Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 33


__ADS_3

Belum sempat menyentuh gelas jus, tangannya di tahan oleh Rika. Dengan tatapan kebingungan, Rika menatap wajah Elsa yang penuh dengan rasa yakin.


"Apa yang ingin kamu lakukan, Elsa?"


"Kamu lihat saja nanti, Rik. Yang pastinya, aku akan memberikan tontonan yang cukup menarik buat semua yang ada di sini. Dan aku pastikan, tontonan itu tidak akan mengecewakan kamu. Tapi malah sebaliknya, membuat hatimu merasa cukup puas."


"Baiklah. Aku dukung apapun yang ingin kamu lakukan. Karena aku yakin, kamu pasti akan melakukan yang terbaik dan paling tepat."


"Tentu saja," ucap Elsa sambil tersenyum menyeringai.


Elsa langsung melangkah maju dengan segelas jus di tangannya. Pura-pura sibuk dengan ponsel yang dia miliki, tiba-tiba, dia bersandiwara dengan berpura-pura tersandung agar bisa menumpahkan jus tersebut ke kepala Maria. Atau paling tidak, tubuh Maria yang mana saja. Yang paling penting, jus itu bisa dia tumpahkan ke tubuh Maria agar Maria merasa malu.


Sayangnya, Maria yang punya gerakan lincah itu sangat gesit dalam menghindar. Dia yang punya tingkat kewaspadaan paling tinggi, langsung menangkap ada hal yang tidak beres saat dia pertama kali masuk ke dalam restoran ini. Untuk itu, dia langsung memasang kewaspadaan setelah orang yang dia curigai bergerak.


Lagipula, adegan itu sudah tertulis dalam novel yang dia baca. Hanya saja, dia tidak yakin kalau adegan itu masih muncul saat dia berada di tempat ini. Karena sebagian dari adegan yang pernah dia lewati, itu terlalu banyak berubah dengan apa yang sudah dia baca.


Elsa yang tidak tahu akan hal itu, bersikap seolah-olah dia akan berhasil dengan rencana yang dia buat. Tapi sayangnya, rencana itu malah membalik mengenai dirinya sendiri. Jus mangga yang ingin dia tumpahkan ke tubuh Maria, dengan cepat Maria balikkan ke tubuhnya. Dan ... jus itu tepat mengenai wajah Elsa.

__ADS_1


"Aaa ... tidak ...!" Elsa menjerit dengan penuh rasa marah akibat apa yang Maria lakukan.


Sontak saja, rumah makan itu seketika sibuk akibat apa yang baru saja terjadi pada Elsa. Elsa seketika menjadi pusat perhatian dengan semua mata yang tertuju padanya.


"Pak Arkan. Tolong berikan keadilan buat saya, Pak. Perempuan yang bersama bapak ini tega-teganya menumpahkan jus ke wajah saya. Tolong, Pak. Tunjukkan keadilan yang selama ini bapak miliki."


Elsa bersikap layaknya dia yang sedang Maria aniaya. Padahal, semua itu terjadi hanya karena Maria ingin menyelamatkan diri saja. Tapi ... sebalik penyelamatan itu, Maria memang sengaja ingin memberikan pelajaran buat Elsa. Karena sebenarnya, dia bisa mengarahkan jus itu ke mana yang dia mau.


Kata-kata yang Elsa ucapkan barusan sama sekali tidak membuat Maria cemas. Maria masih tetap santai dengan posisi duduk sambil melihat kerumunan yang terjadi. Maklum, dia sudah biasa dikerumuni orang banyak. Jadi, hal itu bukan hal yang langka lagi buat Maria.


Maria bangun secara perlahan dari duduknya. Wajah santai tanpa ada rasa takut, atau bersalah, tetap dia perlihatkan. Dengan tatapan tenang, Maria melihat Elsa yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh rasa marah.


"Aku tidak melakukan apapun padamu, mbak. Maaf. Aku keberatan dengan kata-kata yang baru saja kamu ucapkan itu. Kau menuduh aku menumpahkan jus padamu. Padahal, aku hanya menghindar dan berusaha menyelamatkan diriku saja dari jus yang kamu bawa."


