
Merasa risih dengan tatapan itu, Maria menatap balik dengan tujuan agar Arkan tidak lagi menatapnya. Tapi, mereka malahan jadi tatap-tapan satu sama lain. Sampai-sampai, dokter masuk pun tidak menyadarinya.
Dokter itu merasa masuk tidak pada waktu yang tepat. Dia ingin beranjak meninggalkan kamar tersebut karena tidak ingin mengganggu Arkan dan Maria yang sepertinya sedang membangun suasana romantis buat mereka berdua. Tapi sayangnya, saat dia ingin pergi dengan buru-buru, dokter itu malah menabrak sanding meja yang ada di samping pintu kamar.
Meja kecil tempat meletakkan pot bunga itu pun menjatuhkan barang yang dia tampung karena tabrakan tersebut. Brak! Bunyi benda jatuh ke lantai membuat keduanya terperanjat kaget. Sontak saja, mereka berdua kompak melihat ke arah sumber bunyi yang di sana sedang berdiri dokter dengan wajah tidak enak melihat ke arah mereka.
"Dokter Haikal," ucap Arkan dengan nada kesal.
"Eh ... itu ... anu .... Maafkan saya, Mas Arkan. Saya tidak bermaksud merusak momen hangatnya, mas Arkan. Ini nih ... mejanya salah tarok." Dokter itu berucap sambil menunjukkan meja yang di bawahnya ada pot bunga yang berserakan.
"Aku rasa, meja itu memang sudah ada di sana sejak aku membeli apartemen ini, dokter. Aku tidak pernah menabraknya sedikitpun."
"Ah ... itu .... "
"Ya sudahlah. Tidak perlu di permasalahkan lagi soal meja dan pot bunga yang sudah pecah. Sekarang, aku ingin kamu memeriksa keadaan tunangan ku. Dia tidak sengaja di pukul preman jalanan yang gila karena mabuk. Cepat! Aku takut kalau dia kenapa-napa," ucap Arkan kembali memperlihatkan rasa khawatirnya. Sementara itu, Maria yang ada di sampingnya hanya diam saja tanpa berniat ikut mengeluarkan suara.
"Baiklah. Aku akan mulai sekarang," ucap si dokter dengan langkah cepat menghampiri Maria.
"Aku akan memeriksa bekas pukulan yang kau terima. Tapi tolong, izinkan aku melihatnya terlebih dahulu. Apakah kau bersedia membuka bajumu agar aku bisa melihat bekas pukulan itu?" tanya dokter tersebut dengan nada cukup hati-hati.
__ADS_1
Maria tidak langsung menjawab. Dia malah melihat Arkan yang ada di samping dokter itu. Sejujurnya, dia keberatan membuka baju di depan para laki-laki seperti ini. Saat Arkan bertanya juga, dia lupa kalau dia mengalami pukulan di bagian dada. Tentu saja dia harus membuka bajunya jika dokter biasa memeriksa, bukan? Ah, dia menyesali hal itu. Karena pikirannya yang kacau, dia malah lupa segalanya.
"Ria, kamu tidak perlu melakukan hal itu. Kita akan ke rumah sakit saja untuk memeriksa pukulan yang kau terima. Karena di rumah sakit, pasti ada banyak dokter perempuan. Juga ... masih banyak alat canggih yang memungkin pemeriksaan tanpa harus menyentuh tubuhmu."
"Ah, gini saja. Bagaimana kalau aku panggilkan temanku buat datang ke sini? Dia dokter perempuan. Tentu tidak masalah bukan, jika dia yang memeriksa keadaan tunangan mu ini, mas Arkan?" Dokter itu berucap dengan nada bahagia.
"Bagaimana, Ria? Apa kau setuju?" tanya Arkan meminta pendapat Maria.
Arkan adalah laki-laki yang cukup bisa diandalkan dalam hal menghargai perasaan perempuan. Dia juga punya kepekaan yang cukup tinggi. Buktinya saja, dia tahu kalau Maria sedang keberatan memenuhi apa yang dokter itu katakan tadi.
