Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 57


__ADS_3

Namun sepertinya, Elsa kini sangat berani. Dia dengan cepat menahan tangan Arkan agar tidak beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Sontak saja, Arkan langsung menghentikan langkahnya. Lalu, menoleh ke arah Elsa dengan tatapan tajam yang seolah siap menerkam.


"Tunggu, pak!"


"Apa!"


"Mm ... karena kita sudah bertemu, bagaimana jika kita minum bersama? Kebetulan, aku dan Sinta ingin minum-minum di cafe seberang sana. Pak Arkan bisa ikut kita minum sebagai pelepas lelah." Elsa berucap seolah tanpa ada rasa bersalah juga rasa takut. Tatapan yang Arkan berikan barusan itu ternyata tidak membuat dia merasa takut rupanya.


"Jika kau ingin minum dengan temanmu, kenapa kamu malah ajak-ajak aku? Aku tidak punya waktu untuk minum bersama kalian. Karena aku sedang sibuk bersama kekasihku."


"Apa kau tidak lihat, aku datang bersama wanita kesayanganku? Kami sedang sibuk memilih gaun untuk pesta pernikahan yang akan kami adakan tidak lama lagi."


Gemetar tangan Elsa mendengarkan ucapan Arkan barusan. Dengan rasa sangat tidak percaya, dia tatap wajah Arkan yang berada di hadapannya.


"Ap--apa! Pak Arkan akan segera menikah dengan perempuan ini?"


"Iya. Kenapa? Apa ada masalah buat kamu?"


"Ke--kenapa .... Kenapa pak Arkan malah mau menikah dengan dia, Pak? Masih banyak wanita lain yang lebih pantas buat bapak."


Melotot kesal mata Arkan saat mendengarkan ucapan Elsa barusan. Ingin sekali tangannya melayang buat menampar wajah Elsa karena bicara kata-kata yang tidak pantas seperti barusan. Tapi, untuk saja tangan itu masih Maria pegang.


Sementara Maria. Dia hanya diam saja. Bukan tidak bisa melawan. Tapi dia hanya merasa, tidak perlu ikut melawan karena sudah ada Arkan yang membelanya dengan sepenuh jiwa dan raga.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan barusan, Elsa? Masih banyak wanita lain yang lebih pantas untuk aku? Tahu apa kamu tentang hidupku, ha? Atas dasar apa juga kamu berani bilang kalau Maria tidak pantas untuk aku. Jangan lupakan satu hal, Elsa. Kau bukan siapa-siapa bagi aku. Kau hanya bawahan yang bekerja di perusahaan ku. Itu saja, dan tak lebih."


"Maria, ayo pergi!" ucap Arkan sambil menggenggam tangan Maria dengan lembut.


"Pak Arkan jangan pergi! Aku ingin bilang satu hal pada, bapak. Tolong dengarkan!"


"Apa lagi!"


"Aku suka bapak. Aku pikir, hanya aku yang lebih pantas untuk pak Arkan. Bukan dia, pak."


"Apa kamu sudah gila, Elsa! Kau suka aku? Yang benar saja."


"Benar, pak Arkan. Aku suka sama pak Arkan. Sudah lama aku menyimpan rasa cinta buat bapak. Berharap, pak Arkan menyadari sendiri rasa cinta yang aku miliki. Tapi sepertinya, itu sama sekali tidak benar. Pak Arkan bukan hanya tidak menyadari rasa cinta yang aku punya, tapi malah mau menikah dengan perempuan lain. Perempuannya itu dia lagi," ucap Elsa sambil menunjuk ke arah wajah Maria.


"Elsa! Jaga sikap kamu. Jangan sembarangan kamu tunjuk-tunjuk, Maria. Kau sama sekali tidak pantas jika dibandingkan dengan dia, apalagi bersikap kurang ajar seperti yang kamu lakukan barusan. Kau mengerti?"


Plak! Sebuah tamparan mendarat dengan sangat mulus di pipi Elsa. Sontak saja, Elsa langsung memegang pipinya yang hangat karena bekas tamparan barusan.


"Kamu!" Elsa menatap dengan penuh rasa marah ke arah Maria yang baru saja menampar wajahnya.


