Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 38


__ADS_3

Yang Maria keluarkan adalah ponsel. Ponsel yang sedari tadi dia genggam erat di balik tas yang dia bawa.


"Nah, Arkan. Kamu sudah dengar apa yang mereka katakan, bukan?" Maria bertanya pada ponsel yang sedang berada di tangannya.


Sontak saja, hal itu membuat ketiga manusia yang baru saja memutuskan hukuman buat Maria secara sepihak, kaget bukan kepalang. Mereka yang awalnya bahagia, kini terlihat cukup kaget dengan apa yang baru saja kuping mereka dengar.


"Mereka tidak ingin kamu tahu apa yang sedang terjadi atas diriku. Karena mereka anggap, kamu orang luar yang tidak perlu ikut campur dalam urusan yang terjadi dalam keluarga ini. Padahal, kamu bukan orang lain, melainkan, tunangan ku. Juga ... laki-laki yang mereka tuduh makan siang bersamaku. Apakah itu adil buat aku, Arkan?"


Arkan masih belum bicara. Karena baru saja dia ingin angkat bibir buat bicara, dia kembali mendengar nada kasar persis bentakan buat Maria dari seorang laki-laki.


"Jangan main-main kamu, Maria! Lancang sekali kamu sekarang ternyata! Bisa-bisanya kamu berpura-pura seperti itu di depan aku, paman yang telah membesarkan kamu selama ini." Bimo berucap dengan nada tinggi. Dia melakukan itu karena merasa takut sekaligus kesal.


"Siapa yang main-main, pak Bimo. Aku Arkanza, calon suami Maria keponakanmu. Apakah kamu tidak menganggap aku sebagai keluarga kalian, hm? Bukankah aku sudah bertunangan dengan Maria kemarin? Apa itu belum cukup?"


Arkan bicara setelah lama terdiam mendengarkan pembicaraan Maria dan keluarganya lewat udara. Dia juga sudah berhasil melacak si pengirim vidio yang mengatakan Maria bersama laki-laki lain di rumah makan tadi siang.


"Tu--tuan ... maksudku ... nak Arkan. Kamu ... kamu salah paham."


Sangking kagetnya, Bimo berucap dengan suara yang bergetar dan terputus-putus. Sementara Ratna dan Tantri, mereka berdua saling pandang dengan wajah yang tak kalah cemasnya.


"Aku kecewa dengan sikapmu, pak Bimo. Kau ternyata bukan paman yang baik buat, Maria. Dia makan bersama aku tadi siang, tapi malah kamu tuduh makan dengan laki-laki lain. Di mana matamu ketika kau melihat bukti yang tidak benar itu, ha?"


"Satu lagi, kau malah menyalahkan Maria karena kesalahpahaman ini. Bukannya yang harus kamu lakukan itu membuktikan kebenaran dari apa yang kamu lihat. Benar-benar tidak bisa di katakan sebagai orang tua kamu, pak Bimo."

__ADS_1


"Maafkan saya, tuan Arkan. Saya kurang teliti dalam menanggapi masalah. Maaf, karena saya sedang dapat beban berat yang bertubi-tubi, makanya saya jadi seperti ini. Sekali lagi, maafkan saya, tuan Arkan. Mohon pengertiannya juga."


"Kenapa minta maaf padaku, Pak Bimo? Yang kalian sakiti di sini bukan aku sebenarnya. Tapi Maria. Kalian menindas dia secara sepihak. Benar-benar tidak punya hati."


"Iy--iya, tuan Arkan. Saya akan minta maaf pada keponakan saya. Saya akan minta maaf setelah pembicaraan kita berakhir."


"Terserah kamu kapan kamu ingin minta maaf. Yang jelas, aku tidak ada urusan lagi dengan kamu. Sementara untuk Tantri dan Ratna, kalian berdua benar-benar pintar bikin ulah ya. Sudah kalian kirimkan vidio itu ke grup, kalian lepas tangan dengan pura-pura tidak tahu. Luar biasa sekali akting kalian ini. Aku salut."


Bimo yang mendengarkan ucapan itu sontak saja langsung kaget bukan kepalang. Dia langsung menatap Tantri dan Ratna dengan tatapan tajam.


"Kalian! Ternyata ulah kalian berdua, hah! Dasar ******!"


