Gadis tangguh masuk novel

Gadis tangguh masuk novel
*Episode 32


__ADS_3

Mengabaikan perempuan yang baru saja bikin ulah, Arkan langsung menarik tangan Maria meninggalkan tempat tersebut. Sementara Maria, dia sama sekali tidak membantah, atau bahkan tidak berucap sedikitpun. Dia malah bersikap pasrah dengan mengikuti langkah Arkan sebisa mungkin.


Namun, sebelum benar-benar beranjak meninggalkan tempat tersebut, Maria sempat melihat ekspresi marah yang wanita itu perlihatkan. Bukannya takut, Maria malah merasa senang dengan ekspresi yang perempuan itu perlihatkan.


Mereka akhirnya sampai di restoran samping kantor. Arkan masih tetap memegang tangan Maria meski mereka sudah memasuki restoran yang penuh dengan pengunjung itu.


Bisikan-bisikan kecil tidak bisa dihindarkan lagi. Mereka yang melihat Arkan menggandeng tangan perempuan di tempat umum pun langsung bergosip ria sesuka mereka.


"Pak Arkan gandeng tangan perempuan ke restoran? Hei ... coba tampar pipiku sekarang! Jika ini mimpi, maka aku akan sadar." Salah satu perempuan berucap pada temannya sambil terus menatap Arkan dan Maria.


"Bodoh! Kamu memang tidak mimpi bego. Itu emang pak Arkan dan perempuan. Mm ... yang aku dengar, sekarang pak Arkan emang sudah punya tunangan. Dan, mungkin yang dia gandeng itu tunangannya," jawab yang lain pula.


"Aku juga dengar gosip itu. Tapi, yang aku tahu si tunangannya pak Arkan itu gak secantik ini deh. Karena kata orang-orang, tunangan pak Arkan itu suka dandan menor, manja, terus ... sok polos juga sangat ceroboh. Tapi, perempuan kek nya nggak deh."


"Kalian ngomong apa sih?" tanya seorang perempuan yang baru saja datang. Dia yang tidak tahu apa-apa, langsung duduk pada salah satu meja yang masih kosong dengan memperlihatkan wajah penasarannya.


"Itu lho ... pak Arkanza sedang duduk satu meja sama perempuan cantik." Salah satu dari perempuan itu berucap. Sedangkan yang lainnya saling bertukar pandang.


"Pak ... Arkan duduk makan bareng perempuan? Yang benar saja," ucap perempuan itu dengan nada tak percaya. Dibalik nada tak percaya itu, ada nada kesal dan cukup kecewa yang perempuan itu sembunyikan.

__ADS_1


Perempuan itu adalah salah satu manajer yang bekerja untuk perusahaan Arkan. Dia sudah lama berusaha mencuri perhatian Arkan. Tapi sayangnya, usaha yang dia lakukan selalu gagal, alias tidak ada yang berhasil satupun.


Elsa nama perempuan itu. Dia sudah bekerja selama beberapa tahun dengan mempersembahkan kinerja terbaiknya. Dengan harapan, dia bisa mencuri sedikit hati yang Arkan miliki. Tapi sayang, jangankan bisa mencuri sedikit hati Arkan. Melihat hatinya saja Elsa tidak bisa.


Arkan terlalu sulit untuk ditaklukan oleh perempuan. Entah karena memang tidak tertarik, atau mungkin karena dia sudah tahu kalau kehidupannya sudah diatur oleh orang tuanya. Makanya, dia malas bersusah payah menabur cinta.


Elsa melihat ke arah yang perempuan itu lihat karena penasaran. Dengan menahan hati cemburu dia berusaha bersikap kuat.


"Apanya yang aneh dengan Pak Arkan yang cuma duduk satu meja dengan seorang perempuan? Aku rasa ... tidak ada yang salah," ucap Elsa berusaha menguatkan hati dengan apa yang dia lihat.


"Aduh ... emang gak ada yang aneh sih kalo cuma duduk satu meja. Tapi, pak Arkan tadi datang ke sini gandengan sama perempuan itu."


