
Jhony berusaha menghadang kepergian istrinya itu dari pintu utama.
"Cameron, dengarkan penjelasanku dulu! aku sedang mabuk dan tidak sadar dengan apa yang ku lakukan, aku berjanji padamu tidak akan mengulanginya lagi," ucap Jhony yang berusaha membujuk istrinya itu.
"Jhony, aku sangat memahami sifatmu, sebaik apapun aku terhadap keluarga ini aku tetap di abaikan dan selalu di salahkan soal anak, kalian merendahkan ku selama ini. kau juga sama dan lebih parahnya lagi kau bisa menikah secara diam-diam dan sekarang kau malah menbawa wanita lain yang adalah sahabatku sendiri. walau aku masih bertahan pada akhirnya luka ku akan semakin dalam," kata Cameron yang mendorong suaminya ke samping dan kemudian ia melangkah pergi.
"Cameron...." teriak Jhony yang ingin mengejar istri pertamanya itu akan tetapi di tahan oleh Viore
"Jhony Milithen, tidak perlu lagi kau berpura-pura, kau hanya ingin Cameron mengurus istri ke dua mu ini,kan? serta bisa merawat ibu mu yang sudah tua, hatimu saja tidak bisa di jaga. lalu untuk apa lagi kau pertahankan Cameron di sini? lebih baik kau pergi periksa ke dokter untuk memastikan siapa yang mandul," ketus Viore dengan panjang lebar karena sengaja ingin melarang pria itu mengejar sahabatnya. setelah itu Viore pun pergi dari tempat itu.
"Jhony Milithen, seharusnya kau mengurusku dan bukan dia! aku adalah istri yang memberi keturunan padamu, kenapa kau malah ingin mempertahankan wanita mandul itu?" bentak Lonela yang merasa cemburu.
"Bukankah kau seharusnya memberikan penjelasan padaku!" ujar Lonela yang menghampiri Jhony.
"Aku tidak butuh memberi penjelasan padamu, semua kau lihat adalah nyata. suka atau tidak kau harus menerima kenyataan ini," ketus Jhony.
"Jhony, lain kali jangan melakukan ini lagi! cepat minta maaf pada Lonela!" tegur Rionez tegas dan bangkit dari tempat duduknya.
Jhony yang merasa risih ia pun melangkah menuju ke anak tangga.
"Kau...kau sudah melakukan kesalahan, tapi masih saja tidak ingin meminta maaf padaku," bentak Lonela yang melihat suaminya itu naik ke lantai dua dan tidak menghiraukannya.
"Mama, dia pergi begitu saja seperti tidak berdosa, lalu siapa diriku baginya?" gurutunya.
"Biarkan dia bertenang dulu! jangan ganggu dia!" jawab Rionez yang duduk kembali ke sofa.
"Wanita ini jika bukan karena dia hamil aku juga malas melihatnya, pantas saja Jhony begitu cepat berpaling ke wanita lain," batin Rionez.
"Dasar wanita tua, putranya melakukan kesalahan besar tapi masih saja membelanya," ketus Lonela dalam hati.
Jhony melangkah ke kamar Cameron dan menatap ke arah foto pernikahan mereka. merasa menyesal dengan semua yang dia lakukan telah menyakiti istri pertamanya itu. ia menatap dalam foto pengantin yang cantik dan elegan.
__ADS_1
"Cameron Victoria, andaikan aku tidak gegabah mungkin dalam hubungan kita tidak akan ada Lonela, aku merasa menyesal sekarang. apakah memang benar diriku yang bermasalah selama ini? selama ini aku selalu saja menganggap dirimu yang gagal memberi keturunan, sehingga nekad berhubungan dengan wanita lain hanya demi ingin mendapatkan pewaris," batin Jhony.
"Apakah seperti yang di katakan Cameron bahwa kandungan Lonela bukan anakku? kalau Cameron tidak bermasalah maka akulah yang bermasalah, jika saja benar. bagaimana dengan janin dalam kandungan Lonela? apa dia membohongiku selama ini?" ucap Jhony yang merasa penasaran.
