
Maria tertawa dalam hati. Bukan karena merasa bahagia dengan apa yang pamannya katakan, melainkan, merasa geli dengan kata-kata yang sepertinya orang pasrah setelah tidak punya pilihan lain selain satu pilihan saja.
"Baiklah, paman. Aku akan katakan hukuman apa yang aku mau paman berikan buat mereka. Karena rumah ini sudah tidak aman lagi buat aku, aku ingin paman belikan aku rumah baru."
Sontak saja, kata-kata itu membuat Bimo kaget sampai membelalakkan matanya. Sangking kagetnya, mungkin dia juga sulit untuk bernapas sekarang.
"Itu bukan hukuman buat mereka, Maria. Tapi itu adalah keuntungan buat kamu. Permintaan kamu ini sedikit tidak waras, tahu gak? Kamu minta aku belikan rumah baru, padahal kamu tahu, kita sekarang sedang mengalami kesulitan yang besar. Beberapa hari yang lalu, kamu menghilangkan enam kartu beserta semua barang berharga milikmu. Selanjutnya, kita kena musibah lagi dengan keadaan adik sepupumu yang tidak bisa diajak bicara sepatah katapun. Dia sekarang lebih mirip boneka bernyawa. Dan itu juga butuh uang yang banyak, Maria. Sekarang, kamu bikin ulah lagi. Minta aku belikan rumah baru. Di mana pikiran kamu, Maria."
Maria terdiam sejenak.
'Sudah aku duga, kalau dia tidak akan mau membelikan aku rumah. Padahal, yang punya harta inikan aku, bukan dia. Tapi ... ah, ya sudahlah. Ini juga akting saja. Kenapa aku harus benar-benar kesal karena tidak mendapatkan apa yang aku inginkan? Toh ini cuma penggalan rencana saja kok ya."
"Aku tahu kamu sedang dalam kesulitan sekarang, paman. Sebenarnya, aku juga tidak ingin menambah beban kamu. Tapi ... aku sudah tidak kuat lagi tinggal satu rumah dengan orang-orang yang tidak suka padaku. Maka dari itu, aku minta paman belikan aku rumah."
"Tapi ... paman juga tidak perlu membelikan aku rumah jika paman bersedia mengeluarkan orang-orang yang tidak suka padaku. Terutama, orang lain yang hidup menumpang, tapi sayangnya tidak sadar dengan status menumpang nya itu." Maria berucap sambil melirik Ratna.
Sontak saja, perkataan Maria barusan itu membuat mata Ratna membulat tak percaya. Bagaimana tidak? Dia tahu persis siapa orang yang menumpang yang Maria maksudkan barusan.
"Maria. Kamu minta paman usir aku? Kamu bilang aku menumpang tapi tidak sadar diri? Kau ... kau benar-benar manusia yang tidka tahu terima kasih, Maria. Jelas-jelas aku ada di sini karena kamu."
__ADS_1
Ratna berucap dengan nada tinggi karena sekarang, dia benar-benar sangat-sangat amat kesal. Ingin sekali rasanya dia memukul Maria agar sadar diri. Tapi sayangnya, dia tidak bisa melakukan itu.
Sementara Maria, dia tahu apa yang Ratna rasakan sekarang. Dan dia bahagia dengan usahanya yang berhasil membuat Ratna marah.
"Kau sudah gila, Maria? Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan itu? Tapi ... jika dia pergi dari rumah ini juga bagus sih. Jadi berkurang juga beban keluarga ini karena perginya satu beban," ucap Tantri dengan senyum penuh ejekan pada Ratna.
Semakin gerhana lah hati Ratna ketika mendengar ucapan Tantri barusan. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan apapun untuk melawan keluarga ini. Jangankan melawan, bicara saja dia tidak punya kata-kata sekarang.
Sementara itu, Bimo terlihat masih bingung dengan tindakan apa yang harus dia ambil sekarang. Karena permintaan Maria itu sedikit sulit dan terdengar sangat tidak masuk akal.
