
Kebetulan yang sangat luar biasa. Ketika Maria membuka pintu kamarnya, dia berpas-pasan dengan Ratna yang juga baru saja keluar dari kamar.
Ratna kaget bukan kepalang ketika melihat Maria yang sudah siap untuk berangkat. Sedangkan dirinya masih dengan dandanan yang sebelumnya. Belum sedikitpun menyentuh bedak untuk mempercantik diri.
"Maria! Kamu ... kamu sudah siap?" tanya Ratna dengan nada yang sangat tidak percaya.
"Iya. Aku sudah siap dan akan segera berangkat sekarang. Kenapa, Ratna? Apa ada yang salah?"
"Te--tentu ... tentu saja ada. Kamu ... siapa yang mendandani kamu tadi, ha? Si--siapa yang ... maksudku, kenapa kamu tidak memakai dress yang aku berikan tadi? Kenapa malah pakai gaun yang ini?"
"Aku mendandani diriku sendiri. Soal dress yang kamu berikan, aku rasa itu tidak cocok dengan diriku. Karena dress itu terlalu pendek, sedangkan tubuhku sedikit tinggi. Jadi, mana bisa aku pakai dress yang kependekan. Dress itu hanya cocok untuk orang yang tubuhnya rendah seperti kamu, Ratna."
Mendidih darah Ratna mendengar kata-kata yang Maria ucapkan barusan. Bagaimana tidak? Kata-kata itu secara tidak langsung terdengar seperti penghinaan untuk dirinya yang memang sedikit lebih rendah dari tubuh Maria yang tinggi semampai.
Ratna menggenggam erat tangannya. Berusaha menyalurkan emosi juga kemarahan yang menyerang dengan cara meluapkan melalui genggaman. Setelah dia berhasil, dia pun kembali mencoba keberuntungan menghasut Maria.
"Maria. Bukankah aku sudah mengatakan kalau pakaian ini sama sekali tidak cocok dengan kamu. Kenapa kamu masih pakai apa yang tidak cocok denganmu? Kamu ingin mempermalukan diri sendiri di depan Arkan juga semua keluarganya?"
"Mm ... awalnya, aku juga ingin mendengarkan apa yang kamu katakan. Tapi sayangnya, aku tidak punya baju yang lain untuk aku pakai. Sedangkan dress yang kamu berikan tidak muat padaku. Terpaksa deh, aku pakai baju yang ini. Lagian, sayang juga jika aku sia-siakan apa yang sudah aku beli dengan susah payah. Seperti yang kamu katakan tadi, aku akan mubazir jika baju yang sudah aku beli, tapi tidak aku pakai."
Maria berucap sambil tersenyum pada Ratna. Hal itu membuat Ratna tidak tahu harus bicara kata-kata apa lagi untuk membuat Maria mengikuti apa yang dia inginkan.
Tidak ingin mendengar Ratna menjawab apa yang dia katakan, Maria segera mengambil keputusan menghindar sekarang juga.
"Ya sudah ya, Rat. Aku ke bawah dulu. Aku akan tunggu jemputan datang di bawah sekarang."
Selesai berucap, Maria langsung beranjak. Meninggalkan Ratna yang masih mematung dengan pikirannya yang tidak mempercayai apa yang baru saja dia alami.
__ADS_1
Namun, baru juga beberapa langkah Maria menuruni anak tangga, Ratna kembali mengeluarkan suara untuk menghentikan Maria.
"Maria, tunggu!"
Sontak saja, kata-kata itu langsung menghentikan langkah kaki Maria. Berhenti dengan perasaan cukup malas tentunya.
"Ada apa lagi sih, Ratna?" tanya Maria dengan nada malas sambil menoleh.
"Tungguin aku yah. Aku akan siap-siap sekarang. Gak lama kok."
Maria menaikkan alisnya mendengar kata-kata itu. Sungguh dirinya sangat-sangat tidak habis pikir dengan manusia yang ada dihadapannya saat ini. Bagaimana tidak? Manusia itu benar-benar bermuka tebal alias tidak sedikitpun memiliki rasa malu.
