Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 60


__ADS_3

Sementara Maria, dengan perasaan yang sangat gugup, juga perasaan tak percaya berkecamuk dalam hati. Rasa sedih dan bahagia bercampur jadi satu. Dan rasa kecewa tentunya juga masuk ke dalam hati Maria sekarang.


Bagaimana tidak? Dia cukup hafal siapa pemilik suara yang baru saja menghentikan ijab kobul yang sakral ini.


"Lila! Bagun sekarang juga!"


"Lila .... Bagun, mama bilang!"


"Lalila Mariana, bagun!"


Lalila Mariana, gadis tangguh yang baru saja ingin melangsung pernikahan, kini harus terbangun dengan perasaan yang sangat sedih dan kecewa.


Dia membuka matanya yang terasa sangat berat. Tapi saat mata itu berhasil dia buka, dia langsung melihat sosok perempuan yang cukup dia rindukan selama ini.


"Mama .... " Lila memanggil mamanya dengan suara lemah.


"Iya, ini mama. Kenapa? Kok kayak kesal aja saat melihat mama, Lila? Apa kamu marah karena mama bangunkan?"


Lila langsung memaksa tubuhnya untuk bangun sekarang juga. Dia berusaha mengukir senyum, padahal dalam hati terasa sangat sakit karena perpisahan yang sangat dia takutkan ini akhirnya terjadi juga.


"Aku gak marah kok sama mama. Mana mungkin aku bisa marah. Mama adalah satu-satunya kesayangan aku di dunia ini. Aku kangen mama," ucap Lila sambil memeluk tubuh wanita paruh baya yang terlihat sedikit rapuh karena di makan usia itu.


"Kangen apanya? Kapan kamu dan mama saling berjauhan. Sebelum tidur tadi malam saja mama ketemu sama kamu. Jadi, jangan banyak bicara. Cepat mandi, karena kamu bangun sangat-sangat kesiangan."


"Mama .... "


"Lila, lakukan apa yang mama katakan secepatnya. Jangan banyak bicara karena kita sudah terlambat buat ziarah ke makan papa kamu. Lagian, ada-ada saja kamu. Pakai bangun kesiangan segala lagi. Udah tahu ada hal penting yang harus kita lakukan hari ini. Eh, malah molor terlalu lama."


"Mamaku yang paling cantik. Aku sangat-sangat merindukan omelan mu itu. Sangat-sangat rindu," ucap Maria sambil terus memeluk pinggang mamanya.


"Anak manja. Kamu bukan anak kecil lagi sekarang. Ingat itu, Lila."


"Aku ingat mama. Mama tenang saja."

__ADS_1


"Huh ... jika ingat. Jangan banyak tingkah. Mama tunggu kamu di meja makan sekarang juga. Lekas bersiap-siap! Jangan buat mama menunggu terlalu lama."


"Baiklah, mama."


Lila langsung melepaskan pelukannya. Setelah pelukan itu dia lepas, mamanya langsung beranjak meninggalkan kamar tersebut.


Setelah kepergian sang mama, Lila masih duduk diam di atas ranjang. Memikirkan apa yang baru saja dia lalui selama ini. Selama berbulan-bulan dia hidup di luar sana. Tapi, itu hanya satu malam ternyata.


Ingat akan semua hal yang telah dia lalui selama ini, Lila mendadak merasa dadanya sangat sesat. Sakit, sedih, dan kecewa bercampur jadi satu. Tiba-tiba, dia merindukan seseorang yang mungkin tidak akan pernah dia temui lagi buat selama-lamanya.


Semua sakit itu tidak bisa dia tahan. Perlahan, air mata mengalir melintasi pipinya.


"Aku pikir, aku tidak akan kembali lagi ke dunia nyata. Tapi nyatanya, semua tebakan itu salah. Dunia khayal, tetaplah akan menjadi khayalan buat selama-lamanya. Tidak akan pernah menjadi nyata."


"Tapi ... kenapa rasa sakit ini begitu nyata. Apakah rasa sakit ini tidak bisa ikut menjadi khayal saja? Aku tidak ingin merasakan semua ini," ucap Maria sambil memegang dadanya yang terasa semakin sakit saja sekarang.


