Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 61


__ADS_3

Lila hanya nyengir kuda saja menangapi apa yang mamanya katakan. Dia makan dengan cepat, lalu kemudian, setelah menyelesaikan makan, dia membantu mamanya membereskan meja makan.


Setelah itu, mereka akhirnya berangkat menuju pemakaman. Tempat di mana makam papanya berada.


Hampir lebih dari tiga puluh menit mereka mengendarai mobil, akhirnya, mereka sampai juga ke tempat yang ingin mereka tuju. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam.


Namun, tiba-tiba saja, seseorang memanggil mereka. Entah siapa, yang jelas, panggilan itu memang ditujukan buat mereka berdua.


Sontak saja, keduanya menoleh ke arah belakang dengan kompak. Di sana, ada seorang laki-laki yang sedang berjalan tergesa-gesa buat menyusul mereka berdua.


Lila menoleh ke samping untuk melihat sang mama sambil berucap, "mama kenal dengan orang itu, Ma?"


"Nggak. Mama gak kenal. Eh malahan mama pikir kamu yang kenal dengan orang itu."


"Sama. Aku juga gak kenal. Jangan-jangan, dia bukan manggil kita lagi. Ah, bikin malu aja kalo gitu, Ma. Ayo jalan lagi aja!" ucap Lila kembali ingin melangkahkan kakinya.


Lagi, suara laki-laki itu kembali terdengar buat menahan langkah kaki Lila.


"Tunggu! Ya ampun, tunggu sebentar. Aku mohon," ucap orang itu seperti sedang kehabisan napas karena berjalan dengan terburu-buru.


"Mas panggil kami ya?" tanya Lila dengan tatapan tak percaya.


"Iya, nona. Saya panggil kalian. Tepatnya, panggil kamu."


"Saya?" tanya Lila sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Iya, nona. Anda."


"Kenapa saya? Ada perlu apa sama saya? Mas kenal sama saya? Perasaan kita nggak saling kenal deh."


"Lila, dengarkan saja dulu apa yang dia inginkan dari kamu. Masa harus kenal dulu jika butuh bantuan," ucap mamanya menengahi.


"Iya, Ma."

__ADS_1


"Mas, butuh apa dari saya?" tanya Lila lagi gak sabaran.


Orang itu masih belum siap mengambil napas. Dengan terengah-engah, dia berusaha berdiri tegak kembali.


"Nona, maaf sebelumnya. Saya memang tidak kenal nona. Tapi, saya hanya menjalankan perintah dari bos saya. Bos saya ingin bertemu dengan nona. Dia sedang menunggu di mobil pinggiran jalan ini. Mohon nona bersedia ikut dengan saya, atau gaji saya bulan ini tidak akan terselamatkan nona. Tolong ... kasihani saya," ucap laki-laki itu dengan nada memelas penuh harap.


"Tega sekali bos kamu ternyata. Yang gak mau pergi itu aku, bukan kamu, kan? Lah tapi kenapa kamu yang malah dapat hukuman? Itukan gak adil namanya." Maria berucap dengan nada sangat kesal.


"Lila, sudahlah. Jangan persulit dia. Dia hanya orang suruhan, dia gak tahu apa-apa."


"Ma, aku gak sedang mempersulit dia kok. Aku malahan sedang kesal pada bosnya. Dia kan gak salah apa-apa. Kenapa harus main hukum sendiri seperti itu."


"Kamu kan gak tahu yang sebenarnya terjadi. Jadi, kenapa malah kamu yang ambil pusing. Ikuti saja apa yang dia mau sekarang. Temui dulu, jika emang salah, baru kamu pikirkan ulang apa yang harus kamu lakukan. Paham, kan apa yang mama katakan?"


"Iya, Ma. Aku paham kok. Ya udah deh, aku pergi dulu. Aku ingin lihat, seperti apa orang yang ingin bertemu dengan aku. Dan, apa mau dia bertemu aku sebenarnya."


"Ayok, Mas! Bawa saya bertemu dengan bos Mas sekarang juga."


"Baik, nona. Silahkan ikut saya," ucap laki-laki itu dengan raut yang sangat bahagia.


"Iya, Ma."


Lila langsung mengikuti laki-laki tersebut dari belakang. Mereka berjalan menuju jalan depan yang tak beberapa langkah, sudah bisa melihat mobil mewah berwarna hitam sedang terparkir


di pinggir jalan.