"Sebenarnya, yang salah di sini bukan aku, atau juga bukan kamu, mbak. Hanya saja, semua yang terjadi ini karena ketidaksengajaan saja. Kamu yang tidak hati-hati dan sedikit ceroboh. Hampir saja merugikan orang lain karena kecerobohan mu itu. Tapi ... aku kecewa dengan sikap kamu yang tidak bertanggung jawab ini. Kamu yang ceroboh, malah menyalahkan aku atas nasib apes yang kamu terima sekarang. Benar-benar gak habis pikir aku sama kamu, mbak."


Kata-kata itu membuat orang memuji Maria atas tutur lembut yang menghanyutkan. Bantahan yang begitu tenang, sanggahan yang begitu tepat, juga menyalahkan dengan cara paling lembut. Hal ini sungguh luar biasa bagi sebagian orang yang mendengar ucapan Maria barusan.

__ADS_1


Namun, tidak dengan Elsa dan Rika. Elsa yang tidak punya jawaban atas apa yang Maria ucapkan, hanya bisa terdiam dengan tubuh menegang dan tangan yang digenggam erat. Sementara Rika yang tidak terima dengan ucapan itu, segera ambil celah.


"Maaf, pak Arkan. Saya kira, yang tidak hati-hati itu bukan bu Elsa, Pak. Melainkan, perempuan yang ada di samping bapak ini."


"Perempuan ini dengan sengaja membalikkan gelas jus ke arah bu Elsa. Otomatis, tumpahan jus itu langsung mengenai bu Elsa dong, pak. Jika saja dia sedikit bijak. Maka tidak akan ada yang dirugikan dari kejadian ini. Bu Elsa gak akan kena tumpahan jus tersebut. Sedangkan dia juga nggak."


Belum sempat Maria menggerakkan bibir untuk menjawab. Arkan yang sedari tadi diam, kini langsung bagun dari duduknya.


"Apa kamu bisa menjamin kalau tumpahan jus itu tidak akan mengenai Maria, Rika? Jika kamu bisa menjamin, maka kita akan perankan sekali lagi kejadian barusan. Dengan pemeran kamu sebagai Elsa, dan aku sebagai Maria. Bagaimana?" tanya Arkan dengan tatapan tajam yang menusuk hati.


Pertanyaan yang disertai tatapan itu langsung membuat Rika tidak punya nyali untuk melawan. Lagipula, siapa yang berani melakukan hal yang tergolong cukup ekstrim seperti yang menimpa Elsa barusan. Mana dengan bos sendiri lagi yang melakukan. Salah-salah, bukan hanya malu yang akan dia dapatkan, tapi karier nya juga akan melayang.


"Maafkan saya, pak Arkan. Saya tidak ... tidak bisa menjamin hal itu. Sekali lagi, maaf."


"Kamu sendiri tidak bisa menjaminnya sekarang. Lalu kenapa tadi kamu malah bilang dengan sangat-sangat yakin kalau tidak akan ada yang dirugikan jika Maria sedikit pintar dalam melakukan gerakan?"


"Ingat satu hal Rika, yang terjadi barusan itu, aku bisa melihat dengan cukup jelas. Jika kamu punya pendapat yang mungkin bisa merugikan secara sepihak, maka aku harus mempertanyakan maksud dan tujuan yang kamu miliki dari pendapat yang kamu utarakan itu. Kamu mengerti apa yang aku maksudkan, bukan?"

__ADS_1


Setelah berucap kata-kata itu, Arkan langsung memegang tangan Maria. Lalu, dia membawa Maria langsung meninggalkan rumah makan tersebut. Meninggalkan kerumunan yang masih terdiam dengan tatapan juga kata-kata bernada ancaman yang terus menggema di telinga setiap yang mendengar ucapan barusan.


Arkan membawa Maria masuk ke dalam mobil. Maria terus mengikuti apa yang Arkan inginkan tanpa bertanya satu patah katapun. Karena sikap Arkan barusan itu cukup membuat Maria merasa bahagia. Pembelaan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


__ADS_2