Setelah Jhony membaca laporan kesehatan istrinya ia meragukan kesehatan diri sendiri, duduk di kasur istri pertamanya dengan mengusap kasar wajahnya. pikiran kacau dan binggung karena pernikahan dengan Cameron sudah di ujung tanduk.
"Besok aku harus ke rumah sakit untuk periksa kesehatanku, mungkin saja aku sudah salah menyalahkan Cameron," batin Jhony.
Sementara Cameron bersama dengan Viore dan Aniza sedang merayakan rencana mereka yang sudah berjalan dengan lancar hanya dalam satu malam, setelah keluar dari keluarga Milithen Cameron berpindah ke apartemen.
"Selamat untukmu, sayang. kau telah berhasil mendapatkan apa yang kau mau," ucap Aniza yang bersulang dengan sahabatnya itu.
"Dan kau juga berhasil membalas dendam terhadap keluarga gila itu," lanjut Viore dengan tertawa gembira.
"Ini semua juga dengan bantuanmu, oleh sebab itu kita berhasil hanya dalam satu malam saja. kita bisa mendapatkan seluruh hartanya dan aku bisa keluar dari rumah itu dengan mengunakan alasan perselingkuhannya," kata Cameron yang bersulang dengan dua sahabatnya itu.
"Mari kita rayakan! semoga saja untuk seterusnya penceraian mu berhasil dan tanpa hambatan apapun," ujar Viore.
"Cameron, kapan kau akan menemui pengacara itu?" tanya Viore.
"Nanti siang aku akan ke sana," jawab Cameron dengan senyum bahagia di wajahnya karena berhasil membalas dendam.
"Hahahaahah..." suara tawa mereka bertiga yang sedang saling bersulang dengan gembira.
Law Group California.
Di siang itu Harger sedang membaca kasus pembunuhan yang dia tangani, sebuah misteri seorang pengusaha yang tewas dan masih belum terpecahkan. tidak lama kemudian Harger menerima panggilan dari Ricardo yang adalah suami dari Aniza.
"Harger, siang ini Cameron Victoria akan menemuimu, sekarang istriku sedang bersamanya," ujar Ricardo yang berada di seberang sana.
"Aku akan menunggu kedatangan dia," jawab Harger dengan senyum.
__ADS_1
"Baiklah, jangan menyinggungnya karena dia sedang terluka, wanita yang baru berpisah dengan suaminya perasaannya pasti sedang terluka."
"Kau tenang saja!" jawab Harger yang memutuskan panggilannya.
"Terluka? apa kau mencintainya, Cameron Victoria?" ucap Harger yang sedang duduk bersandar.
Jari pengacara itu sedang mengetik laptopnya dan muncul foto suami dari mantan kekasihnya itu, ia menatap foto itu dengan tatapan tajam.
"Jhony Milithen, kau adalah pria yang paling bodoh dan brengs*k, bisa menikahi wanita secantik dan sehebat dia tapi kau sia-siakan," ucap Harger yang sedang menatap foto itu.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun yang merebut dia dariku," gumam Harger.
Di sisi lain Cameron telah bersiap untuk menuju ke kantor pengacara.
"Aniza, bayaran berapa yang di minta pengacara Cardionz?" tanya Cameron yang sedang merapikan pakaiannya.
"Dia tidak menyebutnya, biasa kliennya harus membayar 3 miliar dollar,"jawab Aniza.
"Dengan harta yang ku dapatkan 3 miliar dollar tidak masalah, asalkan aku bisa bercerai dengan pria itu. aku tidak mau lagi ada sangkut paut dengan keluarga itu," jawab Cameron.
"Kalau bayarannya tidak kurang dari permintaannya maka kau jangan khawatir, pengacara Cardionz pasti akan membantumu," kata Viore yang sedang meneguk minumannya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa nanti ya!" ucap Cameron yang ingin melangkah pergi.
"Hei, sebentar!" teriak Aniza.
"Ada apa?"
"Ambil kunci ku! gunakan saja mobilku!" jawab Aniza yang melempar kuncinya ke arah Cameron.
"Terima kasih," ucap Cameron yang kemudian melangkah pergi.
__ADS_1