
Lonela yang mendapatkan dokumen palsu langsung meninggalkan hotel sambil membawa kopernya.
"Sia.lan, aku mengira bisa mendapatkan harta keluarga itu dan menikmati hidupku dengan baik, ternyata aku gagal. aku sudah dijebak olehnya," ketus Lonela dengan nada kecil.
Saat dirinya melangkah keluar dari hotel dia di tahan oleh beberapa orang pria yang mengenakan jas hitam.
"Siapa kalian?" tanya Lonela yang merasa cemas.
Tidak lama kemudian seorang pria turun dan mobilnya dan menghampiri Lonela yang sedang dihadang oleh beberapa pria itu.
"Lonela, kau ingin pergi? kau sangat hebat sekali, menikmati hidup mewah sejak pergi dari rumah. dan tinggal di hotel mewah ini," ucap pria itu yang tak lain adalah Jhony.
Lonela merasa sangat cemas sehingga gemetar di seluruh tubuhnya, karena niatnya yang sebenarnya telah terbongkar.
"Untuk apa kau ke sini? aku tidak ingin lagi kembali ke sana," ketus Lonela.
"Memang siapa yang menyuruhmu atau mengharapkanmu kembali ke rumahku? aku tidak berharap sama sekali," jawab Jhony.
"Bawa dia pergi!" perintah Jhon pada anak buahnya.
"Apa yang kau ingin lakukan? jangan menyentuhku!" bentak Lonela yang meronta karena ditarik oleh mereka.
Lonela dibawa mereka masuk ke dalam mobil dengan secara paksa.
"Lepaskan aku! ini adalah penculikan, aku bisa melapor kalian ini adalah penculikan," teriak Lonela yang duduk di dalam mobil dan di tahan oleh pria itu.
Setelah beberapa menit kemudian Jhony berhenti di sebuah bangunan yang sepi dan terbengkalai. tempat itu sangat kotor dan berhabuk di mana-mana. Lonela ditarik oleh mereka dengan secara paksa dan melangkah masuk ke sana. Jhony membawa seutas tali dengan berniat ingin mengikat wanita itu.
"Lepaskan aku! lepaskan aku!"teriak Lonela yang sedang ketakutan melihat tempat yang sangat menyeramkan itu.
"ikat dia!" perintah Jhony yang melemparkan tali itu ke anggotanya.
"Baik, Tuan,"jawab mereka yang mendorong Lonela ke sebuah kursi lama dan mengikat tali dengan mengelilingi ikatan di tubuhnya.
"Jhony, apa yang kau lakukan? kita adalah suami istri. jangan menyakitiku. apa kau lupa aku mengandung anakmu?" teriak Lonela yang ketakutan sambil menangis.
"Suami istri? apa tidak lucu kau mengatakan seperti itu? melarikan dokumen harta warisanku dan kini kau mengatakan kita adalah suami istri," bentak Jhony dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Tidak...kau bohong,. itu adalah dokuman palsu," jawab Lonela.
Jhony yang merasa kesal lalu melayangkan tamparan mengenai wajah istri ke duanya itu.
Plak...
"Aarrgghhh..." jeritan Lonela yang kesakitan pada wajah kirinya.
"Melarikan dokumenku dan sekarang kau mengatakan adalah dokumen palsu, kurang ajar!" bentak Jhony yang lagi-lagi melayangkan tamparannya.
Plak...
"Aarrggh...." pekik Lonela yang kesakitan diwajah kanannya.
"Kau menghina papaku memberikan dokumen palsu," bentak Jhony yang sangking kesalnya dan melayangkan tamparannya lagi.
Plak..
"Aarrghhh....,"
"Aku tidak membohongimu! itu memang palsu, apa kau selama ini hanya berpura-pura kaya saja?" ketus Lonela dengan menghina.
Plak...
"Aarrgghh...." jeritan Lonela yang wajahnya merah dan membengkak.
"Jangan menamparku! aku mohon lepaskan aku, memandang kita adalah suami istri," tangisan Lonela.
"Kau masih saja tidak tahu malu, berani sekali kau mengatakan kita adalah suami istri."
