Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 56


__ADS_3

"Jangan begitu, Ria. Cobalah berpikir positif. Ayo! Manfaatkan waktu bersama sekarang juga."


Maria berusaha mengikuti apa yang Arkan katakan. Meskipun sebenarnya, dia merasa sangat berat hati. Karena yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah, perpisahan, perpisahan, dan perpisahan.


Mereka segera masuk ke dalam butik. Seorang pelayan langsung menyambut mereka dengan sangat ramah.


"Selamat siang, mbak, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan sopan santu yang terdengar sangat ramah sekali.


"Kami ingin membeli gaun pernikahan. Bisakah kamu pertemukan kami dengan pemilik butik ini?" Arkan berucap seperti biasa. Seperti orang kaya pada umumnya.


"Untuk hari ini, pemilik butik sedang tidak ada, Mas. Pemilik butik sedang pergi keluar karena ada acara dengan temannya. Maaf, saya tidak bisa mempertemukan mbak dan mas dengan pemilik butik. Tapi, saya akan bawa kalian melihat-lihat gaun pengantin yang mungkin cocok untuk kalian."


"Tidak perlu. Aku hanya ingin bertemu dengan pemilik butik untuk menciptakan gaun baru buat kekasihku. Dia cocok dengan gaun baru, tidak cocok dengan gaun yang sudah ada di sini. Karena dia istimewa, maka dia juga butuh hal-hal yang istimewa. Bukan hal-hal yang biasa," ucap Arkan terdengar lumayan sombong. Tapi pada dasarnya, dia hanya ingin menunjukkan, betapa berharganya Maria di mata dia.


"Jangan seperti itu, Ken. Dia hanya menawarkan. Jika kamu tidak suka, maka hanya perlu bilang tidak dan terima kasih. Tidak perlu bicara tinggi seperti itu. Lagian, tidak ada salahnya jika kita hanya melihat saja, bukan? Toh ... jika ada yang cocok, maka kita bisa ambil. Jika tidak ada, ya sudah. Tidak perlu kita beli kok."


"Kau terlalu istimewa, Ria. Jadi, tidak akan ada yang cocok dengan kamu jika itu bukan yang dirancang secara khusus. Maka dari itu, kita tidak perlu melihat. Karena jika hanya melihat-lihat saja, kita akan kekurangan banyak waktu untuk menyiapkan pesta pernikahan kita yang akan kita laksanakan tidak lama lagi."


"Hm ... kamu ini. Benar-benar keras kepala ya. Ya sudah, ayo pergi," ucap Maria sambil mengukir senyum bahagianya buat Arkan.


"Ayok!"


"Mm ... mbak, maaf ya. Kami tidak jadi lihat-lihat. Maklum, dia ini agak terlalu ... yah seperti yang mbak lihat barusan. Sekali lagi maaf buat kata-katanya yang mungkin agak kasar buat mbak."


"Gak papa, mbak. Saya maklum. Namanya juga buat orang yang paling dicintai, ya memang harus serba spesial. Mas itu sungguh luar biasa sebenarnya. Dia tidak salah. Dia hanya berusaha memperlihatkan pada dunia, kalau mbak adalah orang paling istimewa dalam hidupnya."


Arkan hanya diam saja mendengarkan kata-kata yang pelayan itu ucapkan. Karena bagi dia, tanggapan orang lain itu tidak penting. Yang paling penting itu adalah, dia mampu menunjukkan apa yang dia rasakan untuk Maria. Tidak peduli dapat pengakuan atau tidak.

__ADS_1


Sementara Maria, dia tersenyum kecil pada pelayan itu. "Mbak bisa aja. Ya sudah, kami pergi dulu. Sampai bertemu lagi."


Selesai berucap, keduanya langsung beranjak. Tapi, baru juga melangkahkan kaki, pelayan itu langsung berteriak yang membuat langkah mereka seketika langsung terhenti.


"Mbak, mas, tunggu!"


"Iya, mbak. Ada apa?" tanya Maria sambil menoleh.


"Itu ...." Pelayan itu berucap sambil menunjuk ke arah pintu masuk butik.


