
Bukannya menjawab langsung apa yang Rimba tanyakan, Ratna malahan kembali menghadiahkan sebuah tamparan ke pipi Rimba. Hal itu benar-benar membuat kesabaran Rimba lenyap. Rimba langsung memberikan tamparan balik ke wajah Ratna.
Plak ....
Tamparan yang cukup keras sehingga membuat sudut bibir Ratna tiba-tiba mengeluarkan dasar segar secara perlahan.
"Bia'dab kamu Rimba! Kurang ajar sekali kamu ya. Berani-beraninya kamu menampar aku, hah!" Ratna berucap dengan mata yang berlinangan.
"Kau yang bia'dab, Ratna. Tidak tahu sopan santun. Sudah tidak punya rasa malu. Berani-beraninya kau pukul aku di tempat umum tanpa ada alasan dan penjelasan terlebih dulu. Kau pikir, aku benar-benar mencintai kamu sampai tidak akan membalas apapun yang akan kau lakukan padaku, ha? Tidak! Aku tidak akan diam saja jika kamu sudah kelewatan. Kau paham!"
"Karena aku tahu kau memang tidak pernah mencintai aku, makanya aku memukul kamu barusan. Lihat ini, Rimba! Lihat!" Ranta berucap sambil menyodorkan ponsel pada Rimba.
Layar ponsel itu sedang memutar rekaman saat Rimba bicara dengan seseorang tadi. Sontak saja, mata Rimba membulat ketika melihat rekaman tersebut. Untuk sesaat, dia membeku. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Namun, itu hanya sesaat saja. Karena beberapa saat kemudian, Rimba memalingkan wajahnya dari ponsel tersebut.
"Karena kau sudah tahu, maka aku tidak bisa bicara apa-apa lagi. Aku tidak akan berusaha menjelaskan apapun padamu, karena aku tahu, kau tidak akan percaya."
"Laknat kamu, Rimba! Iblis berwajah manusia kau ternyata," ucap Ratna sambil melempar handset yang ada di telinga ke wajah Rimba.
Rimba tertawa. "Kau bilang aku, iblis berwajah manusia, Ratna? Heh ... kita sama tahu gak? Sesama iblis berwajah manusia, harusnya tidak perlu saling menyakiti. Melainkan, harus bekerja sama."
"Laknat! Aku tidak akan bekerjasama lagi dengan kamu. Tidak akan!"
"Ya sudah kalo gitu. Jika itu pilihan kamu, maka aku tidak akan memaksa. Tapi, jangan menyesal kamu kelak."
"Cih ... siapa juga yang menginginkan kamu sebenarnya, Ratna. Jika tidak ingin memanfaatkan, mana ada yang mau mendekati. Perempuan tak tahu diri yang suka berlagak padahal tidak ada kelebihan sama sekali. Najis!"
__ADS_1
Kata-kata itu benar-benar membuat darah Ratna mendidih. Amarah yang awalnya sudah berusaha dia pendam, kini segera meledak bak gunung merapi yang siap memuntahkan lahar panasnya.
Sementara Rimba, dia ingin segera meninggalkan tempat tersebut setelah berucap kata-kata barusan. Tapi, baru juga dia beranjak beberapa langkah meninggalkan Ratna, Ratna yang kalap karena tidak bisa membendung amarah itu, segera memukul kepala Rimba dengan vas bunga yang ada di sudut ruangan VIP tersebut.
Buk ....
Bunyi keras itu segera membuat tubuh Rimba kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh ke lantai bersama dengan suara teriakan para pengunjung lain yang merasa kaget ketika melihat kejadian itu.
Namun, Ratna tidak juga merasa puas dengan keadaan Rimba yang sudah tidak sadarkan diri itu. Dengan rasa marah yang masih memuncak, Ratna menusuk-nusuk wajah Rimba dengan garpu bekas makanan merasa tadi.