"Ratna, tunggu!" Maria langsung berucap untuk menghentikan langkah Ratna yang sedang berjalan cepat menuju kamar.
"Ada apa?" tanya Ratna tanpa wajah malu sedikitpun.
"Lho, kok malah bertanya seperti itu sih kamu, Maria? Tentunya aku mau ikut kamulah. Seperti biasanya, kamu selalu ajak aku ke mana kamu pergi."
"Yah, biasanya. Tapi tidak untuk malam ini, Ratna. Maaf, malam ini sebaiknya kamu tidak ikut aku."
"Lho kenapa?"
"Karena ini makan malam khusus untuk aku dan Arkan. Tidak boleh bawa kamu atau siapapun. Itu perintah yang paman katakan padaku tadi siang."
"Tapi Maria, kamu butuh aku lho. Kamu tidak bisa meninggalkan aku di rumah. Kamu harus bawa aku bagaimanapun caranya. Karena aku itu sangat penting sekali buat kamu, bukan?"
'Ya Tuhan ... baru pertama kali aku bertemu dengan manusia yang tidak tahu malu seperti ini. Ah, apakah dunia novel memang mengesalkan seperti ini, Tuhan? Uh ... huhu ... tolonglah aku.'
__ADS_1
"Ratna dengar! Aku tidak bisa bawa kamu karena perintah pamanku. Percaya atau tidak, terima atau tidak, aku tetap tidak bisa. Terserah kamu mau bilang apa sekarang."
"Maria .... "
"Ah, sudahlah. Jika kamu ingin pergi, siap-siap saja sekarang. Nanti kamu bilang sendiri pada paman kalau kamu ingin pergi. Tapi ingat, jangan bawa-bawa nama aku saat kamu minta izin pada pamanku."
Mendengar hal itu, Ratna yang memang wajah kesal mendadak bahagia. Dia tersenyum manis sambil melihat Maria yang ada di hadapannya
"Baiklah. Aku akan minta izin pada paman nanti. Kamu tunggu aku siap-siap. Aku gak akan lama."
Selesai berucap, Ratna segera beranjak masuk ke kamar secepat yang dia bisa. Dia ingin buru-buru agar siap tepat waktu. Tapi, saat dia bergegas, benaknya ingat akan satu hal. Maria tidak akan meninggalkannya karena Maria yang butuh dia, bukan dia yang butuh Maria.
Karena pikiran itulah, Ratna kembali merasa bangga. Dia pun kembali bergerak dengan santai untuk menyiapkan dirinya.
Sementara itu, Maria yang sudah sampai di ruang tamu, berpas-pasan dengan mobil jemputan yang keluarga Arkan kirim untuk menjemputnya. Tanpa membuang waktu lagi, Maria segera masuk ke dalam mobil tersebut. Tentunya, setelah berpamitan pada paman yang mengantar dia sampai ke depan pintu.
Mobil itu kembali berjalan setelah orang yang dia jemput duduk dengan rapi di dalamnya. Maria tersenyum geli ketika mengingat Ratna saat mobil meninggalkan halaman rumah.
'Maafkan aku, Ratna. Aku tidak bermaksud mengerjai kamu sebenarnya. Tapi, kamu yang minta aku kerjain. Ah, kasihan sekali kamu yang malang.'
'Sudah aku katakan, kalau aku tidak bisa bawa kamu pergi. Tapi kamu malah bersikeras untuk ikut. Yah, akhirnya jadi seperti ini deh. Udah susah-susah bersiap-siap. Tapi malah tidak jadi pergi. Kan kasihan banget.'
Maria tersenyum sambil melihat ke arah jalan yang dia lewati. Sementara itu, Ratna turun dengan santai dari lantai atas. Tanpa dia ketahui kalau Maria sudah tidak ada di rumah lagi sekarang.
Saat sampai di ruang keluarga, dia di tatap aneh oleh Bimo dan Tantri yang sedang duduk di atas sofa yang ada di ruangan tersebut. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain dengan perasaan yang sangat penasaran.
"Mau ke mana kamu, Ratna? Berdandan cantik seperti ini, kayak mau ketemu pacar saja," ucap Tantri tak bisa menahan diri karena rasa penasaran sudah sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1