Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 45


__ADS_3

"Jangan banyak bicara, perempuan. Turun sekarang, lalu serahkan bukti yang kau punya."


"Bukti?" Maria berucap dengan nada bingung.


Lalu, dia tahu apa yang para preman itu maksudkan. Ternyata, kedatangan mereka karena menginginkan bukti pembunuhan yang dia dapatkan.


"Huh ... ternyata bos kalian ingin bukti yang aku miliki. Sepertinya, bos kalian begitu menganggap tinggi aku ya. Hanya untuk bukti yang aku miliki, dia sampai mengirim belasan preman buat mencegat aku. Benar-benar bikin aku merasa tersanjung deh," ucap Maria sambil tersenyum.


"Perempuan banyak bicara. Kau ternyata masih bisa senyum. Bikin aku salut saja. Sayangnya, kau adalah perempuan yang sebentar lagi akan mati."


"Ah! Benarkah? Auh ... aku jadi takut," ucap Maria sambil menutup mulut. Dia juga memasang wajah yang terlihat sedang sangat ketakutan. Padahal, itu hanya pura-pura belaka.


"Turon!" Teriakan keras itu membuat Maria merasa semakin kesal. Dia lepas ponselnya untuk segera turun dari mobil. Tapi ... layar ponsel yang tidak terkunci membuat tangannya tanpa sengaja memanggil seseorang. Dan orang itu adalah Arkan.


"Baiklah. Aku turun sekarang."


"Banyak omong," ucap salah satu preman yang langsung menyerang Maria.


Sedikit kesulitan buat Maria menghadapi para preman yang menyerang secara keroyokan itu. Karena dia tidak punya waktu untuk sekedar berhenti walau hanya sejenak.


Namun, yang baiknya adalah, preman itu menyerang tanpa menggunakan teknik. Mereka hanya mengandalkan pukulan dengan kekuatan saja. Mereka juga kalah lincah dan kalah gesit saat bergerak. Hal itu yang membuat Maria masih bisa melawan lawan mereka main keroyokan.

__ADS_1


Satu persatu preman itu dia lumpuhkan dengan cara menyerang bagian penting seperti memutuskan aliran darah. Untungnya, Maria mahir dalam seni bela diri apa saja. Jadi, dia bisa melakukan serangan yang mematikan itu dengan cukup baik.


Belasan preman tersebut dia lumpuhkan dengan keringat yang bercucuran. Termasuk menguras tenaga buat Maria yang kecil dan perempuan ini untuk melawan para laki-laki yang bertubuh kekar dan besar. Tenaga yang mereka punya juga luar biasa kuat. Hanya saja, teknik menyerang tidak punya. Hal itu yang membuat Maria menenangkan perlawanan.


"Huh ... aku ini pemegang juara umum di dunia seni bela diri. Jadi ... kalian bernasib malang saat bertemu dengan aku," ucap Maria sambil melihat tumpukan para laki-laki yang sedang kesakitan.


Tapi ... bruk!


"Uh ... huk-huks." Maria terhuyung beberapa langkah ke depan dengan dada yang terasa sedikit sesaat.


"Ha ha ha ... ternyata, kamu tidak sehebat yang aku bayangkan, perempuan. Buktinya, pukulan yang aku layangkan barusan itu sukses mengenai bahu mu ya," ucap laki-laki dewasa yang bertubuh atletis.


Ya, Maria baru saja mendapat pukulan di bagian bahunya. Pukulan yang laki-laki dewasa itu berikan lumayan membuat Maria merasa sakit. Bukan tidak waspada, hanya saja, pukulan itu terlalu cepat datangnya. Sehingga Maria tidak menyadari akan hal itu.


"Heh! Jika kau memang hebat, pukulan yang aku berikan barusan itu tidak akan bisa mengenai tubuhmu, perempuan. Sayangnya, kau tidak sehebat yang aku bayangkan. Aku akui, kau cukup lincah dalam bertarung. Kamu juga menguasai seni bela diri Muay Thai dengan sangat baik. Jika tidak, mana mungkin anak buah ku bisa kau kalahkan dengan mudah."


