Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 22


__ADS_3

"Apa ini, Maria? Apa maksudnya semua ini, ha? Kenapa kamu beri aku baju bekas yang sudah buruk dan sangat lusuh ini? Kamu pikir aku apaan?"


"Lho, kamu yang minta, kan? Bukan aku yang sengaja ingin memberikan baju itu padamu, Ratna." Maria berucap dengan nada santai penuh dengan kelembutan.


"Dasar Maria .... " Ratna tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dia sadar dengan apa yang akan dia ucapkan, maka dia tidak melanjutkan lagi kata-kata itu.


Sementara Maria, dia sudah tak sabar lagi menunggu Ratna menyelesaikan apa yang akan Ratna katakan padanya. Meski sebenarnya, dia tahu apa kelanjutan dari kata yang akan Ratna katakan untuk dirinya.


"Aku apa, Ratna? Katakanlah! Kenapa kamu tidak menyelesaikan kata-kata yang kamu ucapkan barusan, hm?"


"Tidak ada. Tidak ada yang ingin aku katakan." Dengan susah payah, Ratna mencoba memperbaiki apa yang baru saja dia rusak karena terlalu emosi. Dia berusaha tersenyum walau sepertinya, itu sangat berat dan terlalu sulit.


"Ya sudah, Maria. Aku ke kamar dulu. Aku ambilkan baju yang cocok untuk kamu pakai nanti ya. Aku juga akan bawakan semua perlengkapan buat mendandani kamu. Aku pastikan, kamu akan terlihat sangat cantik malam ini."


Selesai berucap, Ratna langsung meninggalkan kamar tersebut dengan langkah besar. Sementara Maria, dia hanya tersenyum melihat Ratna yang sedang berusaha bersikap baik dengan susah payah.


"Aku tunggu kamu datang, Ratna. Aku ingin lihat, seperti apa baju yang kamu siapkan untuk aku," ucap Maria sambil tersenyum menyeringai dengan mata melihat pintu.


Maria pun akhirnya memilih duduk untuk melepas lelah. Dia sangat lelah dengan semua yang telah terjadi di dunia kecil ini.


"Huh ... dunia ini cukup melelahkan. Aku harus mengeluarkan tenaga ekstra buat mengurus dan menghadapi semuanya. Benar-benar bikin aku gak bisa bernapas dengan tenang."


Maria mengambil ponsel untuk melihat jam. Dia kembali melepas napas berat dan kasar.


"Huh! Andai saja dia tidak datang, aku pasti bisa menggunakan waktu yang sedikit ini untuk istirahat. Sekarang, waktu yang sedikit itu sudah habis terbuang begitu saja."

__ADS_1


Maria mencoba menutup mata. Tapi ... lagi, suara Ratna membuat dia harus bangun dengan segera.


"Maria! Kok malah tidur lagi sih? Ini bajunya. Cobain," ucap Ratna sambil menyerahkan baju yang dia bawa.


Maria menerima baju itu dengan sangat penasaran. Baju dengan warna merah pekat itu terlihat masih lumayan baru dan masih bagus. Tapi sayangnya, baju itu terlalu terbuka. Dress tanpa tangan dengan bagian dada yang sangat-sangat lebar ke bawah. Juga bagian bawah yang terlalu singkat. Itu lebih mirip pakaian yang kekurangan bahan.


Maria melirik Ratna setelah dia puas memperhatikan baju yang dia pegang.


"Kamu yakin aku cocok memakai gaun ini untuk datang ke acara makan malam pribadi yang orang tua Arkan siapkan, Ratna?"


"Tentu saja aku yakin, Maria. Dress itu sangat cocok buat kamu, tahu gak? Kamu pasti akan terlihat sangat cantik di mata Arkan nantinya."


"Oh, benarkah begitu?"


"Tentu saja."


"Oh, Ratna. Terima kasih banyak, kamulah sahabat terbaik yang aku punya. Kamu adalah penolongku. Sekali lagi, terima kasih banyak, sayangku." Maria berucap dengan posisi mereka yang masih berpelukan manja.


