
Namun, keputusan yang Arkan buat itu tidak akan ada yang bisa mengganggu gugat. Karena dia adalah pimpinan tertinggi dalam perusahaan itu.
Elsa kesal. Sangat-sangat kesal sekarang. Tidak terima dengan apa yang Arkan lakukan padanya, itu sudah pasti. Karena hal itulah, dia menyusun rencana balas dendam buat Arkan.
Elsa dengan bantuan Rika, mengambil semua file penting perusahaan. File penting yang bernilai ratusan juga atau lebih tepatnya, kelanjutan sebagain hidup perusahaan itu dia curi.
Dia berencana akan menggunakan file itu untuk mengancam Arkan agar mau menikah dengannya. Tapi sayangnya, saat perjalanan pulang dari aksi pencurian itu, mobil yang Elsa kendarai mengalami kecelakaan tunggal.
Mobil itu malah menabrak pohon yang ada di pinggir jalan akibat Elsa mengendarai mobil secara ugal-ugalan. Elsa di nyatakan koma, sedangkan Rika yang ada di sampingnya, tidak bisa diselamatkan lagi akibat kehilangan banyak darah.
Rika mati dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sementara itu, Elsa selain koma, dia juga akan di jadikan tersangka atas kasus pencurian file berharga tersebut. Yang tentunya, setelah sadar dari koma, dia pasti akan dipindahkan ke kantor polisi sebagai tahanan atas kasus yang menjerat dia saat ini.
_____
Satu bulan telah berlalu. Maria masih terap berada di samping Arkan sampai saat ini. Dia juga tidak tahu apa sebabnya dia masih belum ditarik kembali dari dunia kecil ini.
"Apakah aku akan tinggal di sini selamanya? Apa ini karena aku dan Arkan saling jatuh cinta? Sampai-sampai, aku tidak punya kesempatan untuk kembali. Kalau begitu .... "
Belum sempat Maria menyelesaikan perkataannya, dia yang duduk di kursi kebesaran yang menjabat sebagai pemimpin perusahaan tersebut, kini langsung melihat ke arah pintu. Karena barusan, seseorang sedang mengetuk pintu ruangan ini.
"Ya, silahkan masuk!" ucap Maria sambil berusaha pura-pura fokus pada laptop yang ada di hadapannya.
Pintu terbuka bersamaan dengan munculnya, Arkan yang sedang memperlihatkan senyum manis pada Maria. Laki-laki yang sedang memakai stelan kemeja kantoran itu, sedang menyembunyikan sesuatu di tangan yang dia kelit kan ke belakang.
"Sayang!"
"Ken." Maria berucap sambil membalas senyum manisnya Arkan.
"Masih fokus aja sama kerjaan. Udah, santai dulu. Aku punya sesuatu untuk kamu."
"Apa?" tanya Maria dengan perasaan sangat bahagia.
"Apa ya?" Arkan berucap sambil memperlihatkan wajah bingung. Seolah-olah, dia juga memikirkan apa yang sedang dia punya untuk Maria.
__ADS_1
"Arkan ... ih. Jangan bikin aku penasaran. Kau tahu, aku adalah orang yang tidak punya banyak kesabaran."
"Itu kata-kata aku sayang. Jangan nyolong kata oke," ucap Arkan sambil mencubit manja hidung Maria.
"Biar aja. Weeek .... "
"Kamu ya .... Nguji kesabaran aku banget deh kek nya. Gak sabar buat menghalalkan kamu tahu gak?"
"Heh ... kok ngelantur ke sana ke mari. Sudah cepat! Katakan apa yang kamu punya untuk aku."
"Mm ... aku punya ... ini dia. Tara .... "
Arkan mengeluarkan apa yang sedang dia sembunyikan di belakangnya sejak tadi. Maria membulatkan mata saat melihat apa yang Arkan punya untuk dia. Itu adalah sebuah buket. Namun ... isi buket itu bukan bunga melainkan coklat.
"Ken .... " Maria tersenyum begitu bahagia dengan mata yang terus melihat ke arah bujet coklat tersebut.
"Nih ... untuk permaisuri ku satu-satunya." Arkan berucap sambil menyerahkan buket coklat tersebut pada Maria.
