
"Tidak sia-sia aku menunggumu selama sepuluh tahun," ucap Harger yang mencium bibir Cameron.
Harger mencium kekasihnya selama beberapa menit dan kemudian melepaskan ciumannya.
"Mari kita pergi melihat tontonan menarik!" ajak Harger.
"Tontonan menarik?"
"Iya, pasangan murahan itu akan segera tamat," jawab Harger yang mengecup dahi Cameron.
"Apa yang kamu rencanakan?"
"Hancurkan keluarga Milithen, untuk membalas atas penghinaan mereka padamu," jawab Harger.
Di sisi lain Jhony sedang menyetir mobilnya dengan kecepatan yang tinggi menuju ke tempat yang di mana Lonela sedang di ikat. pria itu dalam keadaan emosi sehingga melajukan mobilnya. raut wajah kesal terlihat sangat jelas.
"Lonela Vioca, lihat saja nanti aku tidak akan diam saja. aku akan memberimu pelajaran yang paling kejam," ketus Jhony dengan kesal.
Setelah setengah jam kemudian Jhony tiba di depan bangunan kosong tempat penahanan istri ke duanya. tempat itu di jaga oleh bawahannya agar wanita itu tidak bisa kabur.
Saat keluar dari mobil ia melangkah cepat masuk ke dalam dengan penuh emosi.
"Lonela Vioca, wanita bajing*n," bentak Jhony dengan nada kesal dan menampar wajah wanita itu yang masih terikat.
Plak...
"Aarrghhh...." pekik Lonela.
"Kurang ajar, kau masih berani tidak ingin mengaku," bentak Jhony yang menampar wajah wanita itu lagi
"Aarrghhh...." pekik Lonela yang merasa kesakitan.
"Hentikan! ada apa denganmu?" teriak Lonela dengan sambil menangis.
"Ada apa denganku? katakan padaku di mana uang itu sekarang?"tanya Jhony dengan nada keras.
"Uang apa yang kau katakan?"
"Masih saja kau berpura-pura, kau telah menjual semua asetku, wanita jal*ng. serahkan uangnya padaku sekarang juga," bentak Jhony dengan nada tinggi.
"Apa kau gila ya, asetmu di jual apa hubungannya denganku," bentak Lonela dengan kesal.
Plak...plak...
__ADS_1
Tamparan yang dilakukan oleh Jhony mengenai wajah Lonela.
"Aarrghh...."
"Kau masih saja berpura-pura, apa kau ingin mati?" bentak Jhony yang menjambak rambut wanita itu.
"Aku memang tidak menjual harta mu, kau bisa selidiki," ucap Lonela dengan menahan sakit.
"Aku sudah selidiki mengenai masalah ini, dan nama penjualnya Lonela Vioca," jawab Jhony dengan nada kesal.
"Aarrghhh...." jeritan Lonela yang merasa kesakitan.
"Tidak mungkin, aku tidak melakukannya sama sekali, aku hanya mendapatkan dokumen palsumu saja, kenapa kau tidak mencari Ronald? dia adalah pengacara yang memeriksa dokumen itu."
"Tidak mungkin? kau masih saja mencari pembelaan, kau dan pengacara itu sudah sepakat. mana mungkin aku percaya padamu," bentak Jhony.
"Kau hanya mencari alasan untuk menjebakku, kan? dari awal kau sengaja menyimpan dokumen palsu itu untuk menjebakku. semua ini adalah bagian dari rencanamu," ketus Lonela.
"Wanita jal*ng," bentak Jhony yang menampar istrinya itu.
Plak.
"Aarrghh..." jeritan Lonela yang menahan sakit.
"Jangan mencari alasan dan menyalahkan orang lain, dia bukan wanita yang serakah uang. tidak seperti dirimu," ketus Jhony dengan nada kesal.
"Keluarkan atau tidak jangan salahkan aku kejam padamu," kecam Jhon.
"Tidak ada, aku benar-benar tidak ada, sekali pun kau membunuhku tetap tidak ada," bentak Lonela yang sambil menangis
"Siksa dia sampai dia mengaku!" perintah Jhony dengan tegas.
"Baik," jawab dua anggotanya dengan serentak.
"Tampar dia!" perintah Jhony.
"Jangan! aku mohon padamu! aku sedang hamil!" pinta Lonela yang sedang menangis.
Plak...
"Aarrghh..."
Plak...
__ADS_1
"Aarrghh..."
Plak...
"Aarrghh..."
Plak...
"Aarrghh..."
Dua anak buah Jhony bergantian menampar Lonela tanpa berhenti. wajah wanita itu bengkak serta mulutnya juga mengeluarkan darah.
"Aku mohon jangan!" tangisan Lonela yang kesakitan.
Plak...
"Aarrghh..."
Plak...
"Aarrghh..."
"Jhony, tolong hentikan!"
"Tolong aku!"
"Di mana uangnya?" teriak Jhony sangking kesalnya.
"Aku tidak mengambilnya, aarrrghhhhh,"teriak Lonela sambil menangis.
"Bagus sekali, kau masih saja tidak mau mengakuinya," ketus Jhony.
"Lanjutkan!" perintah Jhony pada anak buahnya.
Saat anak buah Jhony melanjutkan tamparannya terhadap Lonela, dan di saat yang sama datang sekelompok polisi yang menerobos ke dalam bangunan itu.
"Jangan bergerak!" teriak sekelompok polisi yang sedang menodong pistol ke arah Jhony dan lainnya.
Jhony yang melihat sekelompok polisi itu merasa terkejut, berada di tempat yang jauh bisa diketahui oleh mereka. kini apa yang dia lakukan telah melanggar undang-undang dan harus berhadapan dengan hukum.
"Tuan Jhony Milithen, ada yang melapor bahwa Anda telah melakukan penculikan dan melakukan kekerasan, harap kerja samanya," kata polisi itu.
"Tahan mereka!" perintah kepala polisi sambil menyimpan pistolnya.
__ADS_1