Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 31


__ADS_3

Jam empat subuh, Maria baru bisa tidur setelah usaha panjang yang dia lakukan agar matanya yang lelah bisa istirahat. Jadi, sangat wajar jika dia bangun kesiangan.


Maria bergegas menuju kamar mandi. Karena sekarang, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh empat puluh tiga menit. Dia memang bagun sangat-sangat kesiangan karena tidak bisa tidur tadi malam. Dan, jika sinar matahari tidak masuk ke kamarnya, mungkin dia akan tetap tidur hingga tengah hari tiba.


Mandi seadanya. Lalu, bergegas memakai pakaian karena dia ada janji dengan Arkan untuk bertemu di restoran saat makan siang. Yah, meskipun ini masih belum waktunya makan siang, tapi jika dia terjebak macet, maka dia akan kehilangan waktu makan siang tersebut.


Maria turun ke bawah. Tapi, dia tiba-tiba terpaku karena melihat keluarga pamannya yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Sempat saling tatap selama beberapa saat. Tapi, itu tidak lama. Karena mereka langsung mengabaikan Maria dengan terus melanjutkan langkah kaki menuju kamar Tiara.


Tidak ingin terlihat tidak peduli dengan apa yang sepupunya alami, Maria langsung berjalan cepat membuntuti keluarga tersebut. Dengan perasaan cemas, dia panggil pamannya.


"Paman. Apa yang telah terjadi pada, Tiara? Kenapa dia, paman?"


"Ceritanya panjang. Aku tidak bisa bercerita sekarang."


Selesai berucap, Bimo langsung beranjak mengikuti anak dan istrinya masuk ke dalam kamar. Sementara Tantri, dia yang biasanya banyak bicara, kini tidak mengeluarkan satu patah katapun untuk menjawab apa yang Maria katakan.


Tidak ingin ambil pusing dengan apa yang musuhnya rasakan, Maria langsung beranjak setelah keluarga pamannya masuk ke kamar Tiara. Kebetulan, dia sedang buru-buru agar bisa menemui Arkan tepat waktu.


Maria sampai lebih awal dari yang dia perkirakan. Saat berada di parkiran, dia langsung melihat Rimba yang sedang bicara dengan seorang perempuan.

__ADS_1


Tidak ingin kecolongan sedikitpun, Maria langsung memperhatikan gerak-gerik Rimba dengan seksama. Sepertinya, Rimba sedang bicara hal yang cukup serius dengan perempuan itu. Sayangnya, tidak ada cara buat Maria untuk mendekati agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Apa mereka sudah mulai bergerak sekarang? Ah, cepat sekali. Aku bahkan belum bersiap-siap sedikitpun," ucap Maria sambil terus melihat mereka dari dalam mobil.


Hampir lima belas menit, Maria menunggu obrolan itu selesai. Dan akhirnya, Rimba kembali masuk ke kantor, karena memang saat ini belum waktunya istirahat. Jadi, tidak ada yang berkeliaran di luar selain Rimba dengan perempuan yang dia temui. Sementara perempuan yang Rimba temui, dia langsung masuk ke dalam mobil yang berada tak jauh darinya.


Menunggu lagi selama kurang lebih sepuluh menit, Maria kembali menyimpan rasa penasaran dengan perempuan yang Rimba temui. Soalnya, setelah perempuan itu masuk, mobil yang dia masuki malah tidak beranjak sama sekali. Mobil itu tetap diam di tempat sebelumnya.


Satu persatu karyawan kantor mulai keluar dari pintu utama kantor tersebut. Maria melihat jam di tangan kirinya.


"Mm ... sudah mulai. Ini sudah waktunya istirahat buat semua karyawan."


Maria tersenyum sambil terus mengawasi mobil yang perempuan itu masuki sebelumnya. Dan ... seperti yang susah Maria duga. Perempuan itu sekarang keluar dari mobil. Namun, dengan dandanan yang berbeda dari yang dia lihat tadi.


