
Jhony yang lagi-lagi gagal melepaskan hasratnya harus menderita dan menahannya. dalam satu malam Jhony gagal dua kali pada hal sudah masuk ke dalam goa sempit milik dua wanita cantik.
"Aku bisa gila, gara-gara dua wanita itu," ketus Jhony yang menjambak rambutnya.
Viore yang telah berhasil mempermainkan Jhony atas permintaan Cameron dia lalu menghubungi sahabatnya itu.
"Hahahahaha...Cameron, kau tidak melihat reaksi suamimu yang hampir gila, dia hampir saja melepaskan hasratnya dan kemudian gagal, aku yakin malam ini dia pasti tidak bisa tidur kalau dia tidak mencari wanita lain untuk memuaskan dia," kata Viore pada Cameron yang di seberang sana.
"Aku sudah melihat wajah gilanya tadi, aku merasa sangat bahagia melihat dia harus menahan hasrat yang tertunda, hahahaahah....Viore, kau melakukannya dengan baik sekali," ujar Cameron yang di seberang sana.
"Siapa dulu aku? kau sangat paham denganku, aku adalah jal*ng yang paling pintar mengoda pria," ucap Viore yang merasa bangga.
"Cameron, setelah ini apa rencana kita?"
"Mengodanya dan membiarkan dia mendapatkanmu, untuk selanjutnya adalah hadiah bagi wanita perebut suami orang."
"Kau ingin wanita itu mengetahuinya?"
"Bukan hanya ingin dia tahu, tapi aku ingin dia melihatnya dengan mata sendiri."
"Owh...Cameron, kau adalah istri pertama yang hebat, dan tidak menunduk pada suamimu serta wanita itu," ucap Viore dengan senyum.
"Bukan sikapku harus menunduk pada suami yang gatal seperti dia, dan bukan sikapku juga harus mengalah pada wanita itu. jika dia sudah terlewat batas maka aku juga tidak akan diam saja. balas dendam adalah cara terbaik."
"Cameron, aku kagum padamu yang begitu berani dan kuat, ada satu lagi yang ingin ku katakan padamu. yaitu aku telah meninggalkan sebuah hadiah di dalam mobil suamimu itu. jika saja istri ke duanya melihat barang itu, maka aku yakin dia pasti menggila, heheehehe," ujar Viore
"Aku merasa penasaran hadiah apa yang kau tinggalkan untuk dia?"
"Celana penutup mahkotaku, hahahahahah....aku tidak sabar ingin melihat apa reaksinya," jawab Viore dengan tertawa senang.
"Kau memang ahli merusak hubungan orang," kata Cameron yang merasa puas dengan tindakan sahabatnya.
"Inilah keuntunganmu memiliki teman sepertiku," jawab Viore.
"Setelah kau masuk ke keluarga Milithen, aku ingin kau mendapatkan hartanya. dan setelah itu aku akan mengugat cerai pria itu."
"Langkah pertama sudah berhasil, dan kini kita akan melanjutkan rencana ke dua. aku penasaran satu hal?"
"Tentang apa?"
"Kenapa Lonela bisa masuk rumah sakit? apa karena ulahmu?"
"Dia hanya termakan serbuk obat yang membuatnya merasa mual, niatku hanyalah agar dia tidak bisa melayani suami tidak berguna itu."
__ADS_1
"Wah....apa tidak membahayakan kandungannya?"
"Tidak pengaruh, dosisnya kecil. aku hanya ingin membuat Jhony menderita saja."
"Baiklah kalau begitu, selamat untukmu. rencana mu malam ini sudah berhasil," ucap Viore dengan senyum.
"Bersiaplah untuk rencana selanjutannya!"
"Baiklah sahabatku," jawab Viore yang kemudian memutuskan panggilannya.
Mansion Milithen.
Di tengah malam itu Cameron melangkah masuk ke ruangan pribadi suaminya. jam dinding menunjukan pukul 02.00. sang mertua sudah lelap, sementara Jhony masih menemani Lonela di rumah sakit. Cameron melangkah menghampiri meja kerja milik suaminya itu. di bawah mejanya terdapat peti yang menyimpan barang penting.
Ia lalu menjongkok dan melihat pintu peti itu yang harus mengunakan kode untuk membukanya.
"Kode apa yang dia gunakan? hari ulang tahunnya?" gumam Cameron yang menekan nomor yang ada di pintu peti itu.
