
Lila menatap wajah Kenza dengan tatapan tajam. Anak mata mereka beradu karena saling tatap satu sama lain. Bibir Lila terasa berat untuk dia gerakkan. Tapi tangannya, tidak merasakan hal yang sama.
Bruk! Lila langsung menghambur ke dalam pelukan Kenza. Dia peluk erat tubuh hangat yang berbau sangat harus menenangkan itu. Bau harum yang sangat tidak ingin dia lupakan walau sudah berada di dunia nyata. Dan bahagianya, bau itu tetap sama. Tetap harum tanpa berubah sedikitpun.
Bagaimanapun, orang ini adalah orang yang sudah membuat dia merasakan betapa manisnya rasa cinta. Jadi, mana mungkin dia mau kehilangan laki-laki ini lagi untuk yang kedua kalinya.
"Ria .... "
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi, Ken. Mana mungkin aku bersedia berpisah lagi dengan kamu."
Mendengar kata-kata yang baru saja Lila ucapkan, Kenza langsung mengangkat wajah Lila dengan wajah penuh semangat. Bagaimana tidak, rasa takut yang ada di hatinya, kini sudah musnah. Jawaban itu sudah sangat cukup buatnya.
"Benarkah apa yang kamu katakan barusan, Ria? Jawaban itu ... kau benar-benar bersedia menikah dengan aku secepatnya?" tanya Kenza memastikan jawaban dari Lila sekali lagi agar dia benar-benar yakin.
"Tidak."
"Mariana. Kamu ya .... " Kenza berucap sambil mencubit gemas hidung Lila.
"Panggil aku, sayang. Maka aku akan setuju," ucap Lila mendadak memasang wajah manja.
"Tidak kau minta pun aku akan memanggil kamu dengan sebutan itu." Sekali lagi, Kenza mencubit hidung Lila.
Hal itu langsung membuat Lila memasang wajah kesal.
"Hidungku sudah mancung. Jangan kamu tarik-tarik lagi. Bisa-bisa, dia semakin panjang nanti."
"Biarkan saja. Yang penting, kau tetap paling cantik bagi aku. Karena kau adalah wanitaku satu-satunya buat selama hidupku."
Mereka berdua kembali berpelukan. Kini, tidak ada dilema, tidak ada rasa takut lagi dalam hati Lila. Yang ada hanya rasa bahagia yang paling bahagia. Kebahagiaan yang penuh dengan ketenangan tentunya.
"Aku anggap kau telah setuju untuk menikah dengan aku sekarang, Ria. Jadi ... ayo pertemukan aku dengan mama mertuaku."
"Mama mertua? Calon, tahu gak?"
__ADS_1
"Bentar lagi juga jadi mama mertuaku."
"Heh ... bisa aja. Gak sabaran banget kamu, Ken."
"Aku sudah menunggu terlalu lama, Ria. Enak saja kamu bilang aku gak sabaran. Aku ini adalah laki-laki paling sabar yang pernah ada, kau harus tahu ini."
"Oh ya? Benarkah apa yang kamu katakan itu, Mas Arkanza?"
"Salah wanitaku. Namaku bukan Arkanza, tapi Rakenza. Namun ... nama itu juga kayaknya bagus juga buat aku. Apalagi dengan tambahan Mas, semakin bagus," ucap Kenza sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu juga salah panggil namaku, Ken. Aku Lila, bukan Maria. Tapi ... nggak juga sih. Karena namaku, Lalila Mariana."
Keduanya saling senyum. Lalu, Kenza kembali berucap. "Kalau gitu, mulai sekarang, kamu panggil aku dengan sebutan Mas. Jangan hanya Ken saja. Karena aku merasa, kita seumuran bahkan seperti teman yang tidak punya hubungan spesial jadinya."
"Terserah kamu saja. Yang penting, semua sudah beres," ucap Lila setuju dengan pasrah tanpa ada penolakan sama sekali.
"Beres apanya!"
Keduanya sontak langsung terkejut dengan suara yang tiba-tiba dengan pintu mobil yang terbuka secara bersamaan. Sesaat, Maria ternganga akibat kaget yang melanda. Lalu, matanya melotot melihat orang yang baru saja membuka pintu mobil tersebut.
