
Lumrah kehidupan memang seperti itu. Semakin tinggi manusia, maka akan semakin banyak yang ingin menjatuhkan. Sedangkan semakin rendah manusia, maka semakin banyak pula yang ingin menginjak.
Dalam pemikiran itu, tiba-tiba, dia melihat Arkan yang berjalan semakin mendekat menghampiri mereka. Sontak saja, pandangan itu membuat Maria sedikit tertegun. Bohong jika dia bilang kalau dia tidak suka dengan laki-laki itu. Karena sesungguhnya, siapa yang tidak suka dengan manusia tampan penuh dengan kharisma seorang pemimpin yang berwibawa.
"Nah ... Arkanza. Kamu kok lama banget sih turunnya. Apa sih yang kamu kerjakan di atas sana? Berdandan?" Mamanya terdengar kesal sambil melirik anaknya yang baru saja bergabung di tengah-tengah mereka.
"Tentu saja dia berdandan agar terlihat semakin tampan, mama. Toh yang ingin dia temui itu adalah calon istrinya." Si papa juga ikut menyindir.
Arkan tidak ingin menanggapi apa yang kedua orang tuanya katakan. Terlihat dari raut wajah yang seolah tidak terjadi apa-apa ketika dapat sindiran juga ejekan yang seharusnya membuat dia bersemu. Eh, tentu saja dia tidak akan bersemu. Karena dia tidak mengharapkan makan malam itu terjadi sebenarnya.
"Bisakah kita langsung makan saja sekarang, Ma, Pa? Aku sudah cukup lapar."
"Eh, tidak bisa. Mana bisa langsung makan. Karena aku ingin kamu ajak Maria keliling rumah kita terlebih dahulu sebelum makan."
"Tapi, Ma. Aku sudah lapar." Arkan berkilah.
"Jika kamu lapar, ya tahan saja dulu sebentar. Keliling rumah kita juga gak akan lama." Papanya pula berucap.
"Benar." Mamanya menyambut singkat.
Raut malas tergambar dengan jelas di wajah tampan milik Arkan. Tidak punya cara menolak, adalah kelemahan terbesar Arkan sebagai laki-laki di rumah ini.
"Baiklah. Akan aku ajak dia keliling rumah. Berapa kali keliling maunya? Lima? Sepuluh? Atau seratus?"
"Arkan." Papanya memanggil dengan nada kesal, dengan tatapan yang tidak suka tentunya.
"Iya-iya, baiklah. Aku hanya bercanda."
"Nah, sayang, kamu ikut Arkan keliling rumah dulu ya. Karena sebagai calon menantu kami, kamu juga wajib mengetahui setiap sudut rumah ini sebelum jadi menantu." Mama Arkan berucap sambil mendorong sedikit tubuh Maria supaya berada di dekat Arkan.
Wajah tenang masih terlihat dengan sangat jelas meski dia didorong paksa oleh calon mertuanya. Maria juga masih sempat mengukir senyum sambil berucap kata setuju dengan apa yang calon mertuanya katakan.
Untuk sesaat, Arkan memuji ketenangan yang Maria miliki. Dia benar-benar merasa ada perubahan dari Maria yang pertama dia temui, dengan Maria yang sekarang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ayo! Aku ajak kamu makan angin sebelum makan makanan," ucap Arkan sambil beranjak meninggalkan kedua orang tuanya.
"Baiklah. Aku suka makan angin. Tapi tidak banyak."
Kedua orang tua Arkan saling pandang mendengar pembicaraan kedua anak muda yang baru saja beranjak meninggalkan mereka.
"Apa yang mereka bicarakan sih, Pa?" Mama Arkan bertanya dengan nada sangat bingung.
"Mana papa tahu. Papa juga tidak mengerti mereka bicara soal apa?"
"Makan angin? Obrolan seperti apa itu?"
"Gak tahu, Ma .... Ah, biarkan saja. Mungkin itu obrolan anak muda jaman sekarang agar terasa lebih akrab."
"Iya, kali ya." Si mama Arkan berucap sambil menganggukkan kepalanya.