Mendengar ucapan itu, Ratna kembali mengukir senyum yang terlihat penuh dengan kelegaan.


"Sudah aku katakan, cuma aku yang mengerti dengan kamu, Maria. Jadi, jangan ragukan apa yang aku katakan. Dan juga ... tidak perlu berterima kasih padaku. Aku melakukan semua ini karena aku teman baikmu. Sebagai teman kamu satu-satunya, aku akan melakukan semua yang terbaik, Maria."


'Terbaik, kepalamu. Kau hanya ingin mempermalukan aku dengan menyarankan aku melakukan hal-hal yang sama sekali tidak aku sukai. Yang pastinya, sangat-sangat tidak cocok buat aku. Oh Tuhan ... jika aku Maria yang sesungguhnya, mungkin aku akan mendengarkan apa yang dia sarankan. Karena dia bicara dengan kata-kata yang terbilang sangat manis dengan landasan teman baik. Ah, menyebalkan sekali.'


"Iya. Kamulah yang terbaik buat aku, Ratna."

__ADS_1


"Sudah, ayo cepat pakai! Kita akan langsung merias wajahmu agar kamu bisa cantik pergi ke acara nanti malam."


"Hah? Kamu serius dengan apa yang kamu katakan barusan, Ratna? Kamu ingin aku pakai pakaianku sekarang? Kamu gak sadar, ini baru jam lima lewat dikit doang."


"Aku tahu ini baru jam lima lewat. Aku minta kamu dandan sekarang, supaya kamu cantik maksimal karena berdandan tidak di kejar waktu lho, Maria."


"Oh gitu? Tapi sepertinya, aku tidak perlu berdandan sekarang. Makan malam akan diadakan jam tujuh tiga puluh. Aku baru akan dia jemput jam tujuh. Jadi, masih ada dua jam untuk aku santai di sini. Jadi, untuk apa. buru-buru bersiap-siap sekarang?"


"Kamu kok gak ngerti apa yang aku katakan, Maria? Dua jam itu waktu yang sangat singkat buat aku merias kamu. Kamu ngerti nggak?"


Belum sempat Maria menjawab apa yang Ratna katakan, terdengar keributan dari luar. Hal itu sontak mengalihkan perhatian mereka berdua dari topik pembahasan yang mereka bahas.


"Apa itu? Ada masalah apa lagi dengan paman dan bibi kamu, Maria?"


"Mana aku tahu. Bukankah kita sama-sama di sini saat mereka ribut. Jadi, kenapa malah bertanya padaku?"


Ratna mendengus kesal. Lalu, mereka berdua langsung memutuskan untuk keluar buat melihat apa yang terjadi.


Tapi sepertinya, Maria sudah tahu apa penyebab keributan itu. Paman dan bibinya pasti meributkan soal Tiara yang masih belum pulang padahal hari sudah sore. Mana Tiara sedang dalam masa hukuman lagi.


Sampai di ruang tengah, atau lebih tepatnya, ruang keluarga. Maria langsung bertanya tentang apa yang membuat paman dan bibinya ribut. Sebagai tanda tidak bersalah juga tidak tahu apa-apa. Biar tidak ada yang menaruh rasa curiga saja sebenarnya.


"Tiara tidak tahu di mana keberadaannya sekarang. Bibi mu bilang, dia sudah tidak ada di rumah sejak tadi pagi. Tapi sekarang, hari sudah sore dan dia masih juga tidak pulang. Anak itu benar-benar tidak menghormati apa yang aku katakan. Tidak mengganggap aku sebagai kepala keluarga lagi dia."


"Bibi ... apa kamu tahu ke mana dia pergi?" tanya Maria dengan nada sedih.

__ADS_1


"Kenapa kamu tanya aku dengan pertanyaan itu? Jika aku tahu ke mana dia pergi, maka aku sudah dari tadi pergi menjemputnya, Maria. Tidak akan aku diam di rumah seperti ini, paham!"


"Tantri! Kenapa kamu malah bentak Maria, ha? Dia hanya bertanya. Apa salahnya dengan pertanyaan yang dia lontarkan padamu. Dia bertanya karena dia peduli."


__ADS_2