
Maria terdiam mematung. Dia lupa kalau Maria yang sesungguhnya itu sangat manja juga bodoh. Memanggil orang itu dengan panggilan kakak, yang dia anggap panggilan manja yang penuh dengan penghormatan.
"Mm ... semua orang bisa berubah, Arkan. Termasuk aku."
"Kau benar. Aku tahu perubahan itu pasti akan datang. Dan kau, akan menunjukkan siapa kau yang sebenarnya."
Sontak saja, Maria agak kaget dengan kata-kata itu. Itu terdengar seperti Arkan yang mengetahui sesuatu dari dirinya. Seperti mengetahui rahasia besar yang dia simpan sejak dia datang ke dunia kecil ini.
"Mm ... kenapa kau malah diam sekarang? Bukankah kamu ingin bertanya sesuatu padaku tadi? Ayo tanyakan sekarang! Jangan buat aku kesal karena menyimpan rasa penasaran terlalu lama."
"Aku .... " Maria menggantungkan kalimatnya. Tiba-tiba, dia merasa keraguan mendadak menghampiri lalu menyelimuti hatinya. Membuat hati itu merasa sangat bimbang dengan apa yang akan bibirnya ucapkan.
"Maria. Ayo katakan! Aku adalah laki-laki yang kekurangan rasa sabar, kau harus tahu ini."
"Baiklah. Sebelumnya aku minta maaf. Anggap aku sedang mencari kebenaran untuk seseorang."
"Baik. Terserah kamu saja."
"Aku hanya ingin tahu. Bukankah kau tidak suka dengan aku? Sekarang, kau pasti punya cara untuk membatalkan pernikahan kita bukan?"
"Siapa bilang?"
"Maksudmu?"
"Siapa bilang aku punya cara untuk membatalkan pernikahan ini, Maria? Aku tidak punya."
"Oh, kau tidak punya? Aku pikir, kau punya. Lalu, apa langkah selanjutnya yang akan kau ambil. Kau tidak suka, aku yakin kau tidak akan menyerahkan dirimu padaku begitu saja, bukan?"
"Apakah kata-kata itu tidak terbalik, Maria? Aku yang menyerahkan diriku padaku? Aku rasa ... itu ungkapan yang salah. Karena yang benar adalah, kau yang sebenarnya akan menyerahkan dirimu padaku."
__ADS_1
Maria terdiam. Lalu, obrolan itu seketika teralihkan dengan hidupnya lampu taman yang sudah lama mati. Kemudian, seorang pelayan datang untuk memanggil mereka berdua agar langsung menyantap hidangan makan malam yang sudah di sediakan.
"Kita akan bahas lagi nanti. Aku tunggu kamu di restoran samping kantorku. Kau harus datang besok saat makan siang." Arkan berucap sambil mereka beranjak.
"Baiklah. Aku akan datang. Aku harap pembahasannya menyenangkan kedua belah pihak."
"Lihat saja nanti."
***
Makan malam berakhir dengan lancar tanpa ada hambatan. Setelah hampir sepuluh menit selesai makan, Maria minta izin pulang. Dia kembali pulang dengan diantar sopir yang menjemput dia sebelumnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Maria terus memikirkan apa yang Arkan katakan. Setiap ucapan yang terdengar seperti sedang menyimpan sebuah rahasia. Atau lebih tepatnya, Arkan seperti sudah mengetahui sebuah rahasia besar. Dan rahasia itu berkaitan erat dengan dirinya. Setidaknya, itulah yang terus saja bermain di benak Maria sejak pembicaraan di taman, hingga dirinya sampai di depan pintu rumah.
"Nona ... kita sudah sampai," ucap sopir itu menyadarkan Maria dari apa yang Maria pikirkan.
"Eh, oh iya-iya. Maafkan aku. Aku sedikit linglung karena sedang mengantuk akibat begitu kelelahan." Maria berucap sambil tersenyum paksa pada sopir itu.
"Iya. Terima kasih. Semoga saja ya."
Maria pun langsung beranjak meninggalkan mobil tersebut. Saat dia sampai di depan pintu masuk, tidak ada yang menyambut kepulangannya. Hal itu memang bukan hal yang aneh. Karena dirinya sudah biasa tidak mendapatkan sambutan selama ini.
