
Suasana mendadak hening. Tidak ada yang berucap satu patah katapun dari mereka semua. Namun, hening nya suasana itu tidak seperti pemikiran mereka. Karena mereka sekarang sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Kemudian, Bimo kembali memecahkan keheningan di tengah-tengah mereka dengan memulai pembicaraan lagi.
"Ya sudah kalau seperti itu yang kamu inginkan. Paman akan menuruti permintaanmu, Maria. Sementara untuk kamu, Ratna. Maafkan paman, kamu harus segera keluar dari rumah ini. Karena orang yang meminta kamu tinggal, sekarang sudah berubah. Dia sekarang yang meminta kamu pergi, jadi .... "
"Cukup, Paman! Aku akan pergi secepatnya. Hari ini juga, aku akan tinggalkan rumah ini. Paman tidak perlu bicara panjang lebar lagi. Karena sepanjang apapun paman menjelaskan, ujung-ujungnya, aku harus pergi juga." Ratna berucap cepat memotong perkataan Bimo.
Dengan tatapan kesal, dia tatap satu persatu orang yang ada di dekatnya.
"Aku akan pergi. Aku sungguh kecewa pada kalian semua. Manusia yang tidak tahu terima kasih. Habis manis sepah dibuang. Benar-benar tidak punya hati."
"Untuk kamu, Maria. Kamu akan tahu apa yang akan terjadi nantinya. Sekarang kau boleh bahagia karena sudah berhasil mengusir aku dari rumah ini. Tapi nanti, kamu akan tahu sepenting apa aku bagi kamu. Camkan itu, sahabat yang tidak tahu balas budi, bahkan cukup hina untuk di sebut sahabat."
"Apakah itu tidak salah, Ratna? Kau yang cukup hina, atau aku sebenarnya? Jangan salah bicara, nanti bisa bahaya," ucap Maria menjawab perkataan Ratna barusan dengan nada tenang yang terdengar sangat santai.
"Kau .... " Darah Ratna semakin mendidih. Ingin rasanya dia main tangan. Tapi tidak mungkin. Jika dia berhasil memukul Maria, tentu Bimo tidak akan diam bukan? Setidaknya, itu yang ada dalam pikiran Ratna sekarang.
"Kau akan tahu nanti. Lihat saja, Maria! Lihat saja," ucap Ratna sambil menggertak kan giginya karena terlalu kesal. Dia juga menggenggam erat kedua tangannya supaya bisa menahan kesal yang hatinya rasakan.
"Baiklah. Aku lihat kok, Rat. Kamu tenang saja." Maria berucap dengan nada penuh dengan ejekan.
__ADS_1
Tidak kuat menahan rasa kesal, Ratna mencoba mengabaikan Maria. Walau pada dasarnya, mengabaikan Maria tidaklah membantu sedikitpun. Hatinya masih terasa sama, sangat-sangat kesal sampai ingin melampiaskan dengan pukulan. Sayangnya hal itu tidak mungkin.
Ratna melangkah meninggalkan Maria. Kemudian, dia kembali berhenti ketika berada di hadapan Bimo. Dia menoleh, lalu menatap Bimo dengan tatapan sangat-sangat kesal.
"Aku kecewa dengan sikap paman. Aku pikir, paman bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan. Tahunya ... paman sama saja. Sama-sama tidak tahu terima kasih pada orang yang sudah banyak berjasa buat keluarga paman."
"Heh ... sejak awal aku tidak pernah setuju kamu tinggal di sini. Tapi, karena Maria yang cukup menginginkan kamu tinggal, maka aku bisa apa? Toh yang punya kekayaan ini Maria," ucap Bimo santai.
Semakin merasa kesal tentunya. Ratna tidak ingin lagi bicara. Dia lalu segera melangkah naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.
"Ingat Ratna, jangan bawa barang-barang yang aku beli. Kamu hanya perlu membawa barang-barang milikmu saja," ucap Maria dengan suara nyaring.
Seketika, langkah Ratna terhenti. Dia menegang karena terlalu marah. Tapi, dia tidak ingin melawan lagi. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, segera pergi, lalu kembali lagi untuk membalas dendam atas hinaan juga perlakuan keluarga ini padanya.
