Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 52


__ADS_3

"Dengar, paman! Aku bukan Maria yang lemah lagi sekarang. Aku tidak akan membiarkan kamu menindas aku kali ini. Kau mau perusahaan itu tetap bertahan, maka lakukan penyelamatan dengan cara kamu sendiri. Jangan manfaatkan aku sebagai alat."


Selesai berucap, Maria langsung beranjak meninggalkan Bimo. Sementara Bimo yang tidak terima dengan kata-kata itu, langsung memberikan ancaman pada Maria.


"Jika kau tidak ingin menolong perusahaan yang aku pimpin dengan cara meminta bantuan Arkan, maka jangan salahkan aku jika rumah ini aku jual. Dengan begitu, kau akan kehilangan satu-satunya peninggalan paling berharga yang kamu miliki."


Kata-kata itu sontak saja membuat langkah Maria langsung terhenti. Merasa ancaman itu berhasil, Bimo kembali melanjutkan kata-katanya untuk menambah rasa takut dalam hati Maria.


"Jangan salahkan aku sedikit lebih kejam padamu, Maria. Karena aku sudah tidak punya cara lain lagi. Lagipula, semua itu juga karena kamu. Kau yang menghilangkan barang-barang berharga sehingga kita kekurangan dana untuk melanjutkan bisnis."


Maria langsung menoleh untuk melihat Bimo.


"Jangan salah bicara, paman. Kita kehilangan banyak uang itu karena paman sibuk dengan anak kesayangan paman itu. Paman sibuk mengurusnya, berusaha mengobati dia dengan segala macam cara. Sudah tahu anakmu itu tidak bisa di sembuhkan, eh, kamu malah ngeyel. Mana uang yang kau pakai itu adalah uang perusahaan lagi. Makanya, semua jadi berantakan seperti ini."


"Hancurnya perusahaan itu bukan salahku. Melainkan, salah paman. Jika paman ingin jual rumah ini, silahkan saja. Tapi, itu juga tidak akan membantu. Karena rumah ini harganya pasti tidak akan seberapa di bandingkan dengan kebutuhan dana untuk tetap melanjutkan perusahaan yang sedang berada diambang kehancuran itu."


"Pikirkan saja sendiri apa yang sebaiknya paman lakukan. Aku sebenarnya juga tidak akan merasa keberatan jika paman ingin menjual rumah ini. Toh yang tinggal di jalanan nanti bukan aku, melainkan paman dan keluarga paman. Oh ... apa mungkin paman sudah punya rencana untuk tinggal di rumah sakit jiwa seperti bibi, yang rela ikut nginap di sana karena anak kesayangannya ada di rumah sakit jiwa tersebut? Ah, kalau begitu, silahkan saja jual. Aku akan tinggal di rumah Arkan kok. Paman tenang saja. Aku pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


Setelah berucap banyak kata dan terdengar cukup panjang lebar, Maria kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Bimo. Sementara Bimo, tidak ada yang bisa dia katakan untuk menjawab perkataan Maria yang begitu panjang, juga sangat menekan dia. Yang mampu dia lakukan sekarang hanya diam. Menahan rasa kesal yang memuncak pada apa yang Maria lakukan.


Maria pun masuk ke dalam kamar. Kemudian, langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sudah dua hari dia tinggalkan. Memikirkan jalan selanjutnya adalah hal yang harus dia lakukan. Namun, karena sedikit kesal, hal itu membuat dia lelah. Dia pun memilih memejamkan mata untuk mengistirahatkan pikirannya yang agak kacau.


Maria terbangun setelah beberapa lama dia terlelap. Saat dia membuka mata, suasana yang dia lihat hanya gelap gulita. Dia pun langsung meraba-rapa di sekitarnya untuk menemukan ponsel. Untung saja, benda pipih itu ada di sampingnya. Jadi, dia tidak sulit untuk menemukan benda tersebut.


