
Tantri terdiam. Dia tidak lagi berani menjawab. Karena rasa cemas, juga rasa takut kini sudah berkumpul jadi satu menyelimuti hatinya. Maka diam adalah pilihan terbaik untuk menenangkan pikiran.
Hari mulai menjelang senja. Kabar tentang Tiara juga masih belum terdengar. Orang yang Bimo suruh buat melacak keberadaan Tiara, pun belum ada memberi kabar sedikitpun. Mereka yang menunggu dengan wajah tegang, diam dengan pikiran masing-masing.
"Maria. Acara makan malam mu bagaimana? Apa kamu tidak akan datang?" tanya Ratna memecah keheningan di antara mereka.
"Sepertinya ... aku .... "
"Pergilah, Maria! Ayo cepat bersiap-siap! Kamu harus tetap berangkat ke kediaman Arkan untuk undangan makan malam yang telah mereka siapkan buat kamu. Jangan menyinggung mereka," ucap Bimo dengan suara pelan.
"Tapi paman, bagaimana dengan Tiara? Dia belum pulang juga, bukan? Aku tidak ingin pergi sebelum dia kembali. Aku merasa cemas dengan dia, paman."
"Iya. Kamu tidak boleh pergi sebelum anakku kembali. Enak banget kamu pergi senang-senang, sedangkan kami di sini sedang pusing memikirkan anak kami yang tidak kunjung pulang."
"Tantri! Apa yang kamu bicarakan, hah! Maria tidak pergi bersenang-senang. Melainkan, memenuhi undangan dari keluarga calon suaminya. Kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan dia. Karena tidak ada hubungan antara Tiara yang belum pulang dengan Maria yang harus memenuhi undangan dari calon suaminya."
"Tapi, Mas .... "
"Diam! Jangan bantah apa yang aku katakan. Kamu ingin keluarga kita berselisih dengan keluarga Arkan hanya karena putrimu yang tidak tahu aturan dan tidak tahu sopan santun itu, ha? Sudah aku larang keluar, malah keluar. Lihat saja jika aku temukan dia. Tahu apa akibatnya nanti."
"Untuk kamu, Maria. Segeralah bersiap-siap supaya kamu bisa pergi tepat waktu. Jangan buat mereka menunggu kamu nanti. Karena mereka, orang kaya juga terkenal, tidak suka menunggu kita yang hanya berstatus kelas menengah ini."
"Tapi, paman .... "
"Maria. Sudah aku katakan sebelumnya, bukan? Jangan buat mereka tersinggung. Apa kamu paham dengan apa yang aku katakan?" Nada bicara yang berat. Menandakan, orang yang sedang bicara itu sedang berusaha menahan amarah agar tidak keluar bak naga yang menyemburkan api.
__ADS_1
Maria memasang wajah takut. Dia segera beranjak bangun dengan memperlihatkan keterpaksaan yang cukup kuat. Tentunya, hanya sebatas kepura-puraan saja. Karena sesungguhnya, memang itu yang dia harapkan. Pergi ke kediaman Arkan untuk bersenang-senang.
"Ba--baiklah, paman. Aku akan pergi. Hubungi aku jika ada kabar tentang Tiara. Aku juga ingin tahu semua perkembangan Tiara sekecil apapun."
"Iya, kamu tenang saja. Aku akan kabari kamu jika ada kabar soal sepupumu. Kamu pergilah sekarang. Jangan kecewakan aku."
"Baik, paman. Aku janji akan bersikap sebaik mungkin. Meski sekarang, pikiranku sedang tidak karuan memikirkan Tiara yang tidak pulang."
"Tidak perlu memikirkan anak nakal itu. Dia pasti tidak betah di rumah dan mungkin sekarang sedang bersenang-senang. Jadi lupa dengan rumah akibat terlalu sibuk bersenang-senang. Untuk itu, jangan pikirkan dia. Kamu fokus saja sama urusan kamu."
"Iya, paman. Aku permisi ke kamar dulu. Aku akan bersiap-siap sekarang."
"Hm ... pergilah!"
Maria pun langsung meninggalkan ruang keluarga menuju kamar dengan diikuti Ratna dari belakang. Sampai di depan kamar, Maria menghentikan langkah kakinya karena merasa, Ratna juga bersiap untuk masuk ke dalam kamar bersama dengannya.
