
"Jangan coba-coba kamu memuji aku, Maria. Karena pujian yang kamu berikan itu sama sekali tidak akan membuat aku luluh."
"Jika kamu ingin keluar dari kamar ini, maka mari kita buat kesepakatan. Telpon Arkan sekarang juga, katakan padanya kalau kamu minta dia buat memberi masukan dana untuk perusahaan kita. Jika kamu sudah melakukan hal itu, maka kamu bisa keluar. Tapi jika tidak, maka jangan harap kamu bisa keluar dari sini selamanya."
Maria ingin tertawa, tapi dia tahap. Karena sekarang, dia masih belum selesai bermain-main dengan laki-laki paruh baya yang berstatus paman buat dirinya sekarang.
'Ini orang tua, bodoh atau gimana sih sebenarnya? Minta aku hubungi Arkan sekarang. Dia gak mikir apa, bagaimana jika aku hubungi Arkan, terus bilang pada si Arkan kalau aku sekarang sedang dalam bahaya? Apa gak menambah masalah dianya ini,' kata Maria bicara dalam hati.
"Mm ... paman, jangan seperti itu. Kamu tidak kasihan padaku, ya? Aku tidak mungkin bicara dengan Arkan, karena Arkan bukan suamiku, paman. Dia baru berstatus tunangan. Aku belum bisa minta-minta padanya. Apa paman gak takut kalau Arkan akan membatalkan pernikahan kami jika aku minta dia banyak hal sekarang. Dia akan mikir, aku perempuan yang tidak baik. Karena, belum jadi istri saja sudah berani minta-minta. Bagaimana kalau sudah jadi nanti? Tolong pikirkan hal itu paman."
"Jangan banyak bicara, Maria. Kau hanya bicara omong kosong saja. Aku salah telah menjodohkan kamu dengan Arkan. Andai saja keluarga itu mau kemarin, aku pasti sudah menukar kamu dengan Tiara, anakku. Tapi sayangnya, keluarga itu menolak."
"Bukan salah mereka sih sebenarnya. Melainkan, salah aku. Jika saja aku sedikit pintar waktu itu, maka kejadiannya tidak akan jadi seperti ini. Jika aku tukar langsung tanpa bicara, pasti mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Heh ... benar-benar kesalahan yang tidak bisa aku maklumi."
Maria terdiam. Kini, dia mengetahui satu hal lagi yang berkaitan dengan sifat asli keluarga ini. Pamannya bersikap baik, hanya karena dia bernilai besar saja. Jika tidak, mungkin dia tidak akan dianggap ada.
'Dasar tua bangka tidak tahu diri. Sudah numpang, berlagak berkuasa, dan sekarang, memaksa aku lagi. Heh ... awalnya aku ingin melepaskan dia karena mengingat, dia orang yang telah berjasa dalam hidup Maria. Tapi sayangnya, dia tak lebih dari orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan saja. Kini, aku ingin lihat seperti apa hukuman buat orang yang seperti laki-laki tua bangka ini.'
__ADS_1
Tanpa menunggu lama lagi, Maria langsung mengirimkan pesan singkat ke kantor polisi. Pesan singkat yang mengatakan, kalau pamannya suka menyiksa keponakan dengan cara mengurung tanpa memberi makan.
Pesan itu ternyata mendapat tanggapan yang positif dari pihak polisi yang menerimanya. Tanpa menunggu lama lagi, mereka segera bertindak menuju alamat yang tertera di dalam pesan tersebut.
Kurang dari dua puluh menit Maria menunggu, akhirnya, terdengarlah bunyi mobil yang datang. Maria melihat semua itu dari kaca jendela kamarnya.
Dia tersenyum saat melihat dua orang polisi yang berjalan memasuki halaman rumah.
"Pertunjukan selanjutnya akan segera di mulai. Ayo!"
Benar saja, kedua polisi itu langsung mengintrogasi Bimo dengan keras. Bimo tidak ingin mengaku, karena itu, mereka langsung mengeledah rumah tersebut.
