Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 44


__ADS_3

Maria terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab perkataan Bimo seperti apa. Karena jika dia bantah, Bimo pasti akan semakin memarahinya. Bimo pula akan menuduh dia yang bikin ulah nantinya. Karena dia yang minta Bimo usir Ratna dari rumah mereka.


"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang, Paman?"


"Ya mana aku tahu. Kamu yang bikin ulah. Maka carilah jalan penyelesaian sendiri."


"Lho, kok paman malah nyalahin aku yang bikin ulah. Emangnya, apa salah aku sih?"


"Nanya lagi. Udah tahu kamu yang minta aku usir si Ratna dari rumah kita. Nah ... sekarang, kamu yang harus mikir apa yang harus kita lakukan jika orang tuanya Ratna tahu kalau anaknya sudah tidak tinggal di rumah kita lagi."


Maria hanya bisa mendengus pelan saat mendengarkan kata-kata yang baru saja pamannya ucapkan. Karena apa yang dia tebak, ternyata benar seratus persen. Pamannya telah menuduh dia yang bikin ulah sekarang.


"Hm ... apa sekarang orang tua Ratna masih belum tahu kalau Ratna sudah kita usir, paman?" tanya Maria dengan malas.


"Tentu saja belum tahu. Kalau sudah tahu, mereka pasti sudah datang ke sini nyerang kita. Atau paling tidak, mereka pasti sudah memarahi aku saat menelpon tadi."


Maria memutar wajahnya memikirkan apa yang Bimo ucapkan barusan.


"Kok bisa mereka belum tahu? Apa Ratna tidak bicara dengan mereka? Kayaknya, itu tidak mungkin, paman."


"Ratna emang tidak bicara pada mereka. Bukan tidak, tapi belum. Karena sekarang, yang Ratna bicarakan hanyalah kata, mati kau mati kau, itu saja. Dia terus mengulangi dua kata sejak polisi melakukan penangkapan, sampai peluru di keluarkan dari kakinya, dan ... sampai sekarang. Setidaknya, itu yang aku dengar dari orangnya tadi."


"Oh .... " Maria berucap sambil mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Apa?" tanya Bimo kesal.

__ADS_1


"Tidak ada."


"Hm ... ya sudahlah. Aku harus melihat ke kantor polisi dulu sekarang. Takut dibilang tidak perduli pula oleh kedua orang tuanya si Ratna itu."


"Iya deh. Paman pergi, hati-hati ya."


"Mm .... "


_____


Seakan tidak menganggap Maria ada, semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian pembunuhan malam itu. Ratna masih tidak bicara hal lain selain dua kata yang terus saja dia ucapkan tanpa lelah.


Sementara Tiara, dia yang tidak pernah bicara sejak kejadian itu, harus dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Karena tidak bicara, dia malah mengamuk tanpa henti. Merusak semua barang yang ada di kamarnya. Bahkan, semua barang yang bisa dia lihat, dia rusak semuanya.


Karena terlalu sayang untuk berpisah dari anaknya, Tantri bisa dikatakan ikut tinggal di rumah sakit tersebut buat menemani si anak yang di kurung dalam satu kamar dengan kaki dan tangan terikat. Jika tidak, Tiara akan menyakiti orang yang dia lihat. Atau bahkan, bisa menyakiti diri sendiri karena tidak kesampaian menyakiti orang lain.


Sementara itu, Bimo disibukkan dengan berbagai masalah yang sedang menyerangnya. Baik masalah kantor, maupun masalah pribadi. Jadi, semua konsentrasi Bimo terpecah belah menjadi beberapa bagian.


Hal itu memudahkan Arkan untuk menyerang kantor yang Bimo pegang secara perlahan. Serangan demi serangan terus dia lakukan secara sembunyi-sembunyi. Rencana matang yang dia susun, sudah bisa dipastikan akan berhasil.


