Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 59


__ADS_3

"Oh ya, satu lagi. Bisakah kamu memasang yang satu ini untuk aku?" tanya Arkan tanpa menunggu jawaban Maria atas pertanyaan yang sebelumnya.


Sontak saja, Maria baru sadar kalau ada dua cincin dalam kotak kecil yang Arkan buka barusan. Satu yang dia berikan buat Maria, sedangkan yang satunya lagi, cincin polos dengan satu mata kecil berwarna hijau. Sama persis dengan warna berlian yang ada di cincin Maria.


"Ria .... " Arkan harus memanggil Maria untuk menyadarkan perempuan. kesayangannya dari lamunan yang mungkin sedang memikirkan cincin tersebut.


"Eh ... iy--iya. Maaf, Ken. Aku ... tiba-tiba melamun. Cincin ini ada pasangannya ternyata? Aku pikir hanya satu saja."


"Sudah aku katakan, kalau ini adalah cincin pengikat kasih sayang antara aku dan kamu. Jadi ... jelas harus ada dua. Satu untuk aku, dan yang satunya lagi untuk kamu."


"Jadi ... bisakah kamu menyematkannya di jari manis ku, Ria?"


"Tentu saja. Tentu saja aku bisa," ucap Maria sambil tersenyum manis.


Lalu ... dia mengambil cincin yang masih tersisa dalam kotak kecil tersebut. Dia pasangkan cincin itu di jari manis Arkan. Sempurna. Satu kata buat sepasang cincin yang baru saja Maria lihat selama hidupnya ini.


Arkan tersenyum.


"Dengan cincin ini, aku harap kita saling mengikat kasih sayang, Ria."


"Aku juga," ucap Maria sambil membalas senyum Arkan.


Lalu, Arkan langsung menarik Maria ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan selama beberapa saat.


"Mm ... oh ya. Aku juga masih punya satu kabar bahagia lagi buat kamu, Ria." Arkan berucap sambil melonggarkan pelukannya.


Maria mendongak untuk melihat wajah Arkan.


"Kabar bahagia? Kabar apa lagi itu, Ken?"


"Gaun pengantin kita sudah siap, Ria. Aku datang ke sini juga untuk mengajak kamu melihat gaun itu. Apakah kamu bersedia?"


"Boleh. Kebetulan, aku juga tidak punya banyak kerjaan sekarang. Jadi, gak masalah jika pergi lihat gaunnya dengan kamu sekarang juga." Maria berucap dengan nada penuh semangat.

__ADS_1


Arkan tersenyum bahagia. Sekarang, meski belum sah menjadi pasangan suami istri, tapi keduanya sering mengabiskan waktu bersama. Yah tentunya, mereka masih tidak melewati batas wajah antara mereka.


____


Dua minggu kemudian.


Semua persiapan pernikahan sudah siap semuanya. Dan hari ini, pernikahan antara Arkan dengan Maria akan diadakan.


Gugup sudah pasti. Tapi ... hati Maria benar-benar dipenuhi dengan rasa bahagia sekarang. Dia yang tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, kini merasa menikah dengan orang yang dia cintai. Hal yang sungguh-sungguh membahagiakan, bukan?


Pernikahan itu diadakan di rumah orang tua Arkan. Karena orang terdekat Maria semuanya tidak ada, maka dia hanya sendiri di sana. Tanpa di temani satu keluarga pun.


Saat itulah, dia ingat akan mamanya yang ada di dunia nyata. Kebahagiaan itu terasa tidak lengkap. Tapi apalah daya, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalankan semua itu sesuai yang telah tersurat.


"Ria ... kamu cantik sekali hari ini. Arkan pasti sangat bahagia saat melihat bidadari nya yang cantik luar biasa," ucap mama Arkan sambil memegang kedua bahu Maria.


Maria yang sedang duduk di depan meja rias itu tidak berucap. Dia hanya tersenyum kecil sambil melihat wajah calon mama mertuanya dari pantulan cermin.


