
Ingin rasanya Maria tertawa mendengarkan kata-kata yang baru saja pamannya ucapkan. Namun, sebisa mungkin dia tahan tawa itu agar tidak lepas. Cukup tertawa dalam hati saja saat menanggapi sikap pamannya yang cukup bodoh.
Eh, bukan sikap pamannya yang cukup bodoh, melainkan, orang yang memberikan pamannya info itu yang bisa dibilang bodoh. Bisa-bisanya mengatakan sebuah informasi tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Kenapa kau diam, Maria? Tidak tahu apa yang harus kamu katakan untuk membela diri? Atau ... tidak menyangka kalau aku akan tahu seperti apa sikap busuk mu saat berada di luar rumah?"
"Maaf paman. Aku diam bukan memikirkan apa yang paman katakan barusan. Karena kata-kata yang paman ucapkan barusan itu semuanya salah. Aku memang makan dengan laki-laki. Tapi ... apakah paman tahu siapa laki-laki itu?"
"Apakah aku perlu tahu siapa laki-laki itu sekarang, Maria? Setelah kamu mengakui semua ulah busuk yang kamu lakukan di luar rumah tentunya."
"Aku tidak ingin terlalu lama berdebat paman. Sekarang, katakan padaku siapa yang memberitahu paman kalau aku makan dengan laki-laki hari ini. Aku ingin tahu siapa yang cukup berani memberikan aku sebuah fitnah."
Saat itulah, Ratna muncul dari balik pintu kamar Tiara bersama Tantri tentunya.
"Fitnah kamu bilang, Maria? Apa semua bukti yang masuk ke grup keluarga itu tidak cukup? Kamu makan bersama laki-laki di tempat umum. Mana sempat pegangan tangan lagi. Benar-benar deh kamu ya. Gak punya rasa malu barang sedikitpun." Tantri berucap dengan nada penuh dengan ejekan juga terdengar begitu puas.
"Bukti? Siapa yang mengirim bukti ke grup keluarga? Aku ingin lihat sekarang juga, seperti apa bukti yang kalian maksud, dan seperti apa orang yang bisa mengirim bukti itu ke grup keluarga kita yang termasuk ke dalam grup tertutup."
"Kenapa kamu jadi berubah seperti ini, Maria? Aku yang bersahabat dengan kamu sejak kecil saja seperti sudah tidak mengenali kamu lagi. Kamu sudah sangat-sangat jauh berbeda. Kamu bukan Maria temanku yang dulu lagi," ucap Ratna dengan raut wajah yang terlihat sedang sangat sedih.
__ADS_1
'Ini dia biangnya. Aku yakin kalau semua masalah, dialah yang menjadi penyebabnya. Berani sekali dia ternyata, cari gara-gara secara terang-terangan dengan aku. Padahal, aku sudah memberikan dia peringatan tadi malam. Aggh .... '
Maria menarik napas panjang. Lalu, melepaskan secara perlahan. Dia kesal sekali sekarang. Sudah tidak ingin bermain-main lagi dengan terus melayani perdebatan yabg lebih mirip pengeroyokan batin itu.
"Katakan padaku apa bukti dan siapa pengirimnya paman. Aku ingin tahu siapa orang yang begitu tidak punya mata sampai bisa bikin masalah dalam grup keluarga kita."
"Pengirimnya mana mungkin aku tahu. Karena orang itu memakai akun samaran yang tidak memperlihatkan foto atau data diri sedikitpun. Sedangkan buktinya, itu adalah foto dan vidio kamu yang sedang bersama laki-laki di salah satu rumah makan. Apakah yang mau kamu pungkiri lagi setelah mengetahui semua itu."
"Paman, aku akan jelaskan. Pertama, aku makan dengan laki-laki yang sangat aku kenali, dan kalian juga cukup mengenali dia. Dia adalah, Arkan."
Sontak saja, nama itu cukup membuat ketiga orang yang sedang menghakimi Maria terdiam. Sungguh, tidak bisa berucap, karena nama itu membuat jantung mereka berhenti berdetak untuk sesaat lamanya karena terlalu kaget.
"Jika iya, maka aku minta kalian hubungi saja langsung orangnya. Tanya, apakah aku makan siang bersamanya, atau makan dengan laki-laki lain."
Makin tidak berkutik saja ketiga orang tersebut. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain sambil berusaha mencari alasan yang tepat untuk mereka utarakan pada Maria sekarang.
"Silahkan hubungi Arkan, paman! Dengan menghubungi dia, maka kita akan tahu seperti apa aku yang sesungguhnya."
"Ayo, Pa! Hubungi Arkan sekarang juga. Jika Maria bohong, maka dia akan tahu akibatnya. Langsung berikan dia hukuman yang berat supaya dia sadar," ucap Tantri merasa tertantang.
__ADS_1
Karena hatinya cukup yakin dengan apa yang matanya lihat. Bagi dia, Arkan tidak mungkin akan memegang tangan Maria seperti yang dilakukan oleh laki-laki yang ada di dalam vidio yang tersebar di grup keluarga mereka.
"Boleh. Jika aku bersalah, maka aku siap menerima hukuman. Tapi jika aku tidak terbukti bersalah, maka aku ingin orang yang telah memfitnah aku dihukum dengan hukuman yang berat. Tak peduli siapapun dia. Kita harus tetap menghukumnya," ucap Maria sambil melirik Ratna dan Tantri secara bersamaan.
Wajah keduanya mendadak berubah. Seperti ada yang sedang merasa ketakutan dengan ancaman yang Maria katakan barusan.
"Ayo paman! Hubungi Arkan sekarang juga!"
"Ee ... tidak sebaiknya mengganggu Arkan saat waktu pulang kerja seperti ini, paman. Lagipula, ini masalah keluarga, tidak seharusnya menyeret orang luar masuk ke dalam masalah ini, bukan? Iya kalau Maria emang makan bareng dia. Kalo gak? Maka bahaya besar buat kita semua. Terutama Maria." Ratna berucap dengan nada meyakinkan.
Lalu kemudian, dia berjalan mendekati Maria. Ratna langsung menyentuh pelan bahu Maria setelah dia berada tepat di depan Maria.
"Maria ... aku tahu kalau kamu tidak ingin menikah dengan Arkan. Tapi tidak seperti ini caranya. Jika kamu hubungi dia, dan dia tahu apa yang sedang terjadi dengan kamu, maka otomatis, dia akan marah padamu, kan? Dia ...."
"Cukup! Tidak ada yang boleh membahas soal ini pada Arkan. Untuk kamu Maria, aku tidak ingin kamu keluyuran lagi kedepannya. Sampai pernikahan kamu dan Arkan di laksanakan. Dan juga ... sebagai hukuman atas apa yang kamu lakukan hari ini, kamu akan tidur di kamar pembantu selama satu minggu. Kamu mengerti?"
Keputusan yang Bimo ucapkan barusan membuat Ratna dan Tantri tersenyum puas secara sembunyi-sembunyi. Tapi, Maria masih bisa melihat dengan jelas senyum itu walau mereka tidak begitu memperlihatkan senyum tersebut.
'Jangan senang dulu kalian. Aku belum kalah. Bahkan, aku tidak akan kalah. Kalian harus tau hal itu dengan baik agar kalian tidak sakit hati nantinya.' Maria berucap dalam hati sambil mengeluarkan sesuatu dari tangannya.
__ADS_1