
Dia yang awalnya panik, kini malah terlihat begitu santai. Sampai di kamarnya, dia langsung membuka pakaian yang dia kenakan sekarang. Lalu, mengganti pakai itu dengan pakaian lain.
Setelah itu, Maria turun dari lantai atas menuju kamar kecil tempat di mana pamannya menyimpan koleksi berharga kesayangan selama ini. Maria melihat sekilas. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung mengeluarkan motor ninja keluaran terbaru milik si paman.
Namun, sebelum beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Maria sempat menutup plat kendaraan itu agar tidak ada yang tahu. Dia yang selalu hari-hari, memikirkan semuanya dengan sangat teliti.
'Semoga aku masih bisa mengejar Ratna. Atau paling tidak, aku bisa menemukan keberadaan Ratna sebelum mereka membahas soal rencana itu. Uh ... semoga ponselnya dia bawa. Dengan begitu, aku bisa mengetahui keberadaannya.'
Lima belas menit mengendarai motor di jalan raya yang tergolong lengang. Maria merasa kesal karena tidak menemukan orang yang dia cari. Jelas saja tidak bisa dia temukan, orang Ratna bawa mobil kek angin yang bertiup kencang, alias ribut yang menerpa pantai.
Kekesalan itu semakin menumpuk saat dia melacak keberadaan ponsel milik Ratna. Ponsel itu ada di kediaman mereka. Tidak beranjak sedikitpun.
Maria melepas napas berat karena merasa putus asa. Dia sudah menebak kalau ponsel Ratna tidak akan Ratna bawa. Karena dia tahu, Ratna adalah orang yang tidak suka membawa gawai saat melakukan perjalan dekat, atau perjalanan yang hanya akan Ratna lakukan dalam hitungan jam.
Terdengar sangat aneh memang. Tapi, itulah karakter Ratna yang dia ketahui. Entah apa sebabnya. Yang jelas, hal itu sangat menyulitkan Maria saat ini.
Namun, Maria berusaha memikirkan cara lain yang mungkin tidak ada dalam logika manusia normal. Yaitu, mencari semua tempat yang biasa Ratna datangi.
Tapi, tiba-tiba dia ingat dengan tempat biasa yang Ratna dan Rimba selalu datangi. Ide lain juga muncul secara bersamaan. Yaitu, nomor ponsel Rimba yang masuk saat menghubungi Ratna tadi.
Maria mengetuk kepalanya dengan satu jari. Menyesali rasa putus asa yang baru saja dia rasakan. Karena rasa putus asa itu membuat dia kehilangan beberapa waktu hanya untuk berdiam diri di pinggir jalan.
__ADS_1
"Sial! Dunia kecil ini memang menguji rasa sabar juga ketenangan yang aku miliki. Bisa-bisanya aku merasa pusing dan kesal hanya karena masalah sepele. Bahkan, aku juga merasa putus asa. Rasa yang tidak seharusnya aku rasakan hanya karena masalah yang sangat-sangat enteng."
"Huh ... tapi tidak perlu di sesali lagi, Maria. Karena penyesalan itu tidak akan merubah apapun. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah, pergi ke tempat di mana Ratna dan Rimba sedang berada," ucap Maria pada dirinya sendiri sambil memakai helm yang sebelumnya dia lepaskan.
Motor itu dia jalankan kembali menuju salah satu rumah makan yang buka dua puluh empat jam. Terdengar sangat melelahkan buat yang punya rumah makan tersebut. Mereka harus bukan satu hari full tanpa ada istirahat. Tapi, dapat uang cukup banyak mungkin. Itu sebabnya, mereka berani ambil resiko lelah yang besar. Setidaknya, itulah yang Maria pikirkan selama perjalanan menuju rumah makan tersebut.
Maria memarkirkan motor di depan rumah makan tersebut. Di sana, dia langsung melihat mobil milik Ratna terparkir di parkiran.
Tanpa membuang waktu lagi, Maria segera masuk. Dia kenakan masker agar wajahnya bisa tersamarkan dari penglihatan Ratna yang pasti akan mengenali dia dengan sangat baik.
Saat pertama kali menginjak pintu masuk, Maria langsung mengedarkan pandangannya dengan santai. Meski ingin segera menemukan Ratna, tapi dia juga harus terlihat tidak mencurigakan dengan bersikap setenang dan sesantai mungkin.
Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Setidaknya, itulah yang Maria rasakan sekarang. Dia telah menemukan keberadaan Ratna dan Rimba. Tapi sialnya, mereka sedang berada di ruangan VIP yang tidak mungkin untuk Maria masuki.
'Ayo Maria! Kerahkan semua pemikiran emas mu agar apa yang telah kamu lakukan tidak sia-sia. Temukan cara terbaik, supaya kamu bisa masuk ke dalam, Maria.' Hatinya terus memaksa pikiran untuk bekerja.
Dan ... semua itu tidak sia-sia. Seperti yang telah lewat sebelumnya, dia bisa menemukan solusi terbaik untuk mengatasi masalah yang sedang dia hadapi. Maria tersenyum lebar karena hatinya begitu bahagia dengan solusi yang dia punya sekarang.
'Maria cerdas. Kamu tidak perlu masuk ke dalam. Karena yang kamu butuhkan itu adalah bisa mendengarkan apa yang dua orang itu bicarakan. Selama bisa mendengarkan, maka semua tujuanmu sudah tercapai.'
Maria lalu beranjak masuk. Duduk di salah satu meja yang berada tak jauh dari ruang VIP tempat Ratna dan Rimba. Kemudian, dia langsung memanggil pelayan untuk datang ke mejanya.
__ADS_1
"Iya, mbak. Mau pesan apa?" tanya pelayan itu ramah.
"Mau pesan ... mm ... kopi sama nasi goreng aja deh. Eh, nggak. Bukan kopi, teh saja." Maria berucap cepat menggantikan ucapannya yang salah barusan.
Pelayan itu mengangguk paham tanpa mempermasalahkan apa yang Maria katakan barusan.
"Baik, mbak. Tunggu sebentar," ucap pelayan itu dengan senyum manis di bibirnya.
Saat pelayan itu ingin pergi. Maria bergegas menahan tangannya. Sontak saja, pelayan itu langsung menoleh dengan tatapan penasaran ke arah Maria.
"Iya, mbak. Ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Aku ingin ... mm ... apa rumah makan ini punya cctv? Khususnya di ruangan VIP itu?" tanya Maria sambil mengarahkan telunjuk ke tempat Ratna dan Rimba berada.
Pelayan itu menatap Maria dengan tatapan penasaran yang penuh dengan selidik. Dia tidak menjawab langsung apa yang Maria tanyakan. Dia malah melihat Maria dengan seksama.
Paham apa arti tatapan itu, Maria langsung membuka masker yang masih melekat. Dia tersenyum pada pelayan itu dengan senyuman yang sepertinya sedang menahan luka. Senyum getir yang sepertinya sedang menahan kesakitan.
"Aku sedang membuntuti pacarku, Dek. Saat ini, aku sedang mencari kebenaran untuk menguatkan hatiku sendiri atas apa yang aku dengar dari gosip yang beredar. Jadi .... "
Maria tidak melanjutkan kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Dia menggantungkan kata-kata itu begitu saja sambil terus memperlihatkan wajah yang cukup sedih akibat menahan hati yang luka.
__ADS_1
Pelayan yang awalnya menatap Maria dengan penuh selidik juga pikiran buruk, kini mendadak berubah menjadi kasihan. Kini, pelayan itu menatap Maria dengan tatapan penuh rasa iba akan nasib dari gadis malang yang ada di hadapannya.