
Karena Maria terdiam, Arkan langsung memetik jarinya di depan wajah Maria. Seketika, gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Eh, iy--iya. Maaf, aku ... sedang melamun karena memikirkan sesuatu."
"Apa yang kamu pikirkan? Kata-kata yang aku ucapkan barusan kah?"
"Hm ... iya." Maria berucap sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa yang salah dengan kata-kata yang aku ucapkan barusan? Perasaan, tidak ada yang salah deh. Tunggu! Jangan-jangan, kamu yang tidak ingin menikah dengan aku, Maria. Kamu sudah punya cara untuk membatalkan pernikahan ini? Benarkah? Jika iya, katakan saja langsung sekarang! Bisa kita bahas sekarang juga."
"Eh, tidak ada. Aku tidak ada cara untuk membatalkan pernikahan kita sekarang. Tapi, aku merasa alasan untuk mempertahankan hubungan kita, lalu melanjutkan kejenjang pernikahan itu sungguh terdengar tidak enak di telingaku."
"He he he .... Alasan tidak enak? Lalu, kamu ingin aku beralasan apa? Alasan cinta?"
Pertanyaan itu langsung membuat wajah Maria merona merah tanpa bisa dia tahan. Sekuat tenaga, Maria berusaha menyembunyikan rona pada wajahnya walau pada kenyataan, itu sama sekali tidak ada hasil.
"Aku tahu, alasan itu akan semakin membuat kamu merasa tidak enak lagi, Maria. Cinta. Sebuah kata yang sulit untuk diterima secara langsung dalam sebuah perjodohan, bukan?"
"Hm ... iy--iya. Benar ... sekali." Maria berucap dengan gelagapan karena menahan hati yang gugup.
"Karena itulah, kita harus menikah untuk menumbuhkan rasa cinta, Maria. Karena dengan selalu bersama, aku yakin, cinta akan tumbuh dalam hati kita masing-masing, walau butuh waktu. Karena cinta itu akan tumbuh secara perlahan."
Maria ternganga. Kaget tentunya dengan penjelasan tentang cinta yang baru saja ia dengar dari Arkan. Laki-laki tampan itu seperti sedang mempermainkan raut wajahnya. Sekali berucap seperti ingin menjatuhkan. Sedangkan selanjutnya, malah menaikkan. Benar-benar membuat Maria merasa di permainkan.
"Ya Tuhan .... " Maria berucap pelan sambil melepas napas berat.
Sontak saja, ucapan itu membuat Arkan memperhatikan Maria dengan seksama. Bagaimana tidak? Kata-kata yang disertai dengusan itu tentu tersimpan maksa yang banyak bagi Arkan.
"Kenapa, Ria? Ada lagi kah yang salah?"
__ADS_1
"Tidak ada. Aku rasa tidak ada yang salah. Dan, sudahi pembahasan tentang hubungan kita sekarang juga. Aku ingin pulang karena aku rasa, pembahasan kita sudah selesai," ucap Maria dengan nada kesal.
"Baiklah. Aku akan antar kan kamu pulang. Soal apa yang kamu inginkan dari aku, kamu tenang saja. Aku akan bantu kamu sebisa mungkin. Dan aku pastikan, kamu gak akan kecewa karena sudah meminta bantuan dari aku."
"Beri aku waktu sebulan. Maka perusahaan juga semua aset kekayaan yang seharusnya jadi milik kamu, akan kamu miliki semuanya tanpa ada cacat sedikitpun."
"Sebulan?"
"Ya. Kenapa?"
"Sebulan terlalu lama buat aku. Apa tidak bisa lebih cepat lagi?"
Arkan menarik senyum kecil di sudut bibirnya.
"Kamu sepertinya terlalu tidak sabaran, Ria. Baiklah kalau gitu, kasi aku waktu dua minggu. Maka semuanya akan beres."
"Jangan tantang aku, Ria. Satu hal yang harus kamu ingat, aku orang yang tidak suka ditantang. Tapi ... jika kamu berani menantang, maka kamu harus punya taruhan agar tantangan itu terasa lebih menarik untuk aku jalani."