"Tapi ... jangan bangga dulu kamu karena bisa mengalahkan semua anak buah ku itu. Mereka gampang kau kalahkan karena mereka tidak punya ilmu bela diri sedikitpun. Tapi aku ... kau akan habis di tanganku. Karena asal kau tahu, aku adalah master Muay Thai tingkat tiga. Mengerti?"


Mendengar kata itu, Maria langsung tertawa.


"Ha ha ha .... Apa kau bilang barusan? Kamu adalah master muay thai tingkat tiga? Ah! yang benar saja kamu, mas-mas."

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau takut sekarang?"


"Bukan. Bukan takut."


"Ah, yang benar saja kamu bilang aku takut. Master tingkat tiga saja sudah bangga. Tingkat satu saja aku lawan. Apalagi tingkat tiga. Tapi ... aku merasa tidak percaya kalau kamu adalah master muay thai tingkat tiga, dari pukulan curi yang kau berikan saja bisa aku rasakan, kalau ilmu dalam mu terlalu lemah."


"Dasar perempuan sombong kau! Aku memukul kamu barusan itu hanya sebagai salam pertemuan saja. Tidak benar-benar ingin memukul kamu sebagai musuh yang ingin melenyapkan. Karena walau bagaimanapun, aku juga tahu aturan. Bukan master sejati kalau memukul lawan secara diam-diam alias mencuri."


"Sekarang, tidak perlu banyak bicara. Aku tantang kamu adu tanding di sini sekarang juga. Kita buktikan siapa yang banyak omong dan siapa yang pecundang," kata laki-laki itu lagi.


"Ah, baiklah. Aku terima tantangan kamu. Kita adu tanding. Jika aku menang, apa yang ingin kau lakukan untukku?" tanya Maria antusias.


"Bukankah tidak seru jika bertanding saja. Namun, hadiahnya tidak ada."


"Baik. Kita buat kesepakatan. Jika aku menang, kau harus bunuh diri agar urusanku tidak panjang. Sedangkan jika aku kalah, kau bisa minta apa saja padaku. Termasuk, minta aku bunuh diri atau apa saja terserah padamu," ucap laki-laki itu mantap dengan rasa penuh percaya diri.


"Terdengar sedikit menakutkan. Tapi ... aku terima taruhan itu dengan senang hati. Kita sepakat," ucap Maria dengan nada yang tak kalah mantap juga.


Mereka memulai pertarungan. Saling pukul, saling menghindar, juga berusaha saling mengalahkan satu sama lain. Mengeluarkan trik dan teknik masing-masing dengan sekuat tenaga. Tapi sepertinya, belum ada yang terkena pukulan.


Meski Maria sudah banyak kehilangan tenaga, dia juga masih kuat untuk melawan laki-laki dewasa itu. Ya walaupun dia harus mengeluarkan semua tenaga, juga mengerahkan semua kemampuan, tapi laki-laki paruh baya itu masih belum berhasil dia sentuh walau hanya satu pukulan pun.

__ADS_1


'Sialan! Laki-laki ini lumayan kuat ternyata. Mana aku sudah kehabisan banyak tenaga lagi. Aku tidak bisa mengajak dia terus-terus bermain-main seperti ini. Karena semakin lama, tenagaku semakin terkuras. Aku tidak ingin kalah, apalagi mati di dunia kecil ini. Oh Tuhan ... aku tidak ingin berakhir di sini,' ucap Maria dalam hati sambil terus menangkis pukulan demi pukulan dari laki-laki dewasa tersebut.


Maria mencoba menyerang laki-laki itu dengan gerakan dan cara penyerangan yang laki-laki itu lakukan sendiri. Namun, dia mencoba mengkombinasikan gerakan itu dengan kelincahan juga ketangguhan yang dia punya. Hasilnya ... buk! Buk! Maria berhasil memukul wajah laki-laki dewasa itu sebanyak dua kali.


__ADS_2