Ratna sudah meninggalkan rumah Maria. Sedikit lega tentunya yang Maria rasakan. Namun, dia juga tidak merasa bahagia dengan hal itu. Karena kepergian Ratna ini, pasti akan memunculkan konflik baru buat jalan hidupnya.
"Aghh ... aku harus lebih waspada lagi sekarang. Jalan ini sudah terlalu ribet. Makin ke sini, makin sulit saja rasanya. Terlalu banyak masalah, aku harus cepat menyelesaikannya. Jangan menunggu lebih lama lagi," ucap Maria pada dirinya sendiri saat dia berada di dalam. kamar.
Tiba-tiba, ponsel Maria berdering. Tertera nama Rimba di sana. Maria segera menjawab panggilan itu, karena dia tahu, itu bukan panggilan untuknya, melainkan, untuk Ratna.
Benar saja apa yang Maria pikirkan. Ratna pasti akan menghubungi Rimba jika dia punya masalah. Apalagi masalahnya cukup besar seperti saat ini. Ratna pasti akan mendesak Rimba segera bergerak menjalankan rencana mereka.
__ADS_1
"Halo Rimba. Di mana kamu sekarang, ha? Kenapa sulit sekali kamu mau jawab panggilan dari aku? Kamu gak tahu apa, aku sedang di timpa musibah besar." Terdengar suara Ratna yang langsung ngoceh ketika panggilan mereka tersambung.
"Maaf. Kamu pikir aku gak ada kerjaan apa? Aku gak hanya terfokus pada gawai tahu gak? Aku juga punya kerjaan yang harus aku selesaikan. Jika tidak, Arkan si sialan itu pasti akan ngomel-ngomel lagi padaku."
"Arkan? Ada apa dengan dia? Apa yang sedang kamu alami sekarang? Katakan padaku!"
"Si sialan itu terus saja membuat aku sibuk dengan memberikan aku banyak kerjaan. Dia membuat aku tidak punya waktu senggang sedikitpun. Gila! Dia sudah gila, kau tahu? Dia bahkan akan mengomeli aku juka kerjaan yang dia berikan tidak bisa aku selesaikan dalam waktu singkat. Namun, dia juga akan ngomel jika kerjaan yang aku selesaikan tidak sesuai dengan keinginannya. Menurut dia. Semua sesuka dia." Rimba bicara dengan nada cukup kesal dengan kata yang cukup panjang.
"Sial! Apa pasangan ini sudah tahu dengan apa yang sedang kita rencanakan, Rimba?" tanya Ratna antusias.
"Apa maksud kamu?"
"Maksudnya adalah, kedua pasangan sialan ini sedang mengerjai kita secara bersama-sama. Mereka sudah tahu kalau kita sedang merencanakan sesuatu untuk mereka. Maka dari itu, mereka membalas kita duluan. Karena ... kau tahu? Hari ini aku diusir dari rumah oleh paman Bimo."
"Apa! Kau diusir? Bagaimana bisa? Apa yang kau lakukan sampai kau harus diusir? Kesalahan apa? Katakan padaku sekarang juga!" Terdengar nada sangat kaget dari Rimba saat tahu nasib buruk yang sedang Ratna alami sekarang.
Terdengar dengusan pelan dari Ratna. Dia terdiam selama beberapa saat.
"Aku diusir karena ulah Maria si bodoh itu, kau tahu? Dia minta pamannya usir aku dengan alasan, aku sahabat yang hanya pura-pura baik di depan, tapi di belakang, aku menusuknya."
Bukannya kaget, atau sedih dan marah, Rimba malahan tertawa terbahak-bahak dengan penjelasan Ratna barusan. Hal itu langsung mengubah ekspresi sedih yang Ratna utarakan, langsung menjadi kesal.
__ADS_1
"Apa yang kau tertawa kan, hah! Aku sedang bernasib buruk hari ini, kau malah bahagia. Dasar kekasih yang tidak punya hati kau ya," ucap Ratna sangat kesal memarahi Rimba.