
Soalnya, Arkan kelihatan begitu cemas sekarang. Dia tidak ingin menambah rasa cemas lagi, tapi ... di sisi lain, dia juga sedang menahan hati yang begitu bahagia sih sebenarnya.
Bahagia karena sikap Arkan barusan tentunya.
Sikap cemas, yang terlihat sepertinya sedang sangat-sangat mencemaskan juga terang-terangan mengatakan kalau dia adalah tunangan di depan semua orang. Hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Mendapatkan pengakuan Arkan sebagai tunangan. Uh ... bahagianya. Setidaknya, itulah yang Maria pikirkan saat ini.
Namun, lamunan itu harus berakhir karena panggilan dengan suara keras dari laki-laki dewasa tersebut. Sontak saja, hal itu membuat Maria merasa kesal.
"Baiklah, kita selesaikan pertarungan kita sekarang juga," ucap Maria mantap tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Ria .... " Arkan berucap pasrah dengan nada lemah. Dia tak berharap kalau Maria menyambut lagi tantangan itu. Walau dia tahu, Maria sudah berhasil mengalahkan belasan preman sebelum kedatangannya ke sini.
"Ria ... tolong jangan," ucap Arkan sambil memegang lembut lengan Maria.
"Kau tahu, aku sangat cemas dengan keadaan kamu. Jika kau ingin menyelesaikan pertarungan yang tertunda, wakili saja padaku. Biar aku yang menyelesaikannya."
Maria membalas pegangan lembut itu dengan meletakkan satu tangannya yang lain di atas tangan Arkan.
"Tidak perlu cemas, Ken. Tidak perlu juga kamu yang turun tangan. Aku bisa mengakhiri pertarungan ini sendiri. Percayalah padaku, aku mampu."
"Maria .... "
"Aku bisa, Ken. Percayalah."
Tidak punya pilihan lain selain melepaskan Maria untuk mengakhiri pertarungannya dengan laki-laki dewasa itu, Arkan terlihat cukup lemah saat melepas genggaman tangannya dari lengan Maria. Dengan wajah sangat cemas, dia melihat Maria yang kini sudah berhadapan dengan laki-laki dewasa itu lagi.
__ADS_1
Ketika pertarungan itu mereka mulai, Arkan terlihat semakin cemas saja. Bahkan, saat keduanya saling memukul satu sama lain, Arkan bahkan seperti sedang merasa dirinya yang sedang bertarung di sana.
Sementara Maria, dia yang bertarung dengan hati yang cukup bahagia, kini kekurangan kewaspadaan juga kefokusan. Alhasil, sebuah pukulan langsung saja mengenai dadanya. Sontak, Maria terpental muncul beberapa langkah karena pukulan itu.
"Maria!" Arkan yang melihat hal itu langsung berteriak dengan nada yang sangat cemas. Dia ingin maju, namun Maria mencegahnya.
"Aku baik-baik saja, Ken. Jangan mendekat, biar aku yang akhiri pertarungan ini secepatnya," ucap Maria sambil memegang dadanya yang terasa masih nyeri.
"Cukup tangguh ternyata. Aku pikir, satu pukulan itu mampu membuat kamu jatuh, eh ternyata tidak. Kau hanya mundur beberapa langkah saja," ucap laki-laki dewasa tersebut dengan nada kagum.
"Sepertinya, kita tidak bisa bermain-main lagi sekarang. Aku harus akhiri pertarungan ini secepat mungkin."
"Lah ... yang main-main itu siapa, perempuan? Aku? Mana mungkin. Sejak tadi, aku juga cukup serius meladeni kamu. Dan ... aku lihat, sepertinya kamu juga sama. Serius melawan aku. Jadi, jangan banyak bicara. Ayo lanjutkan lagi. Kita akan berhenti jika salah satu dari kita ada yang kalah. Jika tidak ada yang kalah, jangan harap pertarungan ini bisa usai. Karena aku tidak terima pengakuan kalah, melainkan, aku yang bisa mengalahkan lawan dengan tanganku sendiri. Apa kau paham apa yang aku maksud?"