Maria tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia bahagia sekarang. Bukan karena dokter tidak jadi memeriksa dirinya. Tapi, karena Arkan yang cukup peka dan bisa menghargai keputusan dia tanpa dia meminta lagi.
Seperti yang Arkan minta, dokter Haikal langsung memanggil sahabatnya untuk segera datang ke apartemen tersebut. Sahabatnya pun setuju memenuhi permintaan dokter Haikal, dan dia langsung berangkat.
Kurang dari tiga puluh menit, dokter perempuan itu pun tiba di apartemen Arkan. Dia langsung di sambut hangat oleh dokter Haikal yang mengaku sebagai teman. Namun, Maria bisa melihat sekilas dari sambutan yang dokter Haikal berikan buat dokter perempuan yang dia bilang teman itu, terlihat sedikit berbeda. Itu bukan sambutan sebagai teman, melainkan, sebagai ke kasih.
Namun, Maria memilih tidak menghiraukan semua itu. Karena mau apapun hubungan mereka, selagi itu tidak menyangkut dirinya, maka dia tidak akan peduli.
Dokter itu langsung meminta Arkan dan dokter Haikal untuk menunggu di luar kamar. Karena dia ingin memeriksa Maria berduaan saja.
__ADS_1
Arkan tidak banyak bicara, dia langsung mengikuti apa yang dokter itu katakan. Keluar dari kamar itu bersama dokter Haikal setelah bicara sedikit dengan Maria.
"Kita mulai sekarang. Bisakah kau bukakan bajumu agar aku bisa melihat seperti apa bekas pukulan yang kau terima?" tanya dokter itu setelah mereka hanya tinggal berduaan saja di kamar ini.
Maria tidak menjawab. Namun, dia melakukan apa yang dokter perempuan itu minta. Membuka kemeja yang dia pakai setengah saja. Sedangkan setengahnya lagi, tetap melekat di tubuhnya.
Bekas pukulan itu terlihat sedikit membiru sekarang. Itu hanya sedikit saja, tapi ... dokter itu terlihat sedikit kaget ketika melihat bekas tersebut.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan bekas ini?" tanya Maria penasaran.
"Tidak juga. Ini bekas pukulan yang cukup kuat, tapi kau mampu menahannya seperti tidak merasakan apa-apa. Aku salut padamu. Tubuhmu ternyata cukup kuat, tidak sama seperti gadis pada umunya."
"Aku ... hanya berusaha terlihat kuat saja. Aku lakukan itu agar Arkan tidak cemas. Karena jika aku terlihat lemah, Arkan pasti akan semakin merasa khawatir dengan aku," ucap Maria berpura-pura lemah.
Padahal, jika bagi Maria, luka segitu tidak ada apa-apanya. Karena saat dia memutuskan jadi wanita tangguh untuk melindungi mama dan dirinya sendiri, dia sudah banyak melewati segala kesulitan yang membuat dia sanggup menahan pukulan yang mungkin berkali-kali lebih keras dari yang dia alami sekarang.
"Kau sungguh perempuan yang tangguh gadis muda. Tapi ... tidak seharusnya kau menyimpan rasa ini dari pasanganmu. Karena, ada hal yang harus dia tahu, ada hal yang tidak. Jika itu penting, pasangan kita wajib mengetahuinya. Karena menurut aku, berbagi itu lebih baik dari pada menyimpan semuanya sendiri," ucap perempuan itu sambil mengolesi salep pada memar akibat pukulan yang ada di dada Maria.
Maria terdiam. Kata-kata itu mengingatkan dia pada satu hal. Bukan soal luka yang dia rasakan, tapi soal rahasia yang dia pendam sampai detik ini.
__ADS_1
"Sudah. Aku sudah selesai mengobati kamu. Ini salepnya. Olesi salep ini secara rutin tiga jam sekali. Dengan begitu, memar yang ada di dada mu akan cepat membaik." Dokter tersebut berucap sambil menyerahkan botol salep pada Maria.