Ketika dia menyeka air mata yang perlahan jatuh di pipinya, Lila menemukan sesuatu yang masih terselip indah di jari manisnya. Dengan tatapan tak percaya, dia melihat apa yang matanya lihat sekarang.


"Cincin? Ini ... ini bukannya cincin berlian yang Arkan berikan buat aku? Lho ... kok bisa sih, cincin ini masih ada di jari manis ku?"


"Lila! Apa yang kamu lakukan sih? Kok lama banget di kamar? Kenapa belum keluar juga? Ini sarapannya keburu dingin lho, Lil."


Teriakan sang mama membuyarkan segalanya. Dia yang awalnya masih merasa bingung sambil terus melihat cincin berlian yang masih melingkar di jari manisnya, kini bergegas turun dari ranjang. Lalu berlari menuju kamar mandi.


"Sebentar, Ma. Aku sedang siap-siap," ucap Lila sambil berlari.


"Cepat, Lila! Hari gak pagi lagi lho, Lil. Udah siang ini. Kapan berangkatnya kita."


"Iya, Ma. Iya. Tunggu bentar!"


Lila langsung melakukan semuanya dengan secepat mungkin. Mandi hanya seadanya saja. Sikat gigi sebentar saja, lalu kembali berlari keluar dari kamar mandi. Selanjutnya, dia melakukan semua persiapan dengan trik secepat mungkin.


Akhirnya, Lila selesai bersiap-siap. Dia ingin segera meninggalkan kamar, tapi langkahnya terhenti saat ingat dengan cincin yang masih melingkar di jari manisnya.

__ADS_1


Untuk sesaat, dia tatap cincin tersebut. Lalu, karena merasa tidak ingin mendapat pertanyaan dari sang mama, Lila berniat untuk melepaskan cincin tersebut.


Tapi sayangnya, cincin itu seperti menyatu dengan jarinya. Tidak bisa dia lepaskan karena terasa begitu sempit untuk dia gerak naik ke atas.


"Ah, yang benar saja ini cincin. Ada mantra atau apa sih? Kok gak bisa lepas sama sekali. Mana cincinnya di jari manis tangan kanan lagi. Ini ... jika mama tanya, gimana cara ngejawabnya ya? Masa iya aku jawab ini cincin dapat dari mimpi. Hei ... mana ada, Lila."


"Lila ...! Buruan!"


"Iya, Ma. Ini usah siap."


Terpaksa Lila balut jari manisnya dengan plaster agar tidak ada pertanyaan tentang cincin. Lalu, dia segera beranjak menuju meja makan, tempat di mana mamanya sudah menunggu sejak tadi.


"Kok lama banget sih, Lil? Ada apa dengan kamu hari ini, ha? Seperti bukan Lila anak mama saja."


"Yah, mama. Bisa-bisanya ngomong gitu sama anak sendiri. Jika aku bukan anak mama, terus anak siapa lagi aku ini? Masa iya anak tetangga, Ma."


"Bisa aja kalo ngejawab apa yang orang tua katakan. Udah, ayo cepat makan. Selesai makan, kita akan segera berangkat."


"Iya, Ma. Siap." Lila berucap sambil mengangkat satu tangannya persis orang memberi hormat.


Saat itulah, sang mama dengan sangat jelas melihat jari manis anaknya ada yang ganjal.


"Jari kamu kenapa, Lil?"


"Hah? Ja--jari? Jari kenapa?" tanya Lila gugup.


"Itu jari kenapa kamu pakaikan plaster, ha?"


"Di tanya soal jari aja bisa gugup seperti itu. Benar-benar deh kamu ini, Lila-Lila."


"Ngg--nggak gugup kok, Ma. Biasa aja. Ini ... jari tadi luka akibat gatal. Aku garukan, eh malah luka gini."


"Luka? Yang benar saja, Lila."

__ADS_1


"Iya, Ma. Benar. Udah, aku harus makan cepat. Kita harus berangkat segera, bukan?"


"Hm ... dasar kamu. Bisa aja ngelesnya."


__ADS_2