"Jangan hanya menyalahkan ku saja! bagaimana denganmu? di saat kita telah menikah kau menganggap aku apa? begitu cepat kau berpaling ke Cameron dan kemudian bersenang-senang dengan wanita lain di saat aku sakit. dan lebih parahnya kau membawa wanita itu pulang. wanita itu juga adalah teman dari Cameron. bukankah kau juga bajing*n," ketus Lonela dengan nada tinggi.
"Bagaimana denganmu? kau mendekatiku setelah kau hamil, bukankah kau juga sama? aku salah besar karena tertarik padamu di saat itu. kau mengodaku dan kemudian membohongiku demi ingin menjadi menantu keluarga kami. jadi ini salah siapa?" bentak Jhony dengan nada tinggi.
"Jhony, aku tidak berbohong padamu. dokumen itu memang palsu. pengacara Ronald yang memeriksanya. dia tidak mungkin bisa salah," jelas Lonela yang berusaha menyakinkan suaminya itu.
"Hm...kau dan dia sama-sama tidak tahu malu. apa kau mengira aku tidak tahu jika kalian bersama semalam?"
__ADS_1
"Ti-tidak seperti itu."
"Manager hotel adalah temanku, pukul berapa kau masuk ke hotel itu dan bermalam dengan siapa, mana mungkin aku tidak tahu," ketus Jhony.
"Kau....," ucap Lonela yang kehabisan kata-kata.
"Mana dokumen itu?"tanya Jhony dengan nada kesal.
"Sudah ku robek semuanya saat aku mendapati semua itu adalah palsu," jawab Lonela.
"Apa kau mengira aku masih bisa percaya padamu? aku bukan anak kecil, Lonela. yang bisa kau bohongi," bentak Jhony.
"Percaya atau tidak terserah kamu, kau bisa selidiki lewat pengacaramu," jawab Lonela dengan nada kesal.
"Mari kita tinggalkan dia di sini! biar dia mencari cara untuk keluar dari sini! jangan sampai aku ada bukti kau pelakunya. jika tidak, kau akan mati dengan cara tersiksa," perintah Jhony pada anggotanya dan kemudian melangkah pergi.
"Jhony Milithen...Jhony Milithen..., lepaskan aku...lepaskan aku...."teriak Lonela dengan nada tinggi.
"Jangan tinggalkan aku di sini! aku tidak berbohong padamu, kau sama sekali tidak memiliki harta," teriak Lonela dengan nada tinggi.
Wanita itu melihat sekelilingnya yang berantakan, kotor dan juga gelap tanpa ada lampu di sana.
Bangunan itu adalah tempat yang sudah terbiar dan juga jauh dari kota, Lonela yang melihat tempat itu merasa ketakutan dan juga merasa cemas. ia menangis sambil berteriak meminta tolong
"Tolong....tolong....tolong...," teriaknya dengan sekuat tenaga.
Teriakan Lonela tidak bisa didengar oleh siapa pun, tempat yang jauh dan tanpa ada orang di sana membuatnya sulit untuk melepaskan diri.
Setelah dua hari kemudian persidangan di mulai, gugatan cerai telah di setujui pihak Jhony Milithen, tanpa menolak dia menandatangani surat perceraian dengan istrinya yang telah dia nikahi selama tiga tahun.
"Cameron, aku berharap kita masih bisa saling menghubungi, jika ada yang perlu aku bantu, hubungi saja aku," kata Jhony yang ingin bersalaman dengan istrinya.
"Untuk apa saling menghubungi? aku sudah tidak butuh dirimu, dari dulu kau juga bukan seorang suami yang baik. barang yang rusak jangan disimpan lagi, lebih baik dibuang saja," ketus Cameron yang menolak bersalaman dengan mantan suaminya itu.
"Nona Victoria, sudah saatnya kita pergi!" ajak Harger yang menghampiri Cameron.
"Cameron, kita masih bisa berteman," ujar Jhony yang ingin menghampiri Cameron akan tetapi di hadang oleh Harger.
__ADS_1
"Tuan Milithen, kalau Anda masih menganggu kehidupan klien saya, saya bisa menuntut Anda, apakah Anda ingin bertemu dengan saya di pengadilan untuk ke dua kalinya?" kecam Harger dengan tegas.