Bagaimana tidak? Maria dan Ratna itu sudah seperti isi dengan kuku. Tidak terpisahkan, dan selalu menempel ke mana-mana berdua. Ratna adalah orang penting pertama buat Maria sejak kecil sampai remaja. Lah sekarang, entah kenapa bisa jadi seperti ini. Hal itu yang mengganjal dalam benak Bimo.
Tantri yang melihat suaminya diam saja tanpa memberikan satu keputusan pun, merasa tidak sabar lagi. Dia langsung berjalan mendekat, lalu memegang tangan suaminya.
"Dan sekarang ... mungkin Maria sudah sadar dari pengaruh guna-gunanya si Ratna. Maka dari itu dia minta papa usir si benalu itu."
"Aku bukan benalu, bibi! Aku hadir di sini juga karena kasihan pada, Maria. Tapi sayangnya, orang yang aku kasihani sama sekali tidak tahu balas budi. Sudah mau nikah, malah membuat aku yang jelas-jelas sudah bersama dengannya selama belasan tahun." Ratna berucap dengan nada yang cukup tinggi sambil melihat Maria.
"Oh ... kau kasihan padaku, Ratna? Benarkah apa yang kau katakan itu? Kasihan? Jenis kasihan seperti apa yang kau punya. Tega-teganya kau fitnah aku di depan keluargaku. Itu yang kau katakan kasihan, hm?"
__ADS_1
"Kau tidak tahu apa-apa tentang itu, Maria. Aku punya maksud tersendiri dengan apa yang aku lakukan."
"Kalau begitu, aku juga sama. Aku juga maksud tersendiri dari niat aku mengusir kamu. Jadi ... kita impas."
"Paman. Kamu punya dua pilihan. Tetap pertahankan Ratna tinggal di rumah ini, atau belikan aku rumah baru. Selain dua pilihan itu, maka paman tidak punya pilihan lain," ucap Maria dengan tegas.
"Kamu yakin dengan keputusan yang baru saja kamu katakan, Maria? Paman tidak ingin kamu menyesal karena telah salah mengambil keputusan."
"Apa maksud paman?"
"Kamu sedang marah sekarang, Maria. Sebaiknya, kamu tenangkan pikiranmu terlebih dahulu. Pikirkan baik-baik keputusan apa yang akan kamu ambil selanjutnya. Kemudian, baru kamu katakan pada paman lagi nanti."
"Mas, keputusan sudah dia ambil. Kamu minta dia pikirkan lagi? Yang benar saja kamu, Mas." Tantri terlihat sangat kesal sekarang.
"Apa yang paman katakan itu benar, Maria. Kamu butuh waktu memikirkan semua keputusan ini dengan baik. Pikirkan lah apa saja yang telah aku lakukan buat kamu. Semua yang kita lalui bersama selama belasan tahun, apa itu sungguh tidak ada artinya buat kamu, Maria?" Ratna bicara dengan nada sangat lembut sekarang. Karena dia berharap, Maria akan mengubah keputusan yang baru saja dia ambil.
Cukup kesal dengan apa yang baru saja terjadi, Maria mengambil napas dalam-dalam. Lalu, membuang napas itu secara kasar untuk menetralisir rasa hatinya.
"Paman, apa yang bibi Tantri itu katakan barusan ada benarnya. Aku sudah mengambil keputusan, jadi ... tidak ada yang harus aku pikirkan lagi."
__ADS_1
"Aku sudah lelah pura-pura bahagia dengan teman seperti dia. Manis di depan, tapi menusuk di belakang. Pura-pura baik dengan mengatasnamakan persahabatan. Tapi pada dasarnya, yang dia lakukan adalah untuk kepentingannya sendiri. Apakah paman tidak bisa melihat semua itu, hm?"
Suasana mendadak hening. Tidak ada yang berucap satu patah katapun dari mereka semua. Namun, hening nya suasana itu tidak seperti pemikiran mereka. Karena mereka sekarang sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing.