
"Ups tapi tunggu, dia sebenarnya udah tahu apa belum sih kalau aku nikah sama Arron? Ah, lebih baik kupastikan saja terlebih dulu. Lagi pula bukankah ini saat yang bagus untuk menunjukkan posisiku yang sebenarnya?" batin Queen.
"Apa kabar Kak Queen? Sepertinya, sekarang Kak Queen terlihat sangat bahagia dan juga semakin cantik saja."
"Oh tentu saja aku sangat bahagia, Kiara. Karena sekarang, aku sudah menikah dan punya seorang putra yang sangat tampan, lihat ini," pamer Queen pada Kiara sambil memperlihatkan ponselnya.
Tak hanya memperlihatkan ponsel miliknya, wanita itu pun memainkan jemarinya seolah sedang memperlihatkan cincin pernikahannya dengan Arron. Saat ini, Queen terlihat semakin sombong, karena bertemu dengan wanita yang selama ini menjadi rivalnya.
"Oh iya, tampan sekali putramu. Memangnya, Kak Queen menikah dengan siapa?" tanya Kiara, berpura-pura bodoh di depan Queen agar wanita itu tak curiga padanya.
"Astaga, jadi kamu nggak tahu aku nikah sama siapa? Mending kamu siapin mental dulu ya Kiara, kamu pasti kaget kalau denger siapa suamiku sekarang. Kamu kenal kok sama dia."
"Oh ya, memangnya siapa, Kak?" tanya Kiara dengan mata terbelalak.
"Dengarkan aku baik-baik ya, Kiara. Sekarang, aku sudah menikah dengan Arron. Ehem, ehem, kuulangi sekali lagi ya, aku menikah dengan Arron Hendrawijaya, dia suamiku sekarang!" jelas Queen dengan nada bicara angkuh.
Kiara pun pura-pura terkejut dengan perkataan Queen, dia tampak membelalakkan kembali matanya seraya menutup mulutnya.
"Oh serius, jadi Kak Queen udah nikah sama Mas Arron?" balas Kiara seraya menautkan kedua alisnya. Padahal, di dalam hatinya, dia ingin tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan ini.
"Ya begitulah, maafkan kami Kiara. Sebenarnya, kami memang saling mencintai." Queen mengelus lengan Kiara, seakan menaruh iba juga mengungkapkan rasa bersalah karena menikahi mantan suaminya.
Sedangkan Kiara, yang saat ini masih pura-pura terkejut, sebenarnya ingin menertawakan tingkah Queen. Akan tetapi, dia menahannya meskipun lelucon ini membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak. Karena kenyataannya, setiap hari suami Queen tidur bersamanya.
Sebenarnya Kiara cukup senang bisa membuat Queen terlihat bodoh, sekaligus geli, dengan tingkah wanita sombong yang saat ini berdiri di depannya. Dulu, Kiara memang pernah menganggap Queen sebagai seorang wanita baik. Akan tetapi, setelah tahu siapa Queen sebenarnya, Kiara begitu muak pada wanita itu yang tak lebih dari sekedar wanita munafik yang sudah menghancurkan rumah tangganya.
"Cih, bagaimana kamu bisa bilang suamimu itu mencintaimu kalau setiap hari dia menghabiskan waktu dan selalu tidur denganku? Dasar angkuh, dia bahkan masih berusaha memperlihatkan kalau pernikahannya itu baik-baik saja di depan wanita selingkuhan suaminya, sungguh ini sebuah lelucon terindah yang pernah kualami," batin Kiara.
__ADS_1
Melihat Kiara yang hanya terdiam, tentunya Queen senang, sekaligus juga merasakan kemenangan. Dia menganggap kalau Kiara, pasti akan terpuruk setelah pertemuan mereka kali ini.
"Kiara, are you okay?"
"Tdak masalah, Kak Queen. Kau tidak perlu cemas dan sungkan. Emh begini, sebenarnya aku sudah melupakan Mas Arron," jawab Kiara sambil tersenyum. Dia lalu balas mengusap lengan Queen, perwujudan rasa iba dan kasihan yang sebenarnya.
"Terima kasih atas pengertianmu, Kiara. Tapi mau bagaimana lagi, aku dan Arron memang saling mencintai satu sama lain dan kami tidak bisa terpisahkan."
"Iya aku mengerti, Kak."
Di saat itulah, Queen kembali teringat pada Arron yang juga ada di hotel tersebut. Tentunya, dia tidak ingin Arron bertemu dengan Kiara. Wanita itu pun bergegas pamit untuk melakukan reservasi.
"Maaf Kiara, aku ada urusan penting. Aku harap, suatu saat kita bisa bertemu lagi. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, terutama tentang rumah tanggaku, kau sekarang tahu kan kami sangat bahagia."
Kiara pun mengangguk, meskipun di dalam hatinya dia sedang menertawakan tingkah wanita bermuka dua itu. Tetapi, sebisa mungkin Kiara tetap ingin menunjukkan kalau dia sedang baik-baik saja, meskipun dia tahu kalau Queen lah yang sudah menghancurkan hidupnya. Tetapi, dia tak mau bertindak gegabah, dan memilih bersikap terlihat bodoh di mata Queen, karena Kiara bukanlah remaja polos yang yang baru saja mengenal siapa Queen yang sebenarnya, seperti dulu.
"Silakan, Kak Queen. Kamu pasti sibuk, aku juga harus bekerja sekarang untuk menemui klienku di Jakarta."
"Oh kalau boleh tahu, memangnya kamu sekarang bekerja di mana, Kiara?"
"Aku bekerja di salah satu perusahaan arsitektur di Surabaya, aku nggak tinggal di Jakarta. Dan hanya datang ke kota ini kalau ada urusan pekerjaan saja," dusta Kiara.
Queen pun menganggungkan kepala seraya tersenyum, merasa begitu bahagia jika ternyata Kiara sekarang tidak tinggal di ibukota, dan kesempatan untuk bertemu dengan Arron tentu semakin kecil.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu," pamit Queen, dan dijawab anggukan kepala oleh Kiara seraya menatap punggung Queen yang saat ini berjalan ke arah resepsionis.
"Kau masih sama seperti dulu Kak Queen, pantas saja Mas Arron tidak pernah jatuh cinta padamu."
__ADS_1
Setelah Queen selesai melakukan reservasi, Kiara pun juga berjalan ke arah resepsionis untuk melakukan hal yang sama, melakukan reservasi di hotel tersebut.
Tak berapa lama, Kiara pun sudah sampai di kamar yang baru saja dipesan olehnya. Ketika dia sedang berdiri melihat pemandangan ibu kota melalui jendela, pintu kamar itu tiba-tiba dibuka seseorang. Mendengar suara pintu itu, reflek Kiara pun membalik tubuhnya dan melihat sosok laki-laki yang saat ini sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Mas, kenapa kamu ngajak aku ke sini terus suruh aku pesen kamar? Maksudnya apa coba? Bukannya kamu juga tahu kalau kamar istrimu ada di sebelah? Kamu salah masuk kamar, Mas."
"Tapi, aku maunya satu kamar sama kamu, Ara," jawab Arron lalu menarik tubuh Kiara ke dalam dekapannya. Menatapnya sejenak, lalu melummat bibir wanita itu, keduanya kini pun saling memaggut.
Arron menaruh tubuh kekasihnya itu di atas ranjang, lalu melucuti pakaian yang dikenakan oleh Kiara, serta mengabaikan begitu saja panggilan telepon yang berulang kali masuk ke ponselnya yang dia yakini panggilan dari Queen, tetapi Arron tak peduli itu. Dia kemudian melepaskan pakaiannya dan mencium bibir Kiara kembali dengan dengan penuh gairah hingga membuat tubuh wanita itu pun bergetar hebat.
Kiara mendessah, tubuhnya menggelinjing hebat bak cacing kepanasan saat sebuah gelombang kenikmatan menghampirinya akibat permainan Arron. Sedangkan Arron, tampak begitu puas melihat Kiara yang menikmati permainannya hingga hanyut dalam gairah yang sama.
Keduanya mengeram bersama, erangan keduanya kembali mengudara saat mereka merasakan pelepasan yang sempurna, dan diakhiri leguhan panjang dari keduanya.
Setelah itu, Arron merebahkan tubuhnya ke samping Kiara. Dia kemudian merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Lalu, berkali-kali dia mengecup puncak kepala Kiara untuk menyampaikan betapa dalam isi hatinya. "I love you," bisiknya seraya memeluk kian erat tubuh wanita itu.
Setelah deru napas mereka kembali stabil dan hasrat yang sudah terpenuhi sudah tuntas, Kiara pun membuka suaranya.
"Mas, aku cemas sama hubungan kita," ujar Kiara pada Arron, tetapi lelaki itu hanya membalas perkataan Kiara dengan mengacak-acak rambut kekasihnya itu, lalu mengangkat dagunya, dan menatap iris hitam dengan sorot mata yang kini terlihat sayu.
"Sebenarnya ada sesuatu yang belum kamu ketahui tentang aku."
"Apa itu, Ara?"
***
Sementara itu di samping kamar mereka, Queen terlihat begitu kesal. "Ke mana kamu sebenarnya Arron? Kenapa tiba-tiba kamu nggak angkat panggilan dari aku? Apa kamu mau ngerjain aku lagi?"
__ADS_1