Setelah mencobanya Cameron gagal membuka pintunya
Di sisi lain Jhony sedang menyetir menuju ke rumahnya, ia tidak menemani istri ke duanya di sana. rambutnya berantakan serta wajahnya yang kusut, pakaiannya juga berantakan tidak rapi.
Sementara Cameron masih mencoba membuka pintu peti itu.
"Apakah ulang tahun wanita itu?" gumam Cameron yang mencoba menekan untuk ke dua kalinya.
Kemudian Cameron mencoba menekan hari ulang tahun mertuanya akan tetapi tetap gagal juga.
"Dasar pria tidak berguna, kode apa yang dia gunakan sebenarnya?" gumam Cameron.
Jhony yang menuju ke rumahnya telah tiba di komplek perumahannya itu, hanya tinggal lima menit ia akan tiba di depan rumahnya. sementara istri pertamanya masih sedang berusaha membuka pintu peti itu.
"Kode hari pernikahan kami?" gumam Cameron yang sambil menekan nomor tersebut.
Ting...
Pintu berhasil di buka oleh Cameron.
Saat terbuka Cameron langsung mengambil dokumen yang tersimpan di dalam sana. ia membaca setiap isi yang tercatat di dokumen itu.
"Bagus sekali, semua ini sudah di wariskan padanya, dengan begitu hanya butuh menganti nama pewaris dan tanda tangannya," gumam Cameron.
Tidak lama kemudian mobil Jhony tiba di depan rumah. setelah menghentikan mobilnya ia keluar dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Dengan merasa kesal dan sambil menahan hasratnya yang mengebu-ngebu ia langsung menuju ke ruangan pribadinya.
Klek.
Jhony membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangannya dan ia mendapati istri pertamanya sedang duduk di kursi besarnya.
"Cameron?" panggil Jhony yang melihat istrinya sedang tidur dengan duduk bersandar.
"Jhony? kau sudah pulang? sudah malam begini kau pergi ke mana?" tanya Cameron yang sedang berpura-pura.
"Aku mengantar Lonela ke rumah sakit."
"Ada apa dengannya? apa dia baik-baik saja dan bagaimana dengan kandungannya?" tanya Cameron yang bangkit dari tempat duduknya sambil berpura-pura merasa cemas.
"Jangan khawatir! dia hanya salah makan saja, tidak apa-apa. besok sudah bisa pulang juga."
"Apakah masakanku tidak sesuai untuknya ya? aku sudah memasak apa yang dia suka," tanya Cameron yang pura-pura merasa bersalah.
"Cameron, bukan salahmu. kau sudah melakukan yang terbaik. jangan menyalahkan dirimu. sudah begitu malam kenapa mau masih belum tidur?"
"Perutku tidak nyaman," jawab Cameron yang menyentuh bagian perutnya.
"Apa kamu butuh obat? aku akan ambilkan untukmu!"
"Aku sudah minum obat, sudah mau pagi, cepatlah pergi mandi dan tidur. besok aku akan mengantar makanan untuk Lonela," kata Cameron yang ingin melangkah keluar.
"Cameron, apa kamu tidak marah lagi padaku dan Lonela?" tanya Jhony yang menahan lengan istrinya itu.
"Aku hanya merasa kecewa pada diriku sendiri, karena gagal memberimu keturunan. aku tidak layak untuk memarahi kalian berdua," jawab Cameron dengan menunduk.
Jhony memeluk istrinya dengan erat dan mengecup dahinya.
"Cameron, aku telah menyakiti perasaan mu, maafkan aku."
"Jhony, apa kamu merasa kecewa denganku?"
"Tentu saja tidak! aku mencintaimu."
"Apakah selain Lonela kau akan tertarik pada wanita lain lagi?" tanya Cameron yang menatap suaminya itu.
"Tentu saja tidak lagi, aku bukan pria yang mudah tergoda," jawab Jhony.
Cameron lalu memeluk suaminya sengaja dengan bagitu erat, lagi-lagi Jhony harus merasakan kenyalnya dada istrinya itu yang menempel bagian dadanya. tentu saja senjatanya yang masih menegang semakin keras akibat sentuhan yang dia rasakan.
__ADS_1
"Pria pembohong, baru saja ingin melakukan dengan Viore dan sekarang malah menberi jawaban kosong," batin Cameron.
"Untuk menganti nama pewaris aku butuh bantuan pengacara yang bisa di percaya," batin Cameron.