"Cih ... jangan banyak omong. Ayo buktikan saja langsung dengan pertarungan. Aku ingin lihat, bisa atau tidak kamu mengalahkan aku. Kamu saja barusan sudah aku hadiahkan sebuah pukulan, sementara kamu ... belum ada satupun pukulan yang mengenai aku."
"Baik. Jika itu yang kau inginkan. Kita mulai lagi," ucap Maria sambil maju kembali.
Arkan yang melihat tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya mampu pasrah tanpa bisa mencegah. Dengan perasaan khawatir, dia tatap keduanya yang kembali saling pukul dengan kekuatan masing-masing.
Keseriusan Maria kali ini cukup tinggi. Tekadnya ingin mengalahkan laki-laki itu terlihat sangat besar sekarang. Seperti yang sudah dia katakan sebelumnya, dia tidak ingin main-main lagi sekarang. Dia ingin segera mengalahkan laki-laki dewasa itu dengan beberapa pukulan saja.
Apa yang Maria katakan itu benar. Dia bisa memberikan laki-laki itu dua pukulan sekaligus dengan gabungan dua seni bela diri tingkat tinggi. Maria yang pintar dan mahir, menggabungkan muay thai dengan kungfu dengan sangat luar biasa. Dua kombinasi seni bela diri di dua negara itu dia padukan dengan cukup sempurna. Dan hasilnya, satu pukulan di dada, sementara yang satu lagi di bagian perut.
Laki-laki itu terduduk akibat dua pukulan yang sangat kuat baginya. Dia terbatuk sambil memuntahkan darah segar dari dalam mulut.
__ADS_1
"Augh ... uhuk-uhuk. Uhuk."
Berusaha bangun, tapi tidak bisa sama sekali. Jangankan bangun, bergerak saja sangat sulit buat laki-laki itu sekarang. Dia terus memegang dadanya yang terasa sangat sesak akibat pukulan yang Maria berikan.
Sementara itu, Maria yang sudah tahu kalau laki-laki itu tidak akan bisa melanjutkan pertarungan lagi, berjalan mendekat untuk melihat keadaan si laki-laki dewasa tersebut. Sepertinya, laki-laki itu sedang sangat kesulitan dalam bernapas. Bahkan, wajahnya terlihat sudah memerah akibat jalan darahnya yang tidak stabil.
"Sini aku bantu," ucap Maria sambil berusaha membangunkan laki-laki tersebut.
"Maria! Tidak perlu membantu dia. Biarkan saja polisi yang mengurusnya. Bukankah urusan kamu dengan dia sudah selesai?" Arkan berucap cepat saat melihat apa yang sedang Maria lakukan.
"Jika aku tidak membantunya, dia bisa mati karena darah yang ada dalam tubuhnya tidak dapat mengalir dengan baik."
"Biarkan saja polisi yang mengurus. Mereka akan membawa laki-laki itu ke rumah sakit untuk mengobatinya."
"Dia tidak akan bisa di selamatkan jika harus menunggu sampai ke rumah sakit, Arkan. Jangankan sampai ke rumah, sampai ke mobil polisi saja mungkin dia sudah tidak bisa bernapas lagi," ucap Maria sambil terus fokus dengan apa yang dia lakukan.
Entah bagaimana caranya. Entah apa yang Maria pukul dari tubuh laki-laki itu, dan akhirnya, laki-laki itu terlihat sangat lega karena bisa bernapas dengan baik lagi. Wajahnya yang memerah juga perlahan kembali normal seperti biasa.
"Bagaimana sekarang? Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Maria pada laki-laki itu sambil berdiri dari duduknya.
"Huh ... iya. Aku sudah merasa cukup baik sekarang. Ya setidaknya, lebih baik dari sebelum kau menolongku."
"Terima kasih banyak gadis tangguh. Kau benar-benar gadis yang luar biasa. Kau adalah master sejati yang pernah aku temui selama aku hidup." Laki-laki itu berucap sambil berusaha untuk bangun dari duduknya.
"Kau luar biasa. Benar-benar inti sari master tingkat tinggi. Dengan dua kali pukulan saja, kau mampu mengalahkan aku yang jelas-jelas master tingkat tiga. Penggabungan dua jenis ilmu bela diri dari dua negara yang kau lakukan sungguh sempurna. Pantas kau diakui sebagi gadis tangguh yang luar biasa."
__ADS_1