Lila terdiam saat melihat mobil itu. Sekilas, dia merasa sedikit tidak asing dengan mobil mewah yang ada di hadapannya sekarang. Namun, dia tidak ingat sedikitpun dengan di mana sebelumnya dia pernah melihat mobil ini.


Sementara Lila terdiam dengan mata yang terus memperhatikan mobil mewah tersebut, laki-laki yang ada bersamanya langsung membuka pintu mobil bagian belakang.


"Nah, nona. Silahkan masuk! Bos saya sudah menunggu anda di dalam."


"Eh iy--iya," ucap Lila sambil beranjak maju.

__ADS_1


Dari luar sudah bisa Lila lihat, laki-laki dengan stelan kantor lengkap itu sedang duduk dengan kaki yang di silangkan. Tapi, wajahnya sama sekali belum terlihat karena laki-laki itu sedang memalingkan wajah dari pintu masuk.


Dengan tidak mengurangi tingkat kewaspadaan tentunya, Lila memberanikan diri masuk ke dalam mobil itu. Duduk di samping laki-laki yang sedang melihat ke luar dengan sangat hati-hati.


"Permisi. Anda ingin bertemu saja, tuan?" tanya Lila setelah dia duduk, tapi laki-laki itu masih belum menoleh sedikitpun.


"Akhirnya. Aku temukan juga kamu, wanitaku," ucap laki-laki tersebut, tapi masih tidak menoleh untuk melihat Lila yang ada di sampingnya.


"Wanita mu .... Siapa yang wanita mu, ha? Jangan bicara sembarangan kamu." Lila berucap dengan nada kesal.


Namun, selanjutnya dia ingat dengan si pemilik suara itu. Detak jantung pun tiba-tiba berdetak tak karuan memikirkan kebenaran dari apa yang dia dengar barusan.


"Ar--Arkan?"


Sontak saja, laki-laki yang sedari tadi membelakangi dia langsung menoleh.


"Sedikit salah, namaku Rakenza, bukan Arkan." Laki-laki itu berucap sambil tersenyum.


Sementara Lila, dia diam mematung dengan mulut ternganga karena sangat-sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. Sangking tak percayanya Lila sekarang, dia malahan mencubit tangannya sendiri agar segera sadar jika memang dia sedang berhalusinasi.


"Sadar, Lila. Sadar. Dia tidak akan bisa muncul di dunia yang nyata seperti sekarang. Tunggu! Jika dia memang muncul, itu tandanya, aku masih berada di alam lain sekarang. Ah ... kok bisa sih? Aku gak ingin kecewa lagi." Lila berucap sambil menepuk pipinya sekarang.


Melihat hal itu, Kenza langsung memegang kedua tangan Lila. Dia tatap gadis itu dengan tatapan penuh kasih. Sama seperti tatapan Arkan buat Maria ketika bersama di dunia kecil.


Lalu kemudian, Kenza tersenyum manis. Senyuman yang selalu bisa membuat hati Maria luluh.


"Kau masih terasa sangat nyata, Ken." Lila berucap polos tanpa berkedip sedikitpun.


Sejujurnya, dia sangat-sangat merasa bahagia sekarang. Namun, juga merasa takut. Takut akan kesedihan juga kekecewaan yang kembali akan menghampiri dirinya lagi.


Dari kedua mata Lila perlahan mengalirkan buliran bening yang tiba-tiba membentuk sungai kecil yang lurus. Kenza yang melihat hal itu jadi kaget.


"Hei ... kenapa kau menangis wanitaku? Apakah ada yang sakit sekarang?"

__ADS_1


"Ada, Ken. Hatiku. Kau tahu, hatiku terasa sangat sakit. Dan akan semakin sakit jika kau datang, lalu pergi lagi. Aku tidak ingin hidup dalam dunia mimpi ini lagi setelah kegagalan yang aku alami, Ken. Tolong, biarkan aku hidup tenang tanpa mimpi lagi."


Suara sedih itu membuat Rakenza langsung tidak bisa membiarkan Lila terus melakukan apa yang Lila inginkan. Dia langsung menarik Lila ke dalam pelukannya. Memeluk erat tubuh langsing atletis itu dengan penuh kasih sayang. Membiarkan semuanya mengalir begitu saja dengan saling merasakan kenyamanan.


__ADS_2