"Katanya ingin bertemu dengan pemilik butik, kan? Itu orangnya," ucap pelayan itu kembali melanjutkan kata-kata yang sempat terhenti, dengan tangan yang masih menunjuk tentunya.


Arkan dan Maria kompak langsung menoleh ke arah pintu masuk. Di pintu masuk tersebut ada dua orang perempuan. Yang satu tidak mereka kenali, sedangkan yang satunya lagi, sungguh wajah yang tidak asing lagi buat Maria.


"Dia .... " Maria berucap dengan kata-kata yang menggantung. Sepertinya, dia sedang berusaha mengingat perempuan yang wajahnya sudah tidak asing lagi dalam ingatan itu.


Sementara itu, pelayan yang mendengarkan nama Elsa yang Arkan sebut barusan. Memilih ikut bicara. Karena dia pikir, kedua pasangan itu telah salah menebak orang. Tapi, baru juga dia ingin angkat bicara, dia keduluan oleh Maria.


"Iya. Itu Elsa. Tunggu! Apakah Elsa adalah pemilik butik ini?"


"Entahlah. Tapi ... aku rasa, sepertinya tidak. Karena yang aku tahu, dia hanya punya satu profesi selama aku kenal dia. Yaitu lah sebagai manajer di perusahaan aku."


"Maaf sebelumnya. Aku terpaksa ikut campur menyela pembicaraan kalian berdua. Karena yang kalian bicarakan barusan itu tidak benar. Pemilik butik ini bukan Elsa namanya. Tapi, Sinta."


"Sinta? Tapi ... itu Elsa," ucap Maria dengan nada tak percaya.


"Itu ... oh, itu mbak Elsa hanya sebagai teman dari bos kami saja. Dia sering datang ke toko ini. Karena mereka adalah teman baik, jadi mereka sering bertemu." Pelayan itu berucap dengan nada menjelaskan.

__ADS_1


Maria melihat Arkan. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Hal yang sedang mengganjal dalam hati tentunya. Arkan yang super peka, tentu saja mengerti apa yang Maria rasakan.


"Ya sudah, ayo cari butik lain saja buat bikin gaun buat kamu," ucap Arkan sambil mencolek pipi Maria dengan lembut.


"Hah? Cari ... cari butik lain? Kenapa ... gak ini saja?" Maria pura-pura tak mengerti. Padahal dalam hatinya sangat-sangat bahagia.


"Iya, mas. Kenapa gak di butik ini saja? Apa ada yang salah sekarang, mas?"


"Tentu saja ada. Tapi maaf, itu hal pribadi yang tak bisa aku jelaskan pada kamu. Juga kamu tidak perlu tahu, apa lagi mencari tahu."


"Ayo, Ria! Kita pergi sekarang," ucap Arkan sambil menarik tangan Maria dengan lembut untuk dia bawa pergi.


Maria mengikuti apa yang Arkan katakan. Tapi sebelum itu, dia berucap kata maaf pada pelayan yang sepertinya sedang sangat bingung dengan apa yang baru saja dia alami.


Tapi, karena Elsa ada di pinggiran pintu butik, mereka akhirnya langsung bertemu. Sontak saja, pertemuan yang tidak disengaja itu membuat Elsa kaget luar biasa. Sementara Arkan dan Maria, biasa saja.


"Mas ... eh, pak Arkan? Kok bisa ada di sini?" tanya Elsa dengan wajah yang tidak enak.


Bukan tidak enak karena bertemu dengan Arkan secara kebetulan di butik ini. Melainkan, tidak enak karena melihat Arkan yang sedang bersama Maria. Gandengan tangan lagi. Hal yang sangat-sangat menyakitkan buat hati Elsa.


"Ke manapun aku ingin pergi, bukankah tidak ada urusannya dengan kamu, Elsa?"


"Saya hanya bertanya, Pak. Tidak berniat untuk ikut campur. Karena kita kebetulan bertemu, maka saya rasa tidak ada salahnya jika saya bicara sedikit basa-basi dengan pak Arkan, kan?"


"Terserah kamu."


"Ayo, Ria! Kita pergi sekarang," ucap Arkan sambil menarik tangan Maria lagi.

__ADS_1


__ADS_2