Gairah Pengacara Dingin Terhadap Mantan

Gairah Pengacara Dingin Terhadap Mantan
Cameron Berhadapan Dengan Lonela


__ADS_3

"Jhony, lain kali jangan melakukan hal yang sama lagi!" pinta Rionez dengan tegas.


"Jhony, apa kamu tahu nomor handphone wanita itu?" tanya Cameron.


"Untuk apa nomor handphonenya?" tanya Jhony dengan heran


"Sekali-sekali aku ingin menghubungi dia," jawab Cameron.


"Untuk apa kau menghubungi dia?" tanya Lonela dengan kesal.


"Aku hanya ingin memastikan apakah dia hamil atau tidak? jika saja dia hamil aku ingin membawanya pulang tinggal bersama kita," jawab Cameron dengan berpura-pura.


"Apa? membawanya pulang tinggal bersama kita?" tanya Jhony dan Lonela dengan serentak


"Cameron, apakah kamu sengaja ingin menyakiti Lonela?" ketus Rionez.


"Mama, jangan salah paham denganku! maksudku adalah jika wanita itu hamil bukankah kita harus memberi perhatian padanya, dalam kandungannya adalah anak Jhony tentu saja kita harus membawanya pulang, kita bisa merawatnya sehingga dia melahirkan," jelas Cameron dengan sengaja.


"Apa kau gila ya? apa kau sadar dengan ucapanmu?" bentak Lonela dengan nada tinggi


"Lonela, kau harus berpikir demi mama dan suami kita, jika wanita itu hamil Jhony wajib menikahinya, tidak mungkin kita membiarkan dia tinggal di luar, andaikan dia gugurkan anak itu, siapa yang rugi? kita juga yang rugi. karena kita membutuhkan pewaris untuk keluarga kita," kata Cameron.


"Betul kata Cameron, mama setuju," ucap Rionez.


"Cemeron, Ma, tidak seperti yang kalian katakan, aku dan wanita itu tidak seperti yang kalian bayangkan. kami tidak melakukannya sampai tuntas," jelas Jhony yang keceplosan.


"Tidak sampai tuntas? apa maksudmu?" tanya Cameron dengan pura-pura.


"A-aku..."


"Ada apa, Jhony?" tanya Cameron.


"Kami tidak melakukannya sampai tuntas, jadi tidak mungkin dia bisa hamil," jelas Jhony.


"Tapi kau tetap sudah melakukan dengan jal*ng," bentak Lonela dengan kesal dan mendorong tubuh pria itu.


"Cukup, Lonela!" bentak Jhony dengan nada tinggi.


Karena merasa kesal Jhony pun melangkah keluar dari rumah itu.


"Kembali! aku belum habis bicara denganmu," teriak Lonela yang ikuti langkah suaminya.

__ADS_1


Prak...


Bantingan pintu yang kuat di lakukan oleh Jhony yang mengangkat kaki dari rumah.


"Dia pasti pergi mencari wanita itu," bentak Lonela dengan kesal.


"Lonela, jangan cemas! seliar apapun suami kita dia pasti akan pulang lagi," kata Cameron dengan sengaja.


"Diam! aku bukan bicara denganmu, kau tidak layak bersuara di hadapanku!" bentak Lonela yang menghampiri Cameron.


"Cameron, jangan selalu menyakiti Lonela! dia sedang hamil tidak baik untuk kandunganya, apa kamu tahu seberapa penting Lonela bagi keluarga ini? tidak seperti dirimu yang seperti ayam betina yang mandul dan tidak bisa bertelur," bentak Rionez dengan kasar.


"Ma, jangan marah! kalau aku adalah ayam betina mandul, bagaimana dengan putramu yang gagal menghamiliku? masalah bukan padaku. tapi ukurannya sangat kecil bagiku sehingga dia tidak mampu membuatku hamil," jawab Cameon dengan sengaja.


"Cameron, apa yang kau katakan?" tanya Rionez dengan nada tinggi.


"Mama, jangan salahkan aku tidak bisa memberikan keturunan, dokter sudah mengatakan bahwa aku tidak bermasalah. mungkin saja yang bermasalah itu adalah putramu sendiri," kata Cameron yang melangkah menuju ke anak tangga.


"Berdiri di sana! jangan menghina putraku!" bentak Rionez pada menantu pertamanya itu, akan tetapi wanita itu mengabaikan sang mertuanya dan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.


