Gairah Pengacara Dingin Terhadap Mantan

Gairah Pengacara Dingin Terhadap Mantan
Tewasnya Anggota Mafia


__ADS_3

Carlos Jose yang mendapatkan siksaan dari Harger membuatnya hampir tewas dan kemudian tidak sadarkan diri. sementara anak buahnya itu harus dilarikan ke rumah sakit akibat patah tulang belakang.


Kepala polisi lalu berkumpul dengan anak buahnya dan juga Harger dalam kantornya. ia marah karena tahanannya di pukul sehingga kritis.


"Harger Cardionz, apa kau bisa menjaga sikap dan emosimu?"


"Kalau saja berhadapan dengan seorang penjahat harus dengan cara sabar mau sampai kapan baru bisa selesaikan masalah ini? Carlos berada di dalam penjaramu, akan tetapi kalian semua tidak menyelidiki di mana sarang anak buahnya, dan biarkan begitu saja. jadi, untuk apa kalian memiliki pangkat, pistol dan borgol kalau kalian tidak melakukan sesuatu? apakah negara memberimu gaji buta?" ketus Harger dengan kesal.


"Harger Cardionz, apa kau bisa jangan bicara sembarangan?"


"Dirimu adalah kepala polisi di sini, menangkap penjahat adalah bagian tugasmu, bos mafia sudah ditangan kalian, tapi kalian sama sekali tidak berupaya mengumpan anak buahnya keluar. dan hanya duduk seharian di dalam kantor sambil menunggu persidangan. walau dia dijatuhkan hukuman bukan berarti dia akan mengatakan di mana sarangnya. dan di saat itu bukankah sama saja masih ada mafia lainnya yang merajalela di luar," ucap Harger.


"Kenapa kalian semua diam saja? aku adalah pengacara, aku yang menangkap dia, dan anak buahnya juga mengincarku dan memasang bom waktu di mobilku. saat itu kalian ada di mana? nyawaku dalam bahaya hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk melindungi nyawaku. karena kalian tidak bisa ku harapkan," ujar Harger yang merasa kecewa dengan kinerja para polisi itu.


"Harger Cardionz, kami juga sedang bekerja dan bukan hanya sekadar duduk di dalam kantor," ujar kepala polisi itu.


"Yang harus kamu kerjakan adalah tangkap para mafia itu dan bukan hanya omong kosong saja dan makan gaji buta," ketus Harger yang melangkah pergi.


Para polisi hanya bisa terdiam saat mendengar setiap ucapan pengacara itu, mereka merasa malu karena gagal dalam bertugas.


"Cepat bersiap! kita akan bertindak malam ini dan tangkap mereka semua!" perintahnya dengan tegas.


"Siap," jawab mereka dengan serentak.


Para polisi berangkat menuju ke alamat yang diberikan oleh anak buah Carlos. sarang mafia yang selama ini adalah tempat mereka bersembunyi.


Setelah satu jam kemudian mereka tiba ke sebuah bangunan lama dan sepi tanpa ada siapa pun di sana. mereka datang dengan senyap tanpa menyalakan bunyi sirene, setelah berhenti mereka langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah bangunan itu. di sisi lain terdapat seorang pria yang mengunakan sniper sambil menunggu kesempatan untuk menembak sasarannya. pria itu berada didepan bangunan yang gelap dan tidak bisa terlihat.


"Ingin menangkap mereka? jangan berharap," batin pria itu.

__ADS_1


Para polisi berlari menaiki anak tangga sambil memegang pistol mereka. saat tiba ke lantai dua mereka melangkah dengan perlahan untuk mencari keberadaan sasaran mereka. kemudian mereka menghentikan langkahnya saat mendengar suara dari beberapa orang dari salah satu kamar.


Kepala polisi memberi kode pada anak buahnya untuk maju.


"Tidak tahu bagaimana dengan dia, kenapa sampai sekarang masih belum pulang? apakah dia berhasil membunuh pengacara itu?" ucap salah satu anggota mafia.


"Kalau saja gagal dia pasti akan mati."


"Mari kita isi peluru pistol kita! kita akan bertindak saatnya tiba!"


"Serang!" perintah kepala polisi dengan suara rendah.


Semua anak buahnya maju dan menerobos pintu kamar yang tertutup dan tanpa dikunci itu.


Brak..


"Jangan bergerak!" teriak mereka yang sedang menodong senjata ke arah para mafia itu.


Para mafia dikejutkan dengan kehadiran sejumlah polisi yang di sana.


"Hebat sekali, kalian adalah anak buah Carlos Jose? semua berkumpul di sini," bentak kepala polisi yang menghampiri mereka.


"Kenapa kalian bisa ada di sini?"tanya salah satu mereka dengan nada tinggi dan tidak berkutik.


"Kalau ini harus berterima kasih kepada temanmu itu, dia yang memberitahu sehingga kami tahu kalian ada di mana," jawab salah satu anggota polisi yang mengeluarkan borgol.


"Borgol mereka!" perintah kepala polisinya.


"Siap," jawab anak buahnya dengan serentak.

__ADS_1


Para mafia itu dengan mudahnya jatuh ke tangan para polisi tanpa perlawanan, mereka mendapat serangan tiba-tiba sehingga tidak sempat untuk membalas. sejumlah delapan orang yang ditangkap malam itu juga. setelah itumereka dibawa ke mobil tahanan yang sudah berparkir didepan bangunan itu.


"Cepat...masuk!"bentak salah anggota polisi.


"Kalian pasti ingin cepat bertemu dengan bos kalian, kan."


Mereka ditarik dengan kasar dan kemudian saat naik ke mobil mereka juga didorong oleh para polisi itu


"Bagaimana ditempat lain, apakah masih ada ?" tanya kepala polisi pada salah satu anak buahnya.


"Tidak ada, Pak."


"Mari kita pergi!" titah kepala polisi yang kemudian masuk ke mobil lain.


Sementara pria yang berada diseberang itu menunggu kesempatan untuk menembak.


"Giliranku untuk beraksi," gumamnya yang sedang mencari sasaran tepat untuk ditembak.


"Show Time," ucapnya dengan tersenyum dan melepaskan tembakan ke tangki minyak mobil tahanan.


Dor...


Duar...duar...duar...duar...duar...duar.


Suara ledakan yang besar mobil tahanan.


Ledakan tersebut membuat para polisi langsung bertiarap untuk mengelak dari ledakan tersebut. sementara anggota mafia yang baru ditangkap oleh mereka harus menjadi korban ledakan.


"Kurang ajar, kami baru menangkap mereka dan kini malah dibunuh," ketus kepala polisi.

__ADS_1


__ADS_2