"Baik. Kita bikin taruhan sekarang juga. Jika kamu berhasil menyelesaikan masalah ini dan mengembalikan perusahaan atas nama aku secara utuh selama dua minggu, maka aku siap menyerahkan semua keputusan perjodohan di atas tanganmu. Tapi jika kamu tidak berhasil, maka semua keputusan perjodohan kita ada di atas tanganku. Bagaimana?"
"Cukup menarik taruhannya aku rasa. Untuk itu ... kita deal?" Arkan mengulur tangan sambil bibirnya mengukir senyum.
"Yah. Deal," ucap Maria menyambut uluran tangan Arkan secepat mungkin.
Setelah sama-sama sepakat, Arkan dan Maria berpisah. Arkan kembali ke kantor dengan mobilnya. Sedangkan Maria, dia diantar pulang oleh sopir Arkan dengan mobil kantor.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Maria terus memikirkan apa yang Arkan katakan. Kata demi kata yang terdengar cukup membuat dia merasakan sebuah getaran. Cukup aneh jika Maria pikirkan secara teliti. Karena dia bisa merasakan getaran yang tak biasa hanya dengan pertemuan singkat yang baru beberapa kali mereka lakukan.
Sadar akan getaran yang dia rasakan itu tidak benar, Maria segera menggelengkan kepala.
__ADS_1
'Ya ampun Maria ... sadarlah kamu. Kamu datang ke sini bukan untuk asik dengan yang namanya cinta. Melainkan, kamu datang karena misi mengubah sesuatu yang salah. Jika kamu mabuk dengan cinta, maka nasibmu akan sangat menyedihkan. Cinta bisa bikin kamu lalai dan mungkin, kamu akan tinggal di sini buat selama-lamanya.'
Karena kesibukan Maria dengan pikirannya sendiri. Lagi, dia harus diingatkan oleh si sopir jika mobil yang dia tumpangi sudah sampai ke tempat tujuan.
"Nona ... maaf, mobilnya sudah sampai." Sopir itu berucap dengan nada yang terdengar seperti tidak enak hati.
"Eh ... ee ... maaf, pak sopir. Aku ... lagi-lagi gak sadar," ucap Maria juga dengan nada tidak enak karena merasa bersalah juga malu akan apa yang baru saja dia lakukan. Soalnya, ini bukan yang pertama kali dia melakukan kesalahan ini.
"Tidak masalah, nona. Anggap saja tidak terjadi apa-apa."
"Iya baiklah. Aku turun dulu. Terima kasih banyak sudah mau mengantar aku pulang."
"Sama-sama. Sudah kewajiban saya, nona."
Sopir itu lalu meninggalkan halaman rumah Maria. Sementara Maria, dia segera masuk ke dalam rumah sesaat setelah mobil itu beranjak pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Baru juga Maria membuka pintu, dia sudah di sambut dengan tatapan tajam yang menusuk oleh pamannya. Maria tidak bisa menebak apa arti dari tatapan itu. Namun, sebisa mungkin dia bersikap tenang agar bisa melewati hal buruk yang mungkin akan segera terjadi.
"Dari mana saja kamu, Maria? Kenapa baru pulang sekarang? Bukankah kamu keluar sebelum siang?"
"Aku habis makan tadi pa .... "
"Aku tidak mengizinkan kamu menjawab sekarang, Maria!" Bimo langsung memotong ucapan Maria dengan nada tinggi.
"Kau sungguh bikin aku kecewa, tau gak! Kau keluyuran tidak jelas, sedangkan kau tahu apa yang saudara sepupumu alami. Di mana hati nurani mu sebagai sepupu, Maria?"
"Aku tidak keluyuran tak jelas, paman. Aku keluar karena ada hal penting yang aku urus. Lagipula .... "
"Hal penting apa, hah! Makan siang dengan laki-laki? Itu hal penting yang kamu maksudkan? Dasar anak tidak tahu malu, sudah aku besarkan dengan susah payah, malah bikin ulah. Apa yang harus aku katakan jika keluarga Arkan tahu seperti apa sikap ****** kamu saat berada di luar rumah, hah! Jelaskan padaku sekarang, Maria!"
__ADS_1