Tidak punya pilihan lain selain menyerahkan kunci itu, Bimo memasang wajah kesal sekaligus takut. Bagaimana tidak? Jika polisi menemukan Maria, maka tuduhan terhadapnya akan terbukti. Tapi, dia tidak punya pilihan selain menyerahkan apa yang polisi minta. Karena semakin dia bersikeras mempertahankan kunci tersebut, maka semakin terlihat kalau dia menyembunyikan sesuatu yang mungkin pada akhirnya, dia akan kalah juga dari para polisi yang terkesan sangat tegas.
Pintu itupun akhirnya terbuka. Maria si ratu akting kelas atas sudah menunggu hal ini agar bisa menjerat si paman supaya dapat hukuman. Dia sekarang sedang berpura-pura pingsan dengan tubuh yang terlihat sangat-sangat lemah.
Ketika melihat Maria, polisi itu langsung merasa kasihan. Dengan langkah cepat, dia menghampiri Maria yang sedang terbaring di atas lantai.
__ADS_1
"Adik ... adik .... Apa kamu bisa mendengarkan aku?" tanya polisi itu dengan lembut menggoyangkan bahu Maria.
Ah, si ratu akting kini lagi-lagi memainkan perannya dengan sebaik mungkin. Dia membuka mata dengan sulit.
"Si--siapa kamu ... to--tolong ... aku ... aku lapar."
Bicara dengan suara yang sangat lemah juga terputus-putus, Maria sangat mirip dengan orang yang sudah tidak makan selama beberapa hari. Heh ... padahal, dia baru tidak makan setengah hari saja. Kemampuan akting yang dia miliki sangat luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan sebagai ratu akting terbaik jika menjadi artis dalam dunia sinetron.
"Ya ampun adik malang. Kasihan sekali kamu. Berapa lama kamu di kurung di sini? Sampai-sampai, kamu terlihat sangat lemah seperti ini," ucap polisi itu sambil berusaha menggendong Maria.
"Apa! Aku tidak mengurungnya di sini, pak polisi. Aku tidak mengurungnya, dia hanya sedang berpura-pura saja. Tidak benar-benar kelaparan seperti yang dia katakan." Bimo berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya. Tapi sayangnya, para polisi itu lebih percaya dengan bukti nyata yang mereka lihat dari pada kata-kata yang mungkin hanya terucap sekedar ingin membela diri saja.
"Ikut kami ke kantor polisi sekarang juga! Anda bisa jelaskan semuanya di sana," ucap salah satu polisi sambil memasang borgol ke tangan Bimo.
"Pak polisi, saya tidak bersalah. Tolong jangan tahan saya, pak. Ini semua tidak sama dengan apa yang bapak lihat. Semua ini bohong. Dia hanya pura-pura saja, pak. Percaya pada saya."
Mana mungkin mereka akan percaya. Karena setiap kata, harus ada bukti yang nyata baru bisa di anggap benar. Apalagi tadi, salah satu polisi menanyakan tentang kejadian itu pada tetangga. Tetangga membenarkan apa yang terjadi dengan Maria. Karena mereka, sudah tidak melihat Maria keluar dari rumah selama dua hari terakhir.
__ADS_1
Keberuntungan yang memang sedang memihak pada Maria. Ketidakhadiran dirinya selama dua hari ini, di tambah dengan masalah besar yang pamannya hadapi, para tetangga jadi memihak pada dirinya. Hal yang lumayan menguntungkan karena itu akan memperkuat tuduhan seseorang yang tak lain adalah Maria sendiri sebagai pelapor untuk kejahatan yang si paman lakukan.
Apalagi, Maria terkesan sebagai anak baik yang sangat penurut. Para tetangga semakin gencar lah membela dirinya. Hal yang tidak mungkin, bisa mereka tambah menjadi mungkin agar si paman dapat hukuman yang berat atas kesalahan yang dia lakukan.