Namun, ada sesuatu yang tidak beres dengan perasaannya. Dia merasa seperti ada yang salah dengan tiada yang menyambutnya kali ini. Dan ... dia tahu apa sebabnya.
Maria tersenyum kecil. Lalu kemudian, dia memilih langsung naik ke lantai atas menuju kamar untuk segera merebahkan diri.
Sayangnya, niat itu harus terhalang oleh Ratna yang sudah sejak tadi menanti kepulangan Maria. Dengan wajah yang sangat kesal, Ratna melihat Maria dari anak tangga paling atas.
"Kau pulang juga akhirnya, Maria. Puas kamu jalan sendirian ya? Kamu teman yang tidak punya perasaan, Maria. Benar-benar tidak punya perasaan."
__ADS_1
"Kenapa kamu langsung marah-marah saat melihat wajahku, Ratna? Apa kamu tidak punya kerjaan lain selain mengawasi aku? Ah! Kau teman yang luar biasa baik. Sampai-sampai, kau tidak ingin tidur hanya karena mencemaskan aku."
"Maria! Aku tidak sedang bercanda denganmu. Aku ingin menanyakan, kenapa kau berubah sekarang, hah! Kenapa kau jadi semakin tega padaku! Kau lupa? Aku adalah teman yang selama ini ada untuk kamu. Kau lupa akan hal itu? Jika tidak ada aku .... "
"Jika tidak ada kamu, maka hidupku akan lebih baik, Ratna. Karena kau bukan teman, melainkan musuh. Kau mengerti?"
Maria sudah tidak tahan lagi. Dia tidak ingin bermain-main dengan Ratna lagi sekarang. Karena satu penghalang, alias musuh yang merusak hidup Maria sudah dia bereskan.
Tidak ada salahnya jika dia bermusuhan secara terang-terangan dengan Ratna sekarang. Karena musuh secara terbuka akan lebih gampang dia bereskan dari pada harus pura-pura tertindas seperti yang Maria alami sebelumnya.
Ratna yang tak percaya akan kata-kata yang Maria ucapkan barusan, terpaku bak patung pajangan. Dia benar-benar syok. Tak menyangka kalau Maria bisa berucap kata-kata itu.
"Maria ... kau .... "
"Aku lelah. Aku ingin istirahat. Jangan ganggu aku lagi jika kamu masih ingin tinggal di sini bersamaku. Kau mengerti apa yang aku maksudkan, bukan?"
Seketika, mata Ratna membelakak tak percaya. Kaget. Cukup kaget dengan ucapan bernada santai, namun penuh dengan ancaman juga tekanan yang Maria ucapkan barusan. Sampai-sampai, dia tidak bisa menarik napasnya dengan baik selama beberapa detik akibat terlalu kaget.
Sementara itu, Maria langsung beranjak melewati Ratna dengan santai. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah, atau rasa menyesal atas kata-kata yang dia ucapkan barusan.
***
Ratna masih terdiam di depan pintu setelah Maria masuk ke dalam. Dia genggam erat tangannya sambil menatap pintu tersebut dengan amarah yang memuncak. Ingin rasanya dia dobrak pintu tersebut, lalu menyeret Maria keluar dari kamar itu. Memberikan pelajaran pada perempuan yang tidak tahu terima kasih atas apa yang sudah dia lakukan selama belasan tahun.
Tapi sayangnya, dia tidak bisa melakukan itu. Karena dia tahu, Maria sekarang bukan Maria yang kemarin-kemarin. Yang mudah dia atur, juga sangat percaya dengan apa yang dia katakan.
Maria sekarang lebih liar dan tidak mudah ditebak. Bersikap tenang, tidak ceroboh, dan yang paling penting adalah, Maria sekarang tidak lagi Maria yang bodoh. Maria sekarang adalah perempuan pintar yang tahu segalanya.
Hal itulah yang membuat Ratna mengubah langkah. Menyusun strategi baru untuk merebut apa yang dia incar selama belasan tahun ini.
__ADS_1
Ratna masuk ke dalam kamar. Mengambil ponsel, lalu menghubungi seseorang.