena tujuan utama aku mendekati mereka emang karena harta, bukan?"
Rimba hanya bisa menggelengkan kepalanya saja saat melihat sikap keras kepala yang Ratna tunjukkan. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi caranya agar bisa membuat Ratna tenang.
"Rimba! Apa yang kau pikirkan, ha? Kenapa diam saja? Katakan sesuatu yang bisa membuat pikiranku menjadi tenang!"
"Aku sudah katakan, tapi kamu tidak mau mendengarkan. Lalu ... apa yang bisa aku katakan lagi sekarang?"
__ADS_1
"Hais ... dasar kamu tidak bisa aku handal kan. Laki-laki macam apa kamu ini, ha?"