Maria langsung menekan samping gawai itu untuk menghidupkan benda pipih tersebut. Ketika layar ponsel itu terbuka, matanya langsung melebar saat melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan angka 19:46 menit.


"Ya ampun, udah malem ternyata," ucap Maria sambil memaksa tubuhnya buat bangun.


Karena perutnya terasa cukup lapar, Maria pun bangun dengan cepat. Kebetulan, saat Arkan mengantarnya pulang tadi sore, dia tidak sempat makan. Bukan tidak sempat, dia yang menolak makan karena perutnya sudah kenyang.


Namun, pintu yang ingin dia buka seperti terkunci dari luar. Sudah berkali-kali dia berusaha membuka dengan memutar kenop pintu itu, tapi tetap saja, pintu itu tetap tidak terbuka.


"Sial. Apa pintu ini mendadak rusak?" tanya Maria dengan sangat bingung pada dirinya sendiri. Namun, dia tiba-tiba ingat, kalau pintu itu masih baik-baik saja ketika dia membukanya tadi sore. Tidak mungkin rusak secepat itu tanpa ada penyebabnya.


Seketika, Maria ingat akan pertengkarannya dengan si paman tadi sore. Dia pun menyimpulkan kalau pintu itu menang tidak rusak. Melainkan, di kunci oleh si paman dengan alasan yang sudah pasti tak lain adalah, uang.

__ADS_1


"Heh .... Sudah tidak ada keraguan lagi, pintu ini pasti dia kunci dari luar agar bisa membuat aku memilih. Dasar orang ini .... Tak di sini, tak di dunia nyata, sama saja. Apa-apa, uang. Apa-apa uang. Bosen juga aku jadinya. Tapi, gak ada uang, sulit juga." Maria berucap pada dirinya sendiri.


"Apa aku dobrak saja ya, pintunya? Tapi ... jika aku dobrak, pintu ini pasti akan rusak. Itu juga tidak akan baik buat aku. Lagipula, aku juga sedang lapar sekarang. Tidak boleh membuang banyak tenaga untuk melakukan hal besar. Karena belum tentu juga makanan yang aku punya ada di kulkas. Mungkin-mungkin sudah ludas di makan beruang lapar."


"Huh ... jika aku diam di sini juga akan membuat aku merasa semakin lapar. Bagaimana dong?" Maria bicara sambil munda-mandir di depan pintu kamar.


"Kabur aja deh .... Tapi ... aish ... yang benar saja. Masa iya aku kabur. Inikan, rumah aku."


Maria terus bicara pada dirinya sendiri sambil terus berjalan munda-mandir di depan pintu kamarnya. Namun, tiba-tiba, sebuah ide nakal muncul dalam benak Maria. Ide nakal untuk mengerjai si paman yang licik agar bisa menambah rasa kesal dalam hati si paman.


"Paman ...! Apa yang paman lakukan? Buka pintunya paman! Aku ingin keluar. Aku lapar," ucap Maria sambil menggedor keras pintu tersebut.


"Paman! Buka pintunya! Aku yakin kamu pasti mendengar apa yang aku katakan, paman. Cepat buka!"


Iya, Bimo memang mendengarkan suara teriakan keras yang memenuhi ruangan rumah mereka. Bukan hanya teriakan, gedoran keras itu juga membuat seisi rumah jadi cukup berisik.


Merasa punya kesempatan membuat kesepakatan, Bimo segera beranjak menuju kamar Maria. Dia ketuk pintu kamar tersebut sebelum bicara. Maria yang tahu akan kedatangannya, kini langsung memasang nada bahagia.

__ADS_1


"Paman. Aku tahu kau orang baik. Cepat bukakan pintu ini untukku. Aku sangat lapar sekarang. Aku tahu, kau tidak akan membiarkan aku mati kelaparan di sini, kan?"


"Jangan coba-coba kamu memuji aku, Maria. Karena pujian yang kamu berikan itu sama sekali tidak akan membuat aku luluh."


__ADS_2