Langkah Maria dan Arkan yang beriringan terus berlanjut tanpa henti. Mereka terus berjalan mengikuti ke mana langkah kaki mereka ingin melangkah.
Tapi, meskipun terus berjalan, mereka sama sekali tidak berucap satu patah katapun. Mereka hanya ditemani keheningan saat melangkahkan kaki mereka.
Arkan semakin merasa kagum pada sikap tenang yang Maria miliki. Ketenangan itu jauh di batas rata-rata yang biasa perempuan punya pada umunya.
"Kau tidak takut sekarang?" tanya Arkan sambil menoleh ke samping. Meski tidak bisa melihat wajah orang yang dia ajak bicara dengan baik, tapi setidaknya, dia menghormati orang yang dia ajak bicara.
"Tidak." Maria menjawab dengan jawaban singkat. Hal itu semakin memperluas rasa penasaran yang ada dalam hati Arkan.
"Kenapa? Bukankah ini sangat gelap? Sesuatu yang menakutkan bisa saja terjadi dalam kegelapan ini? Lalu? Kenapa kamu malah tidak merasakan rasa takut sedikitpun?"
"Siapa bilang aku tidak punya rasa takut sedikitpun? Aku manusia lho. Perempuan lagi. Sudah pasti aku punya rasa takut dan punya pemikiran yang tidak enak dalam situasi seperti ini."
"Lalu? Kenapa masih tenang?"
"Haruskah aku berteriak layaknya seseorang yang sedang meminta bantuan ketika hampir tenggelam di laut? Atau ... seperti orang yang sedang berada di tengah kebakaran, tuan Arkan?"
__ADS_1
Pertanyaan itu sontak membuat Arkan terdiam sesaat. Lalu, dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menghidupkan senter ponsel itu agar mereka bisa mendapatkan penerangan walau hanya sedikit.
"Kenapa tidak dari tadi sih?" tanya Maria dengan suara pelan. Tapi, Arkan masih bisa mendengarkan kata-kata itu.
"Alasannya adalah ... aku pikir, kamu suka dengan kegelapan. Makanya, kamu tidak menghidupkan senter gawai mu. Aku yakin, kamu juga punya gawai, kan?"
"Punya. Tapi sayangnya, ponselku sedang lowbat. Aku lupa mengisi daya sebelum ke sini."
"Oh, begitu."
"Ya."
Setelah obrolan singkat itu, mereka kembali diam. Listrik masih juga belum menyala walau mereka sudah menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit tanpa beranjak dari taman tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa mati lampunya lama sekali? Apa yang terjadi sebenarnya? Di rumahmu juga tidak ada yang berisik satupun. Apa ini ... sudah direncana?" tanya Maria mulai mengutarakan rasa penasaran yang ada dalam hatinya sejak lima menit yang lalu.
"Mungkin." Arkan menjawab singkat tanpa menoleh.
"Mungkin? Jadi, kau ikut dalam rencana ini? Maksudku, kau tahu dan kau setuju dengan rencana yang seseorang buat untuk kita?"
"Aku bisa apa? Mama papa mungkin dalang sesungguhnya dari mati lampu di taman belakang ini. Mereka ingin kita dekat dengan cara begini."
Maria menoleh ke arah laki-laki yang ada di sampingnya setelah dia mendengar nada pasrah dari kata-kata yang baru saja laki-laki itu ucapkan. Maria mendengus pelan sehingga, Arkan yang ada di sampingnya tidak mendengar sama sekali.
"Arkanza. Aku punya satu pertanyaan buat kamu. Jawablah dengan jujur ya!"
"Boleh. Tapi ... kau panggil aku apa barusan? Arkanza?"
Maria hanya menjawab dengan anggukan. Lalu, membalas tatapan Arkan selama sesaat.
"Iya. Kenapa? Ada yang salah?"
"Tidak ada. Hanya saja, aku merasa panggilan itu sedikit berbeda dari sebelumnya."
__ADS_1
"Di mana perbedaannya?"
"Kau biasa memanggil aku dengan panggilan kak Arkan. Tapi malam ini, aku tidak tahu ke mana kata kak itu hilang. Dan, aku malahan mendengar kau langsung memanggil aku dengan nama penuh."