"Iya. Pak Arkan gandengan sama perempuan itu. Aku rasa ... perempuan itu adalah tunangan pak Arkan, deh. Soalnya, selama ini kan ... pak Arkan belum pernah dekat sama perempuan manapun."


Mendengar kata tunangan, wajah cemburu Elsa makin terlihat jelas. Meski dia berusaha menahan, tapi tetap saja, raut itu terukir sangat jelas dengan sendirinya.


Beberapa perempuan yang tahu soal perasaan Elsa pada Arkan, memilih segera menyingkir setelah menyalakan api. Benar-benar tidak bertanggung jawab sedikitpun. Setelah menyalakan kompor, eh malah membiarkan kompor itu menyala tanpa berusaha memadamkan.


Setelah kepergian para perempuan itu, hanya tinggal Elsa dan satu sahabatnya. Sahabat sekaligus asisten yang dia punya selama dia bekerja di kantor Arkan. Diketahui, asisten yang bernama Rika itu selalu mendukung setiap usaha Elsa dalam mengejar Arkan.

__ADS_1


"Sa. Kamu gak papa, kan? Apa kamu baik-baik aja sekarang?" tanya Rika sambil menyentuh pelan bahu Elsa.


Yang di tanya bukannya menjawab, tapi malah memberikan tatapan tajam yang penuh dengan rasa sakit. Seakan memahami apa yang sahabatnya rasakan, Rika mengelus lembut pundak yang dia sentuh sebelumnya.


"Sa, aku dengar, pak Arkan gak suka sama tunangannya. Dia bertunangan atas permintaan kedua orang tuanya saja. Bukan murni keinginan dari hatinya sama sekali. Kau tahu bukan? Pak Arkan mana bisa nolak apa yang kedua orang tuanya katakan."


Elsa masih tidak bergeming. Dia masih tetap dia sambil menggenggam erat tangan yang dia letakkan di atas meja.


"Lagian nih ya, Sa. Dari kabar yang aku dengar, tunangan pak Arkan itu gak ada apa-apanya kalo di bandingkan sama kamu. Dia perempuan yang sangat lemah. Gak punya pegangan sama sekali. Hanya kuat dan selalu berlindung di belakang teman yang selalu ada ke mana dia pergi. Dia juga perempuan manja yang sangat ceroboh. Jika kamu ingin menyingkirkan dia, maka itu tidak akan sulit buat kamu, Elsa."


Bak sebuah cahaya di tengah kegelapan. Kata-kata itu tiba-tiba saja membangkitkan semangat dalam hati Elsa. Dia menatap Rika dengan tatapan penuh percaya diri.


"Benar juga apa yang kamu katakan, Rika. Dia hanyalah tunangan yang tidak diinginkan oleh pak Arkan. Hadirnya hanya karena paksaan dari kedua orang tua pak Arkan saja. Mungkin, karena hal itu juga pak Arkan berusaha menutup diri dari semua perempuan. Karena dia tidak ingin membuat hati orang tuanya kecewa."


"Mm ... aku akan bantu pak Arkan buat keluar dari masalahnya sekarang. Akan aku buat perempuan manja yang lemah juga ceroboh itu menjauh dari pak Arkan sejauh mungkin. Dengan begitu, pak Arkan bisa bebas dari paksaan orang tua, juga bebas memiliki perempuan mana saja yang dia inginkan."


"Bukan perempuan mana saja, Elsa. Karena menurut aku, yang cocok bersanding dengan pak Arkan itu cuma kamu. Dari fisik, kamu sangat sempurna. Dari ilmu juga pendidikan, kamu luar biasa. Jadi, kalian begitu serasi. Seratus persen." Rika lagi-lagi mengucapkan kata-kata yang membuat hati Elsa melayang tinggi melambung ke udara tak tergapai lagi.


Elsa menanggapi kata-kata itu dengan senyum manis penuh rasa percaya diri. Lalu kemudian, dia bangun dari duduknya sambil menggapai salah satu gelas jus mangga sisa salah satu perempuan yang sebelumnya makan di meja itu.

__ADS_1


Belum sempat menyentuh gelas jus, tangannya di tahan oleh Rika. Dengan tatapan kebingungan, Rika menatap wajah Elsa yang penuh dengan rasa yakin.


__ADS_2