"Mama?" tanya Kenza pula.
"Ratih. Kenapa kamu malah mengagetkan mereka berdua sih? Aku minta kamu panggilkan mereka, bukan malah membuat mereka jadi kaget," ucap seseorang dari arah belakang mamanya Lila.
Suara orang itu sangat familiar bagi, Kenza. Dia pun berusaha melihat orang tersebut untuk memastikan kalau apa yang dia dengar itu tidak salah.
Benar saja apa yang telinga Kenza dengar. Sontak, matanya langsung membulat setelah melihat orang tersebut.
"Mama!" Kenza berucap dengan nada tak kalah kaget dari Lila sebelumnya.
"Iya, ini aku. Mama kamu. Ayo turun! Lama banget bicaranya. Capek kita nunggunya tahu gak?"
"Eh ... mbak sama aja. Katanya jangan bikin mereka kaget, jangan bikin mereka bingung. Tapi, sama aja tuh sama yang aku lakukan barusan," ucap mama Lila pada perempuan tersebut.
__ADS_1
"Eh, he he he .... Lupa, mbak Ratih. Habisnya, mereka berdua lama banget, bikin kita yang tua-tua ini nunggu mereka terlalu lama. Ya mbak juga jadi ikutan kesal. Kebablasan deh jadinya."
Kedua orang tua itu langsung saling tertawa lepas. Sedangkan kedua anak mereka saling bertukar pandang akibat rasa bingung yang sedang menghampiri.
"Tunggu deh. Ini sebenarnya gimana sih? Kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Kenza tidak bisa menahan rasa bingung terlalu lama.
"Iya, Ma. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tolong jangan bikin kami semakin merasa bingung dengan situasi seperti ini."
"Mm ... anak muda sungguh gak sabaran ya, mbak. Baru aja diabaikan sebentar, udah main paksa-paksa aja mereka," ucap mama Lila.
"Benar, Tih. Kita yang nunggu lama aja gak ngambek. Lah mereka baru kita abaikan bentar udah ngambek banget. Hadeh .... "
"Mama ... tolong dong. Jangan seperti ini. Kami sedang sangat bingung ini, Ma. Bukan karena kami gak sabaran. Tapi .... "
"Ya emang gak sabaran sih sebenarnya," ucap mama Kenza memotong perkataan anaknya.
"Ya sudah, ayo ikut kami makan di sana. Kita akan jelaskan semuanya dengan kalian berdua. Tapi janji, jangan marah, jangan bantah, dan jangan protes lah intinya. Hanya boleh mendengarkan saja. Apa kalian setuju?" tanya mama Lila memberi penawaran.
Saling bertukar pandang untuk sesaat, lalu mereka berdua sama-sama menganggukkan kepala dengan sangat kompak. Kedua mama pun langsung tersenyum melihat kekompakan itu.
"Anak baik. Ayo pergi sekarang!"
Mereka pun langsung beranjak menuju rumah makan yang ada di seberang sana. Sampai di rumah makan tersebut, keduanya hanya diam tanpa berani bicara. Karena sudah menyepakati apa yang kedua mama katakan, maka mereka tidak ingin melanggar kesepakatan walau hati sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Mau pesan dulu?" tanya mama Kenza pada keduanya.
"Gak, Ma (tante). Langsung mulai saja." Keduanya berucap serentak.
Lah kedua mama yang mendengarkan ucapan itu, langsung saling melempar senyum lebar dengan apa yang mereka lihat barusan.
"Kompak banget." Mama Lila berucap dengan nada menggoda.
"Ya nanya juga satu hati, Tih. Ya emang selalu kompak. Gak janjian, tapi filing yang meminta," kata mama Kenza pula.
__ADS_1
Keduanya hanya bisa melepas napas pelan tanpa bisa membantah. Karena mereka ingat akan janji yang telah mereka buat. Jadi terpaksa bersikap pasrah agar kebenaran bisa mereka dengarkan dengan cepat.