"Berani sekali kamu, perempuan ******!" Elsa berteriak sambil ingin memukul Maria. Sayangnya, Arkan segera memasang dada untuk menjadi tameng buat Maria.


"Berani kau sentuh wanitaku walau hanya sedikit saja. Maka kamu akan tahu apa akibatnya." Arkan berucap dengan tatapan tajam penuh dengan kekesalan menatap Elsa.


"Pak Arkan, dia baru saja memukul aku. Apa bapak tidak melihatnya, ha? Aku ingin meminta keadilan dari bapak atas sikap perempuan yang bapak puja-puja ini. Apa bapak tidak bisa membuka mata bapak lebar-lebar? Dia perempuan liar yang tidak bisa bersikap baik."

__ADS_1


"Dia tidak lebih liar dari kamu Elsa. Kau yang menganggap dirimu sebagai wanita baik-baik, bisa-bisanya bersikap lebih buruk dari macam yang tidak punya pikiran. Wajar jika wanitaku memberikan kamu sebuah tamparan. Karena seharusnya, kamu bukan hanya perlu di beri satu tamparan saja, melainkan, sepuluh atau ratusan pukulan sekaligus agar sadar diri, Elsa."


"Pak Arkan!"


Plak! Lagi, satu tamparan lagi mendarat dengan selamat ke wajah Elsa. Elsa kembali memegang pipinya akibat bekas tamparan yang kedua dari Maria.


"Kamu memang tidak bisa bangun dari tidurmu ternyata. Awalnya, aku pikir satu tamparan saja sudah cukup. Tapi sayangnya, tidak sama sekali." Maria berucap dengan nada santai tanpa beban sedikitpun.


"Sayang, ya Tuhan. Apa yang kamu lakukan lagi, ha? Kenapa kamu malah menampar dia lagi sih? Sini ... biar aku lihat tanganmu. Apa ada yang sakit akibat menampar dia barusan," ucap Arkan sambil melihat tangan Maria dengan penuh perhatian juga kasih sayang.


"Aku gak papa kok, Ken. Aku gak nampar dia kuat kok. Cuma dikit aja."


"Ya sudah kalo gitu. Ingat satu hal, lain kali jangan gunakan tanganmu buat mukul orang. Karena kamu punya aku, jadi wakilkan saja padaku jika ingin memukul siapa saja ya."


"Pak Arkan! Apa bapak sudah gila sekarang? Bisa-bisanya .... "


Karena terlalu marah, Elsa kehilangan kendali atas dirinya. Tanpa sadar, dia mengatakan kata-kata yang tak sepantasnya dia ucap buat Arkan. Sementara Arkan yang mendengar ucapan itu, sontak saja langsung menatap Elsa dengan tatapan tajam.


"Kau bisa urus surat pengunduran dirimu besok, Elsa! Karena aku sudah tidak ingin melihat kamu bekerja sebagai manajerku lagi. Bukan hanya sebagai manajer, tapi aku tidak ingin melihat kamu lagi selamanya. Tolong jangan pernah muncul dihadapan ku lagi buat selama-lamanya."


Bergetar tubuh Elsa mendengarkan kata-kata yang Arkan ucapkan barusan. Dia tidak menyangka kalau dia yang bekerja begitu lama dengan mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia miliki, kini di pecat secara terang-terangan dengan tidak hormat. Dipecat dengan alasan cukup sepele lagi.


"Pak Arkan ... anda tidak bisa melakukan hal itu, Pak. Anda tidak bisa memecat saya karena saya adalah staf paling penting di perusahaan bapak."


"Siapa bilang aku tidak bisa memecat kamu. Kau adalah pegawai di perusahaan. Apa sebabnya aku tidak bisa memecat kamu hanya karena kamu staf terpenting, ha?"

__ADS_1


"Pak, tolong jalan lakukan itu. Aku mohon .... "


Elsa tidak punya cara lain lagi sekarang. Dia tidak ingin dipecat, karena jika dia berhenti kerja, maka dia akan kehilangan kesempatan bertemu dengan Arkan, orang yang dia cintai.


__ADS_2