"Apa yang kamu katakan, Mas? Mana buktinya aku dan Ratna yang melakukan semua ini, ha?"


"Benar, Arkan. Jangan bicara sembarangan. Jangan menuduh tanpa bukti, itu akan jadi fitnah buat kami. Jangan mentang-mentang kamu berkuasa, maka kamu bicara seenaknya. Itu sangat tidak adil buat kami, Arkan."


Ratna berucap dengan nada setengah panik. Tapi masih bisa mengatur napas dan kata-katanya masih terucap dengan sangat baik. Hal itu membuat Maria sedikit salut dan merasa punya saingan berat sekarang.


"Sejak kapan aku menuduh tanpa bukti? Kalian tenang saja. Aku ini Arkanza. Tidak pernah melakukan tuduhan pada orang lain tanpa ada bukti. Kalian bisa lihat grup keluarga kalian. Aku sudah mengirim bukti."


Mereka segera melakukan apa yang Arkan katakan. Dengan tangan gemetar, Tantri membaca isi pesan yang menjelaskan dari mana vidio itu berasal, siapa pengirimnya dan semua penjelasan tetang si pengirim itu terlihat dengan jelas dalam pesan singkat tersebut.


"Tantri! Ternyata kau!" Bimo berucap dengan nada tinggi yang terdengar menggelegar cukup menakutkan. Tapi sepertinya, hal itu tidak untuk Maria. Karena sekarang, dia terlihat cukup santai, bahkan semakin santai saja.

__ADS_1


"Aku hanya mengirim, Mas. Yang memberikan vidio itu padaku adalah, Ratna. Dia juga yang menciptakan akun palsu itu untuk menyamarkan si pengirim. Aku hanya kambing hitam saja, Mas. Tolong maafkan aku."


"Bibi! Apa-apaan kamu ini. Kenapa malah bawa-bawa aku? Aku tidak ada urusannya dengan vidio itu. Lagipula, Maria ini teman aku sejak masih kecil. Kenapa aku harus menyakiti dia, bibi? Kamu tolong jangan fitnah aku."


Mendengar kata-kata itu, Tantri tersenyum menyeringai. Dia lalu mengutak-atik layar gawai yang sedari tadi ada digenggaman tangannya.


"Aku tahu kamu tidak akan mengaku jika aku dapat masalah, Ratna. Maka kamu juga harus tahu, kalau aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan."


Tantri lalu memutar rekaman pembicaraan antara dirinya dengan Ratna. Rekaman itu dia ambil ketika Ratna meminta dia mengirim bukti kejahatan Maria ke grup keluarga agar Bimo melihat dan Maria dapat hukuman.


Mata Ratna melotot ketika mendengarkan rekaman pembicaraan itu. Dia sungguh tidak percaya kalau Tantri bisa melakukan hal itu padanya.


"Bibi Tantri! Kamu .... "


"Kenapa, Ratna? Tak percaya? Sayangnya, inilah kenyataan yang harus kamu terima. Aku tidak sebodoh yang kamu kira."


"Sejak awal, aku sudah curiga padamu, kenapa bukan kamu yang mengirim sendiri bukti itu? Kenapa harus aku? Maka dari itu, aku pilih cara ini sebagai senjata penyelamat jika kamu berkhianat. Dan nyatanya, semuanya benar bukan?"


"Sudah cukup! Jangan berdebat lagi. Karena ulah kalian, aku dapat masalah besar sekarang. Kalian benar-benar manusia yang selalu bikin susah."


"Untuk kamu Maria. Aku minta maaf." Bimo berucap dengan nada malas yang terdengar cukup kesal. "Tapi ... aku minta maaf bukan karena menyesal atas apa yang telah aku lakukan barusan. Melainkan, karena permintaan Arkan saja. Jadi, kamu jangan senang dan bangga dulu."


"Dan sekarang, semua sudah jelas, terserah padamu ingin aku memberikan hukuman apa pada mereka berdua. Aku tidak bisa memutuskan hukuman buat mereka, karena nanti, hukuman yang aku berikan, pasti tidak akan bikin kamu merasa puas. Jadi, kamu yang tentukan sendiri saja biar masalah cepat selesai."

__ADS_1


__ADS_2