"Calon menantu anda memang sudah cantik aslinya, nyonya. Jadi, hanya perlu sedikit sentuhan make-up saja, dia sudah semakin cantik." Perias itu berucap sambil merapikan alat-alatnya.


"Sudah kok, nyonya. Sudah siap dari tadi."


"Baiklah. Ayo, Ria! Kita turun buat menemui calon suami kamu yang kelihatannya udah gak sabaran lagi buat menghalalkan kamu secepatnya."


Lagi-lagi, Maria tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya tersenyum kecil sambil mengikuti apa yang mama Arkan katakan.


Sambil memainkan cincin berlian pemberian Arkan yang tetap menempel di jari manis nya, Maria bangun dari duduk. Lalu, dia melangkah pelan mengikuti langkah kaki calon mama mertuanya untuk turun ke bawah.


Berjalan perlahan bak orang yang baru belajar berjalan adalah tradisi sebagai seorang mempelai. Saat itulah, orang-orang akan mengagumi wajah pengantin karena perbedaan dandanan dari hari-hari biasanya.


Seperti itulah Maria sekarang. Ketika dia turun ke bawah dengan menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah cukup pelan. Semua mata yang berada di bawah sana, semuanya tertuju pada diri Maria tanpa terkecuali.


Ada yang memuji kalau dirinya sangat cantik.

__ADS_1


Ada juga yang hanya melihat tanpa berkedip sebagai bukti rasa kagum yang mereka rasakan.


Dia terus menjadi pusat perhatian sampai dia duduk di samping Arkan. Sementara Arkan yang berada di sampingnya, terdiam sambil terus menatap takjub akan wanita yang dia cintai ini.


"Ehem ... ehem .... " Pak penghulu harus berdaham untuk menyadarkan Arkan dari lamunannya yang terus melihat ke arah Maria, si calon istri impiannya ini.


"Eh ... maaf, pak. Saya ...." Arkan berucap dengan nada tidak enak hati. Dia juga menggantungkan kalimatnya tanpa berniat untuk melanjutkan.


"Saya maklum. Namanya juga orang yang sedang di mabuk asmara," ucap pak penghulu dengan nada menggoda.


"Oh ya, bisa kita mulai sekarang?" tanya pak penghulu itu lagi.


"Bisa, pak. Ayo mulai secepatnya." Arkan bicara dengan nada penuh semangat.


"Arkan ih, jangan bikin malu papa ya," ucap papanya yang sedang duduk di samping Arkan.


"Eleh ... papa dulu sama aja kek gitu. Lebih terburu-buru lagi malahan." Mama Arkan ikut bicara.


"Mama ... tolong jangan buka rahasia masa lalu di depan orang banyak. Malu papa ih."


"Ah ... sebaiknya, perdebatan ini di lanjutkan nanti saja. Kita harus mulai sekarang karena kasihan dengan kedua mempelai yang sepertinya sangat tidak sabar lagi." Pak penghulu langsung menjadi penengah agar semua tidak bertele-tele.


"Iya, pak penghulu. Ayo mulai," ucap Arkan semakin terdengar tak sabaran.


Pak penghulu itu langsung mengulurkan tangannya. Meminta Arkan menjabat tangan tersebut untuk melangsungkan ijab kobul yang sangat sakral ini.


"Nak Arkan, kita mulai sekarang. Bismillahirrohmanirrohim. Nak Arkan .... "


"Tunggu!" Sebuah suara yang tiba-tiba saja terdengar cukup keras itu sontak saja membuat suara pak penghulu terhenti.


Seketika, perhatian semuanya teralihkan. Saat yang sakral, kini tiba-tiba dirusak oleh seseorang yang tiba-tiba saja datang.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut tentu saja saling pandang satu sama lain. Saling tatap dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


Sementara Maria, dengan perasaan yang sangat gugup, juga perasaan tak percaya berkecamuk dalam hati. Rasa sedih dan bahagia bercampur jadi satu. Dan rasa kecewa tentunya juga masuk ke dalam hati Maria sekarang.


__ADS_2