Teriakan histeris dari para pengunjung rumah makan tersebut makin terdengar. Namun Ratna yang sudah kesetanan itu tidak juga menghiraukan semua teriakan. Bahkan, dia memberi tatapan tajam yang siap membunuh pada siapa yang berusaha mendekat. Alhasil, tidak ada satu pun yang berani mendekati dirinya.
"Ha ha ha .... Mati kau jahanam! Mati kau sekarang!" Kata-kata itu terus Ratna ulang-ulang sambil terus menusuk-nusuk kan garpu ke wajah Rimba.
Lalu ... akhirnya polisi yang beberapa pengunjung itu panggilkan datang juga. Polisi langsung mengamankan tempat tersebut dan berhasil membekuk Ratna.
Maria yang terus memperhatikan layar gawai nya, terdiam membeku. Menatap layar itu dengan tatapan tak percaya. Beberapa kali dia mencoba menyadarkan dirinya akan apa yang baru saja terjadi. Namun, semua yang dia lihat itu benar adanya.
"Ya Tuhan ... ternyata Ratna itu phsikopat rupanya. Pantas saja dia main minta Rimba bunuh saja orang-orang yang dia benci. Rupanya ... dia punya darah pembunuh. Ah, benar-benar tak habis pikir aku," ucap Maria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi ... ah, apakah semudah itu jalan ceritanya? Aku sama sekali belum bergerak, eh, para musuh sudah kalah. Apakah ini yang namanya membunuh tanpa menyentuh? Duh ... benar-benar luar biasa," ucap Maria lagi sambil memikirkan semua yang terjadi barusan.
Satu jam berlalu. Maria yang capek memikirkan apa yang baru saja terjadi, ingin segera menutup mata untuk menenangkan pikiran. Sayangnya, baru saja dia memejamkan mata, pintu kamarnya sudah di ketuk oleh seseorang dari luar.
'Ah! Apakah dunia kecil ini tidak mengizinkan aku istirahat, hm? Baru juga mau menutup mata, eh ... ada saja halangan nya.' Maria berucap kesal dalam hati sambil berusaha memaksa diri untuk bangun.
__ADS_1
"Iya sebentar. Aku segera datang," ucap Maria dengan nada malas.
Ternyata, yang mengetuk pintu kamar tersebut adalah pamannya. Maria langsung memasang wajah kusut bak orang yang memang baru terbangun dari tidurnya.
"Iya, paman. Ada apa?"
"Apa kamu sudah tidur tadi, Maria?"
"Iya paman. Aku sudah tidur. Kenapa memangnya?"
"Kau tahu, Ratna sekarang berada di kantor polisi. Orang tuanya baru saja menghubungi aku beberapa saat yang lalu."
"Hah! Ratna masuk kantor polisi? Kok bisa? Maksudku ... kenapa bisa dia berada di kantor polisi? Apa yang terjadi dengannya, paman?"
Tentu saja pertanyaan yang terdengar cukup kaget yang Maria ucapkan itu hanya sebatas kepura-puraan saja. Karena sesungguhnya, dia sudah tahu apa yang akan pamannya katakan saat membangunkan dirinya tadi.
"Ratna baru saja membunuh orang. Dia membunuh Rimba, pacarnya sendiri."
"Lho! Kok bisa? Alasannya apa coba?"
"Ya mana paman tahu. Dia bunuh orang kan gak bilang ama kita dulu."
"Ah, yang aku takutkan adalah, orang tuanya tahu kalau kita sudah mengusir Ratna dari rumah kita. Mereka bisa menyalahkan kita atas apa yang Ratna lakukan."
"Lho, kenapa mereka bisa menyalahkan kita paman? Kita tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang anak mereka lakukan. Anak mereka yang bikin ulah, kenapa paman harus takut kita yang di salahkan. Bukankah kita tidak pernah minta dia bikin ulah?"
__ADS_1
"Ah ... dasar anak muda yang selalu punya pemikiran dangkal. Tentu saja aku takut di salahkan, karena mereka pikir, Ratna itu tertekan saat kita usir dari rumah. Makanya dia melakukan kejahatan. Lagipula, kau kan tahu bagaimana orang tua si Ratna itu sebenarnya."