Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 54


__ADS_3

Karena hal, Bimo di tahan di dalam penjara sampai putusan persidangan tiba. Sementara Maria, dia diberikan perlindungan khusus karena kekerasan yang dia alami. Namun, dia tidak di kawali sepenuhnya, hanya di jaga dari jarak jauh saja. Karena polisi juga tidak ingin menyita kebebasan gadis yang mereka anggap malang tersebut.


"Ria ... kau .... " Arkan bicara sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah kehabisan kata-kata untuk aku ucapkan padamu. Tapi yang aku tahu, kau sungguh luar biasa."


"Kamu sudah menghukum semuanya. Kau memecahkan masalah yang hampir saja merusak hidup kita semua. Kau hukum mereka semua yang pernah melakukan kejahatan. Kini, kau buat pamanmu yang mata duitan itu pula masuk penjara. Kau sungguh-sungguh luar biasa."


"Jangan terlalu memuji aku, Ken. Aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar saja. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha melakukan segalanya, dan hasilnya juga ternyata sungguh luar biasa. Tapi ... itu semua hanya kebetulan saja. Hanya karena situasi yang mendukung aja, Ken."


"Hm ... masih sempat merendahkan diri kamu ternyata. Oh ya, apa kau sudah tahu bagaimana keadaan Ratna sekarang?"


"Tidak. Aku lupa mencari tahu kabarnya kemarin. Apa ada perkembagan?"


"Ada. Dia divonis mengalami gangguan jiwa yang kuat setelah kejadian itu. Tapi, dia tidak bisa di lepaskan ke rumah sakit jiwa. Karena kesalahan yang sudah dia perbuat cukup besar, maka dia harus tetap di tahan dalam sel selama hidupnya."


"Oh. Sepertinya, itu hukuman yang cukup setimpal menurut aku. Tidak peduli jika orang lain menganggap aku terlalu kejam. Karena kesalahan yang dia perbuat cukup besar, maka dia sudah pantas menerima hal itu."


"Tidak ada yang bilang kamu cukup kejam, Ria. Karena hukuman itu memang selalu seimbang dengan apa yang sudah dia perbuat."


"Hm ... oh ya, lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya? Apa kau tahu bagaimana kabar mereka?" tanya Maria berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja. Aku rela mencari tahu segalanya hanya demi kamu." Arkan berucap dengan tatapan penuh kasih. Maria yang tahu hal itu, berusaha menghindar dari pandangan Arkan dengan cara memainkan gelas jus yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Merasa tidak dapat tanggapan yang diinginkan, Arkan terpaksa melanjutkan ucapannya dengan hati yang sedikit kecewa.


"Untuk orang tua, Ratna. Mereka dapat hukuman seumur hidup karena telah melenyapkan dua nyawa sekaligus dalam aksi pembunuhan berencana yang telah mereka lakukan."


"Syukur deh kalo gitu. Itu hukuman memang pantas mereka terima. Pembunuh, ya harus dihukum penjara seumur hidup," ucap Maria sambil terus menunduk dan melanjutkan apa yang dia kerjakan sebelumnya.


"Tapi ... hukuman itu sebenarnya masih belum cukup, Ria. Mereka telah membuat kamu terpisahkan dari orang tuamu. Hukuman itu belum seberapa jika dibandingkan dengan derita yang kamu alami selama ini." Arkan berucap sambil berusaha menyentuh tangan Maria.


Maria terdiam, menahan hati yang sebenarnya cukup merasakan rasa kehilangan. Ucapan Arkan barusan itu mengingatkan dirinya akan sakitnya kehilangan sang papa yang paling dia cintai.


Satu titik buliran bening tidak bisa dia selamatkan lagi. Air mata itu jatuh tanpa bisa dia cegah. Karena rasa kerinduan yang kini sedang memenuhi seluruh relung hati.


"Ria. Jangan sedih." Arkan berucap dengan perasaan cemas sambil berusaha menggapai pipi Maria agar bisa menghapus bekas air mata yang jatuh. Namun sayangnya, dia keduluan oleh tangan Maria sendiri.