"Ma, lihatlah dia! sudah gagal memberikan keturunan tapi masih saja berani melawanmu, dia semakin kurang ajar saja," kata Lonela yang sengaja menjadi batu api.


"Tapi Jhony begitu memihak padanya, sehingga Jhony sering mengabaikan ku," kata Lonela.


"Jangan khawatir! Lonela, kau lebih penting dari si mandul itu. aku yakin Jhony pasti akan memilihmu dari pada dia," bujuk Rionez yang berusaha menenangkan menantunya itu.


"Dengan adanya bantuan mama, aku merasa lega,"jawab Lonela dengan senyum.


"Kau adalah harapan keluarga kami, berilah kami beberapa keturunan, dan kau adalah menantu tertua di sini," kata Rionez yang hanya berpura-pura memasang wajah senyum di depan menantunya itu.


"Tenang saja, Ma. aku pasti bisa," jawab Lonela dengan yakin.


Saat mereka sedang berbicara Cameron yang masih berdiri di tangga telah mendengar semuanya.


"Hm...ingin mengusirku? jangan berharap," ketus Cameron dalam hati.


Cameron lalu melangkah menuju ke kamarnya, saat masuk ke dalam kamar Cameron mengeluarkan hanphonenya dan menghubungi seseorang di sana.


"Hallo, sahabatku. apakah ingin aku beraksi?"


"Viore, malam ini pria itu pasti pergi ke club malam, ini adalah kesempatan yang baik. kau tahu apa yang harus kau lakukan?"

__ADS_1


"Tenang saja! malam ini kau jangan tidur jika ingin melihat pertunjukan," jawab Viore yang di seberang sana.


"Aku menunggu kepulangan kalian, sahabatku," jawab Cameron dengan senyum dan tidak lama kemudian dia memutuskan panggilannya.


Sesaat kemudian ia melangkah ke kamar mandi, tidak lama kemudian Lonela masuk ke dalam kamar itu. ia melihat foto pernikahan Jhony dan Cameron yang di gantung di atas tempat tidur mereka, ia merasa cemburu dan mengepal tangannya dengan penuh kebencian.


"Kamar ini juga lebih besar dari kamarku, suatu saat aku akan menguasai kamar ini, lihat saja nanti!" ketus Lonela.


Lonela yang mendengar suara air dari kamar mandi ia pun melangkah ke sana.


Tanpa mengetuk pintu Lonela membuka pintu kamar mandi itu.


"Untuk apa kau ke kamarku?" tanya Cameron yang duduk di pinggir bathub karena sedang mengisi air untuk mandi.


"Jal*ng sepertimu walau mandi juga tetap busuk," ketus Lonela dengan menghina


Cameron mematikan kran air karena sudah penuh, lalu ia berdiri dan melangkah menghampiri Lonela yang sedang berdiri di pintu.


"Apa kau bisa mengulangi perkataanmu tadi?" tanya Cemeron dengan senyum.


"Jal*ng sepertimu walau mandi juga tetap busuk," jawab Lonela yang mengulangi ucapannya.


"Kau benar, sehari menjadi jal*ng maka selamanya adalah jal*ng dan jal*ng itu adalah dirimu yang tidak tahu malu, dan seperti pelac*r," jawab Cameron yang berbisik di telinga Lonela.


"Kurang ajar," bentak Lonela yang ingin menampar wajah Cameron.


Cameron langsung menahan tangan wanita itu dan membalas menamparnya.


Plak...


Tamparan keras dari Cameron yang mengenai wajah Lonela.


"Aaarrghh...," jeritan Lonela yang kesakitan.


"Kau berani menamparku? apa kau sudah lupa aku sedang hamil anak Jhony," bentak Lonela yang sedang memegang wajahnya.


"Kenapa memangnya kalau kau hamil anak dia? apa aku harus bersujud padamu, wahai pelac*r murahan," ketus Cameron dengan melangkah maju mendekati wanita itu.


"Kau berani menyentuhku, aku yakin Jhony pasti akan marah besar, dan mama juga akan membelaku," bentak Lonela sambil memundurkan langkahnya.


"Tidak perlu kau mengunakan nama mereka untuk mengancamku, aku bukan saja akan menamparmu, tapi aku akan melakukan yang lebih hebat dari ini,"kecam Cameron yang menarik rambut Lonela dan melangkah mendekati bathub. Cameron langsung menekan kepala Lonela ke dalam air selama beberapa saat.

__ADS_1


__ADS_2