"Lah, aku tahu kalau kita tidak tinggal di satu kamar yang sama. Aku ikut kamu, karena aku ingin bantu kamu bersiap-siap. Seperti biasa, kamu itu gadis manja yang sangat ceroboh. Selalu melakukan segala sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu. Gadis lemah seperti kamu memang sangat membutuhkan teman yang telaten seperti aku."
Maria terdiam mendengarkan kata-kata yang Ratna ucapkan barusan. Ingin rasanya dia menampar mulut orang yang ada dihadapannya saat ini agar tidak bicara yang membuat harinya merasa kesal lagi. Tapi sayangnya, itu tidak bisa dia lakukan. Setidaknya, bukan saat ini untuk dia melakukan hal itu. Karena jalan masih panjang. Tidak boleh merusak segalanya secara bersamaan atau dia yang akan terima resiko besar sendirian.
Maria menarik napas dalam-dalam. Lalu melepaskan napas itu secara perlahan untuk menetralisir rasa kesal agar tidak dia lampiaskan pada si pembuat kesal.
"Ratna, kamu tidak perlu ikut aku masuk sekarang. Karena aku tidak langsung bersiap-siap setelah masuk. Aku akan mandi terlebih dahulu. Kamu akan terlalu lama menunggu aku jika ikut masuk bersamaku sekarang."
Ratna terdiam memikirkan apa yang Maria katakan. Perlahan tapi pasti, benaknya membenarkan setiap kata yang Maria ucapkan barusan.
__ADS_1
"Sebaiknya, kamu tunggu aku di kamarmu saja. Kamu juga bisa istirahat di kamarmu sambil menunggu aku selesai, bukan?"
Tidak punya pilihan, Ratna pun akhirnya menyetujui apa yang Maria katakan.
"Ya sudah kalo gitu. Aku tunggu di kamarku saja. Jika sudah siap, kamu panggil aku ya. Aku akan segera datang buat merias kamu."
"Hm ... baiklah."
***
Setengah jam kemudian, Maria sudah siap memakai pakaian setelah mandi. Tentunya, bukan baju yang Ratna berikan padanya. Melainkan, baju yang dia beli tadi siang.
Baru juga Maria ingin merias wajahnya dengan make-up yang dia punya, (juga baru dia beli tadi siang). Terdengar ketukan di pintu kamar. Sudah bisa dia tebak siapa yang mengetuk pintu, itu tak lain adalah Ratna.
Benar saja apa yang Maria tebak. Yang mengetuk pintu memang Ratna. Terdengar dari suara yang memanggil nama Maria di depan pintu masuk sekarang.
"Maria! Apa kamu sudah selesai mandi?"
Maria tidak menjawab pertanyaan itu. Bukan tidak mendengar, tapi sengaja tidak ingin karena dia sedang sangat malas.
Karena tidak mendapatkan jawab, Ratna kembali berteriak. "Maria! Apa yang kamu lakukan di dalam? Kenapa pintunya pakai kamu kunci segala sih? Bagaimana aku akan masuk jika pintunya kamu kunci?"
"Ah! Dasar gadis ceroboh. Apa sih yang dia lakukan sekarang? Gak mungkin kalau dia masih mandi, kan? Ini sudah lewat dari setengah jam."
Karena tidak mendapat jawaban, Ratna memilih kembali dengan perasaan kesal. Dia kembali karena dia pikir, Maria pasti akan mencarinya nanti saat selesai mandi. Karena biasanya, Maria sangat bergantung padanya untuk urusan sekecil apapun.
__ADS_1
Setengah jam pun kembali berlalu. Maria sudah selesai mendandani wajahnya dengan dandanan yang sederhana lebih ke arah natural. Sebenarnya, dia sudah selesai sejak tadi. Hanya saja, dia sengaja memilih berdiam diri di kamar itu sambil menunggu gerakan Ratna selanjutnya.
Ternyata, Ratna tidak datang lagi setelah kedatangannya yang tadi. Hal itu membuat Maria sedikit merasa tenang. Dia bisa melepas napas lega dan memilih segera keluar dari kamar untuk menunggu jemputan datang di ruang tamu.