
"Dad kenapa membawa putri ku" tanya Jessy saat melihat Daddy nya yang baru datang entah dari mana.
"Kenapa? bukan kah kalian tidur? jadi Daddy kasihan pada cucu Daddy yang menangis karena nenek dan ibu nya sibuk tidur" sahut Dad James ketus.
Yang seketika membuat Jessy nyengir, pun dengan Mom Yerin yang saat ini tengah memeluk putra bungsu nya.
"Daddy bisa saja, kita kan sibuk semalaman gadang, iya kan Jess" Mom Yerin tak mau di salahkan.
Dan Dad James tak mau membahasnya lagi, karena jika berdebat itu hanya akan membuat masalah mereka menjadi berlarut-larut.
Jessy hanya mangut-mangut melihat itu, dia melihat Aiden yang nampak tak senang di pelukan Mommy nya, pun sama dengan Dad James yang merasa kasihan.
"Mom aku sudah besar" keluh Aiden.
"Ya Mommy tau, Astaga kamu masih 13 tahun tapi kenapa sudah setinggi ini sih" Mom Yerin masih belum mau melepaskan pelukan nya.
"Ck, Mommy ini nggak ada Aiden gemes nya sama Baby Cilla, sekarang ada Aiden gemes nya pindah" timpal Jessy sambil melihat Dad James yang menggendong cucu nya.
Mom Yerin yang mendengar ucapan putrinya acuh, siapa yang tidak akan rindu pada putra bungsu nya jika selama setahun ini mereka hanya bertemu dua kali.
Aiden tidak pernah mau di tengok, dia tidak mau identitas nya yang seorang anak orang kaya terbuka, Aiden sangat mandiri dan dia memilih masuk pesantren di daerah terpencil di kota B.
Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba datang Salsa dengan penampilan nya yang bisa di katakan terlalu seksi.
"Nah ini ABG labil yang demen pacaran mulu, kelayapan terus" sindir Mom Yerin pada putrinya.
__ADS_1
Salsa yang kembali mengganti warna rambutnya menjadi kuning cerah hanya nyengir, dia dengan santai mengibaskan tangan nya agar semua nya melihat pada nya.
"Bagus kaya Rapunzel Sal" kata Jessy memberikan acungan jempol nya pada sang adik.
Di wajah Salsa yang memiliki kulit putih memang bagus, meski Salsa terlihat cukup menyilaukan bagi orang yang melihat nya, apalagi di area luar dengan cahaya yang cukup terang seperti di bawah matahari.
"Makasih kak, aku couple sama teman-teman soal nya biar perpisahan nya beda aja" balas Salsa dengan senyuman nya.
"Ganti warna rambut lagi!" geram Mom Yerin langsung memegang sapu lidi.
"Apasih Mommy, sewot mulu nggak bisa lihat anak seneng" sahut Salsa cemberut.
"Ngelawan terus, emang ya anak yang satu ini nakal nya itu kelewatan" sewot Mom Yerin lagi.
Dad James melihat Aiden, dan seolah paham dengan isyarat sang Daddy Aiden memilih pergi bersama Dad James yang membawa baby Cilla.
"Ya kau nakal, selalu mewarnai rambut dengan banyak warna" balas Mom Yerin ingin memukul Salsa dengan sapu.
Tapi langsung di tahan oleh Jessy, "Mom sudah, kenapa berlarut sih santai saja itu kan bukan apa-apa" Jessy mencoba menyudahi pertengkaran.
Tapi wajah kesal bercampur marah terlihat di wajah Salsa, dia benar-benar merasa dirinya adalah anak tiri yang di nomer belakang kan.
"Aku tidak memakai tato seperti Mommy dan kakak, aku tidak melakukan se*s bebas sebelum menikah, Kenapa aku yang nakal hah!" Salsa sedikit berteriak mengucapkan nya.
Dan Jessy terdiam mendengar ucapan adik nya, dia tahu kata yang di layangkan Salsa adalah untuk nya karena hanya dia yang melakukan se*s bebas sebelum menikah bahkan sampai mengandung.
__ADS_1
Mom Yerin belum sadar jika ucapan Salsa menyakiti putrinya yang satu lagi, dia mendekati Salsa guna Salsa tidak membangkang tapi Salsa malah berlari ke kamar nya.
"Dasar anak itu" Mom Yerin berniat menyusul.
Tapi sebelum itu Mom Yerin melirik putrinya yang satu lagi, dan dia melihat Jessy yang menangis dengan menundukkan wajah nya.
"Hey ada apa? apa jahitan nya masih terasa sakit?" tanya Mom Yerin khawatir.
Jessy hanya cukup menjawab dengan gelengan kepala, dia langsung berdiri tanpa berniat mengatakan apapun lagi.
Dan saat masuk kamar Jessy melihat Dad James dan Aiden yang sedang membacakan sholawat, dada nya semakin sakit mengingat dia adalah anak yang paling pembangkang.
Kenakalan Salsa masih dalam batas wajar, Salsa tidak mengenal alkohol dan yang lain nya seperti dirinya, dan untuk Aiden dia sangat Sholeh bahkan Jessy malu saat berhadapan dengan adiknya yang sangat Sholeh itu.
"Dad aku mau memberikan Cilla asi" ucap Jessy.
"Hem, bye sayang nanti kita main lagi oke" Dad James mengusap lembut pipi cucu nya.
Aiden bisa melihat raut wajah kesedihan di wajah kakak nya, dia tidak mau bertanya atau melakukan apapun karena Aiden masih 13 tahun, dia masih terlalu kecil untuk bisa mengetahui masalah orang dewasa.
Setelah pintu tertutup Jessy membawa Baby Cilla ke ranjang, dia memberikan asi untuk putrinya lalu perlahan air mata nya jatuh.
"Kamu bukan kesalahan sayang, kamu adalah anugrah Tuhan yang paling terindah untuk Mommy, cup" Jessy mengecup kening Putri nya, dan selama memberikan asi Jessy terus memikirkan perkataan adik nya.
🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