"Lah ... katanya tidak mau. Tapi barangnya kamu terima. Kok bisa kebalikan seperti itu ya?" Arkan berucap dengan nada menggoda.
"Aku tidak mau jadi permaisuri kamu. Bukan tidak mau dengan buket kamu."
"Lah ... kok tidak mau jadi permaisuri aku? Kenapa? Katakan apa alasannya!"
"Karena permaisuri, pasti akan ada selir lainnya, Ken. Aku tidak suka itu. Aku tidak suka membagi cinta dengan siapapun kecuali orang tua yang telah membesarkan kamu."
"Ah ... benar juga apa yang kamu katakan. Kalau gitu, aku tidak akan menjadikan kamu permaisuri ku. Tapi, aku akan jadikan kamu istriku satu-satunya selama aku hidup."
"Nah, itu baru benar. Ingat kamu ya, aku tidak akan mengizinkan kamu membagi cinta."
"Tidak akan, istriku."
"Oh ya ... aku juga sebenarnya punya satu kejutan lagi buat kamu. Mm ... bukan kejutan sih sebetulnya, melainkan hadiah."
__ADS_1
"Hadiah? Apa lagi?" tanya Maria antusias. Seketika, perhatiannya teralihkan seketika.
Arkan langsung merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan boks kecil berbentuk hati dari saku celana tersebut.
"Ini dia .... " Arkan berucap sambil memperlihatkan boks itu ke hadapan Maria.
"Apa lagi ini, Ken?" tanya Maria sambil memperhatikan apa yang ada dihadapannya.
"Ini .... " Arkan menggantungkan kalimatnya. Dia malah membuka kotak tersebut dengan hati-hati.
"Cincin?" tanya Maria agak bingung.
Bagaimana tidak bingung? Ini bukan cincin yang pertama dari Arkan. Ini sudah yang kesekian kalinya. Jika di jumlahkan, mungkin sudah ada belasan cincin sekarang yang Arkan berikan buat dia. Bagaimana caranya dia memakai banyak cincin?
"Iya. Ini cincin, Ria. Cincin ini bukan cincin sembarangan. Melainkan, cincin pengikat kasih sayang antara aku dan kamu. Kali ini, aku meminta kamu memakaikan cincin ini selalu di tanganmu. Tolong jangan di lepaskan."
Semakin penasaran lagi hati Maria sekarang. Yah, biasanya, Arkan memang memberikan cincin buat dia. Tapi, Arkan tidak meminta dia memakai cincin itu, melainkan, hanya meminta menyimpan kan saja cincin yang dia berikan.
Namun kali ini, Arkan meminta memakaikan selalu cincin itu. Entah apa alasannya, Maria juga tidak tahu. Dan tidak ingin tahu karena malas buat menanyakan semua itu. Yang terpenting bagi Maria, apa yang Arkan berikan adalah hal istimewa dan selalu istimewa.
"Izinkan aku memakaikan cincin ini pada jari manis mu, Ria."
Maria tidak menjawab dengan kata-kata. Melainkan, hanya menjawab dengan anggukan kecil saja sambil membuka tangannya.
Tidak menunggu lama. lagi, Arkan langsung memasangkan cincin tersebut di jari manis Maria. Cincin itu terpasang dengan sempura. Benar-benar cocok, dan sangat pas tanpa ada cacat sedikitpun.
Sepertinya, cincin itu memang dibuat untuk Maria. Ukuran jari yang sempurna, seperti telah diukur sebelum dibuat. Padahal, sama sekali tidak.
Maria melihat kagum cincin berlian yang tersemat indah di jari manis tangannya. Cincin yang paling indah selama dia hidup. Berlian dari cincin itu berwarna hijau terang. Sangat cantik sekali.
"Apa kau suka cincin ini, Ria? Aku khusus membuatnya untuk kamu. Eh, maksudku, bukan aku yang membuatnya. Tapi, pengrajin yang membuat cincin ini atas permintaanku."
"Oh ya, satu lagi. Bisakah kamu memasang yang satu ini untuk aku?" tanya Arkan tanpa menunggu jawaban Maria atas pertanyaan yang sebelumnya.
__ADS_1