"Eh aku gak sedih kok," ucap Maria sambil menyeka air matanya dengan cepat.


"Beneran kok, Ken. Aku gak sedih. Air mata saja yang ingin jatuh dengan sendirinya tanpa aku tahu apa sebab dia ingin turun," ucap Maria sambil berusaha memperlihatkan sebuah senyum manis yang dia punya.


Tidak bisa berucap, Arkan hanya bisa mengusap lembut pucuk kepala Maria dengan lembut. Sebenarnya, bukan tidak bisa, tapi tidak ingin. Dia yang tidak ingin memperpanjang masalah, kini hanya bisa menghormati apa yang si gadis pujaan hatinya katakan. Bagi Arkan sekarang yang terpenting adalah, kebahagiaan gadis kesayangannya ini. Itu hal yang paling utama.


___


Kini, waktu dua minggu yang Arkan janjikan pada Maria, telah pun tiba. Perusahaan yang sebelumnya Bimo pimpin, kini telah Arkan balik namakan sepenuhnya ke atas nama Maria.

__ADS_1


Tidak ada halangan atau rintangan sedikitpun lagi dengan perusahaan, juga harta warisan yang Maria miliki. Semuanya berjalan sesuai keinginan Maria. Sama persis dengan apa yang Maria harapkan sebelumnya.


Setelah mereka melakukan rapat besar dengan seluruh pimpinan perusahaan pendamping, juga dengan seluruh pemilik saham yang lainnya, maka Maria kini telah resmi diakui sebagai pemilik yang sah. Sah secara hukum karena telah mendapat pengakuan dari seluruh pimpinan besar lainnya.


Bukan hanya diakui, Maria juga cukup di hormati oleh semua pimpinan. Karena dia adalah, calon istri dari Arkanza. Anak pewaris tunggal kekayaan terbesar dalam dunia bisnis kelas atas.


Meskipun sebenarnya, hal itu sedikit mengganggu buat Maria. Dia yang tidak yakin dengan jalan hidup yang akan dia tempuh, kini hanya bisa pasrah dengan mengikuti arus kemana kaki akan melangkah.


"Nah ... sekarang, semua sudah selesai. Seperti yang sudah sama-sama kita sepakati, aku akan putuskan kelanjutan dari perjodohan kita, Ria. Tapi sebelum itu, ayo ikut aku ke suatu tempat terlebih dahulu," ucap Arkan saat mereka berada dalam mobil setelah menghadiri rapat besar kepemilikan Maria.


"Ke mana, Ken?" tanya Maria dengan rasa cukup penasaran.


"Ikut saja, maka kamu akan tahu ke mana aku akan membawa kamu."


"Jalan sekarang!" kata Arkan lagi pada sopirnya.


"Baik, Mas Arkan."


Mobil pun melaju melintasi jalan raya. Tidak ada kata yang terucap dari mereka berdua. Yang ada hanya keributan yang disebabkan oleh bunyi kendaraan yang mereka naiki, memecah keheningan di antara mereka berdua.


Dan ... akhirnya mobil itu berhenti juga setelah berjalan selama hampir lima belas menit dengan kecepatan sedang. Maria tersadar dari pikirannya sendiri. Dia melihat sekeliling sebelum memilih turun.


"Ini .... " Maria tidak melanjutkan kata-katanya. Karena pandangannya kini terfokus pada apa yang dia lihat sekarang.

__ADS_1


"Ini butik. Aku ingin kita pesan gaun pengantin kamu di sini sekarang. Seperti yang sudah sama-sama kita sepakati, aku berkuasa penuh atas kelanjutan perjodohan kita. Dan aku memilih, perjodohan kita, kita lanjutkan sampai ke pelaminan."


"Kamu yakin, Ken?" tanya Maria sambil menatap Arkan dengan tatapan yang sulit untuk Arkan artikan maksud dari tatapan itu.


__ADS_2