Wanita itu diam tak jauh dari pintu masuk kantor tersebut. Dia seperti sedang memperhatikan kantor itu dengan seksama. Bukan memperhatikan, melainkan, seperti sedang menunggu seseorang muncul.


"Aku sudah tahu trik apa yang akan kamu mainkan, perempuan. Karena aku sudah banyak membaca novel sebelumnya. Dan, untuk ****** seperti ini, kamu pasti akan menggunakan trik murahan yang ... ah, aku pikir itu trik yang sudah snagat basi. Karena itu trik yang lama juga terlalu murahan."


Selesai berucap, Maria langsung segera turun. Dia berjalan dengan langkah pelan sambil matanya terus memperhatikan perempuan itu dengan baik.


Bibir Maria kembali mengukir senyum saat dia melihat Arkan yang sepertinya akan keluar melewati pintu itu. Sedangkan si perempuan yang sudah ada di depan pintu, berjalan perlahan untuk mendekat ke arah Arkan.

__ADS_1


'Aku akan temani kamu bermain perempuan. Kamu tenang saja, aku tidak akan mengecewakan kamu. Karena kau tahu? Aku lumayan pandai bermain akting,' kata Maria dalam hati sambil berjalan sedikit cepat agar tidak kecolongan.


Perempuan itu pura-pura sibuk memperhatikan map biru yang ada di tangannya. Entah apa isi dari map tersebut, Maria sendiri tidak ingin tahu. Karena isi dari map itu tidak penting buat Maria. Namun, trik yang wanita itu mainkan malah membuat Maria sedikit diuntungkan. Dengan pura-pura tidak fokus, maka Maria punya celah untuk menggagalkan rencana pertama dari wanita bayaran Rimba dan Ratna.


Lalu ... inilah puncaknya. Wanita itu pura-pura terpeleset agar bisa jatuh di pelukan Arkan si ceo tampan. Tapi sayangnya, Maria yang lincah segera menangkap tubuh wanita itu dengan cepat.


Sontak saja, mereka yang melihat kejadian itu langsung memusatkan perhatian pada Maria. Gadis cantik yang terlihat cukup tangguh untuk menahan tubuh orang lain agar tidak jatuh. Seketika, ungkapan gadis manja yang selama ini melekat pada diri Maria mendadak memudar hanya karena apa yang mereka lihat barusan.


Sementara wanita yang sedang berpura-pura itu, terdiam tanpa bisa bergerak. Bagaimana tidak? Rencana yang dia anggap berhasil, ternyata gagal begitu saja.


"Maria. Kamu ... apa kamu baik-baik saja?" tanya Arkan setelah menyingkirkan rasa kagum yang baru saja dia rasakan.


"Iya. Aku baik-baik saja." Maria berucap sambil mengukir senyum kecil di bibir. Lalu kemudian, dia beralih memperhatikan perempuan yang masih terdiam di hadapannya saat ini.


"Kalo kamu? Apa kamu baik-baik saja?"


"Eh ... iy--iya. Aku ... aku baik-baik saja ... mbak. Te--terima kasih banyak. Dan, maaf karena tidak memperhatikan jalan."


"Yah, sama-sama. Tidak masalah. Tapi lain kali, kamu harus selalu waspada. Jangan ceroboh seperti apa yang sudah kamu lakukan barusan ini. Karena jika kamu melakukan kecerobohan barusan di tempat umum, seperti jalan raya. Mungkin nyawa kamu yang akan jadi taruhannya. Karena di jalan raya itu jarang ada orang yang bisa menyambut kamu seperti barusan."


Kata-kata nasehat yang terdengar sangat perhatian. Tapi penuh dengan makna cemoohan juga ejekan. Perempuan itu tidak bisa menjawab sama sekali. Karena dia tidak mungkin memukul atau berkata-kata kasar pada Maria.

__ADS_1


Perempuan itu hanya bisa menahan rasa kesal juga amarah yang dia rasakan dengan menggenggam erat tangannya. Dan, Maria yang melihat hal kecil itu malah merasa cukup bahagia dengan apa yang baru saja dia lakukan.


__ADS_2