Kabar baik datang pula dari Rimba. Dia yang koma selama satu minggu, kini sudah sadarkan diri. Tapi, karena kepalanya yang terbentur cukup keras, mengakibatkan dia kehilang ingatan secara permanen. Juga ... wajahnya cacat tanpa bisa di perbaiki, alias, tidak akan bisa di perbaiki walau dengan operasi plastik.


Tidak hanya itu, Rimba juga tidak bisa berjalan normal. Entah apa lagi yang konslet dari dirinya, yang jelas, dia harus hidup dengan bantuan kursi roda sekarang. Malang. Benar-benar malang sekali nasibnya.


Maria, si dalang tanpa terlihat yang tetap diam di balik layar itupun hanya bisa menikmati pencapaian yang dia dapatkan sekarang. Namun, dia merasa cukup bosan karena semua itu terasa seperti keberhasilan tanpa bekerja keras.

__ADS_1


Untuk menyibukkan diri, dia iseng mencari tahu soal kecelakaan yang kedua orang tuanya alami. Dari keisengan itu, dia mengetahui satu hal yang paling berharga. Kematian orang tuanya itu bukan kebetulan, melainkan, sudah direncana oleh seseorang. Dan orangnya tak lain adalah asisten pribadi orang tuanya sendiri.


"Ya Tuhan, mereka mati karena dibunuh?" Maria berucap dengan nada cukup kaget.


"Jadi ... semuanya ini terjadi memang sudah direncanakan?" tanya Maria lagi sambil melihat map yang dia pegang.


Karena hal itu termasuk kejahatan yang sudah direncanakan, Maria berpikiran untuk menyerahkan semua bukti yang sudah dia kumpulkan selama empat hari terakhir. Tapi, ketika dia ingin menuju kantor polisi, mobilnya tiba-tiba dicegat oleh dua mobil sedan.


Dari kedua mobil itu turun belasan preman. Maria sedikit kaget dengan para preman yang berbadan besar-besar juga kekar itu. Bukan takut, tapi hanya merasa sedikit ngeri. Dia yang kecil, perempuan lagi. Jika main keroyok juga tidak menutup kemungkinan akan kewalahan jika melawan semua preman itu.


Maria memutuskan untuk segera menghubungi Johan. Tapi, dia tahu bagaimana sifat Johan. Tidak akan berani laki-laki itu melawan preman yang bertubuh kekar dan besar ini. Jangankan dengan para preman ini, berhadapan dengan dirinya saja waktu itu Johan tidak berani.


Lagipula, Maria ingat satu hal. Johan sekarang sudah bekerja layaknya laki-laki normal pada umunya. Bekerja banting tulang untuk memenuhi cita-citanya menikahi perempuan impian. Maria tidak ingin mengacaukan impian itu lagi. Syukur laki-laki itu sudah berubah. Tidak mungkin dia tarik lagi dan merusak segalanya.


Tidak sempat menyelesaikan pikirannya sendiri. Maria sudah dipaksa turun dari mobil. Mobilnya di pukul berkali-kali sampai kata bagian depan mobil itu pecah berserakan.


"Turun! Kau turun sekarang juga!" Salah satu preman itu berucap lantang. Hal itu tidak membuat Maria merasa takut sedikitpun. Dia masih santai duduk sambil memegang ponselnya.


"Baik. Aku turun sekarang. Tapi jangan ada satupun yang berdiri di samping pintu mobilku."


"Heh! Tidak ada yang mengajak kamu bernegosiasi sekarang. Turun, atau mobil ini akan hancur."


"Aku tidak mengajak kalian bernegosiasi, abang-abang. Aku hanya mengatakan, kalau aku akan turun jika kalian tidak berada di depan pintu mobilku. Jika kalian ada di depan pintu mobil, bagaimana aku akan membuka pintunya. Tentu akan terhalang oleh badan besar kalian bukan?"


"Jangan banyak bicara, perempuan. Turun sekarang, lalu serahkan bukti yang kau punya."

__ADS_1


__ADS_2